Advertisement

iklan

Negosiasi Dagang Dan Fed Rate Masih Akan Pengaruhi Harga Emas

290516

Minggu lalu, emas melemah akibat hasil perundingan dagang AS-China yang telah mencapai kesepakatan awal. Minggu ini, perkembangan negosiasi dagang dan kemungkinan Fed Rate Cut akan menjadi katalis.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan XAU/USD berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar hingga akhir minggu lalu (11 Oktober 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Sepanjang minggu lalu, fokus pasar tertuju pada perundingan dagang AS-China dan proses kesepakatan Brexit antara Inggris dan Uni Eropa. Seperti diketahui, hasil positif dari kedua event tersebut telah menyebabkan risk appetite pelaku pasar naik, sehingga safe haven emas dan Yen Jepang pun rontok.

Sempat menguat hingga ke level USD1517 per troy ounce akibat data inflasi AS bulan September yang di bawah ekspektasi, logam mulia kemudian mengalami aksi jual sebelum ditutup pada USD1486.88 per troy ounce. Harga penutupan menandai depresiasi sebesar 1.13% dari harga penutupan minggu sebelumnya.

Sebelum pertemuan delegasi dagang AS-China tanggal 10 Oktober lalu, kedua pihak telah memberi tanda akan dicapainya kesepakatan. Trump bahkan bersedia bertemu langsung dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He yang hadir di Washington.

Sebagai hasil perundingan, telah dicapai kesepakatan "fase pertama": pihak China akan meningkatkan pembelian komoditas pertanian dari AS, serta menyetujui kebijakan kekayaan intelektual dan menunjukkan konsesi terkait jasa keuangan dan mata uang. Di lain pihak, AS menunda kenaikan tarif baru terhadap produk impor dari China yang sedianya akan diberlakukan mulai 15 Oktober. Presiden Trump mengatakan, perjanjian tersebut akan ditandatangani bersama dengan Presiden China Jinping paling cepat bulan depan.

Para pengamat berpendapat, kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa kedua negara raksasa ekonomi sedang berupaya untuk menghindari resesi ekonomi yang bisa terjadi jika konflik dagang berkepanjangan. Dampak tersebut sudah mulai tampak dari merosotnya data manufaktur dan pertumbuhan kedua negara. Bagi Presiden Trump, ia tentu akan berupaya mencari solusi untuk menghindarkan AS dari resesi, terutama menjelang pemilu tahun depan yang akan ia ikuti lagi.

Meski demikian, pelaku pasar masih harus tetap waspada akibat seringnya terjadi kegagalan negosiasi dagang antara AS dan China. Isu negatif yang timbul terkait negosiasi tersebut bisa melambungkan harga emas.

Faktor lain yang akan mempengaruhi harga emas adalah kemungkinan penurunan suku bunga acuan The Fed pada akhir bulan ini, menyusul data inflasi bulan September (CPI dan PPI) yang di bawah ekspektasi. Untuk minggu ini, data dan peristiwa penting dari AS adalah Retail Sales bulan September, indeks Philly Fed Manufacturing, dan pidato beberapa pejabat The Fed.

Dari survei yang dilakukan Kitco.com pada sejumlah trader, pemain Wall Street dan Main Street terbelah. Sekitar 47% pemain Wall Street memperkirakan minggu ini harga emas akan berlanjut bearish, 29% bullish, dan 24% lagi memperkirakan netral atau sideways. Sementara itu, 59% pemain Main Street memperkirakan bullish, 23% bearish, dan 18% netral.

 

Tinjauan Teknikal

Negosiasi Dagang Dan Fed Rate Masih

 

Chart Daily:

Sebagai kelanjutan dari analisa minggu lalu, pergerakan harga XAU/USD pada time frame daily masih berada dalam channel Downtrend pola bullish flag, sekaligus mengkonfirmasi validitas pola tersebut.

Dengan mengacu pada harga rata-rata dua bulan terakhir (EMA 50-day), pergerakan harga dalam jangka pendek masih akan cenderung melanjutkan koreksi bearish. Belum ada tanda-tanda harga akan menembus resistance (batas atas) channel Downtrend yang bisa menjadi indikasi penerusan trend bullish sebelumnya.

Kecenderungan untuk melanjutkan koreksi bearish ini didukung oleh penunjukan indikator trend dan momentum:

  1. Penutupan harga terakhir berada di bawah kurva resistance EMA 50 dan di bawah kurva middle band.
  2. Kurva indikator MACD berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.
  3. Kurva indikator RSI berada di bawah center line (level 50.0).
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna merah yang menunjukkan sentimen bearish.

Support kuat ada pada level 1450 hingga 1437 (sekitar level 76.4% Fibo Retracement), yang merupakan batas bawah channel Downtrend pola bullish flag. Sementara itu, resistance kuat pada level 1520 (sekitar 23.6% Fibo Retracement) hingga 1535.

Level Pivot mingguan: 1492.53

Resistance: 1497.03 (38.2% Fibo Retracement) ; 1519.90 (level 23.6% Fibo Retracement) ; 1535.00 ; 1556.92 ; 1582.49 ; 1614.63 ; 1646.25 ; 1665.45 ; 1681.26 ; 1697.08.

Support: 1473.85 ; 1459.70 (61.8% Fibo Retracement) ; 1450.00 ; 1436.82 (76.4% Fibo Retracement) ; 1424.00 ; 1410.90 ; 1400.00 ; 1383.00 ; 1373.00 ; 1358.00 ; 1348.00 ; 1332.44 ; 1319.75 ; 1309.00 ; 1297.00 ; 1285.15 ; 1275.00 ; 1266.16 ; 1253.28 ; 1242.50 ; 1231.15 ; 1218.45 ; 1211.80 ; 1204.02.

Indikator: Simple moving average (SMA) 200, EMA 50 ; Bollinger Bands (20,2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; RSI (14) ; ADX (14).

Fibonacci Retracement:

  • Titik Swing Low: 1400.37 (harga terendah 1 Agustus 2019).
  • Titik Swing High: 1556.92 (harga tertinggi 4 September 2019).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Edwin Widianto
Sepertinya akan mengalami koreksi samapai ke lvl 1432.56 dan setelah itu dia akan melanjutkan trend sebelumnya. Hehehe. Mudah mudahan sih.