Advertisement

iklan

Panin Bank Naik Kasta Ke BUKU IV, Siapa Berikutnya?

Apa yang membuat BUKU IV begitu istimewa bagi prospek Panin Bank? Berikut adalah uraian lengkap mengenai hal tersebut dan tinjauan lebih lanjut mengenai potensi bank lain.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Sejak 1 Maret 2019, PT. Bank Pan Indonesia Tbk. (kode saham: PNBN) dinyatakan telah resmi naik kelas ke dalam jajaran bank kategori Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) IV, melalui surat penetapan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 6/POJK.03/2016 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank, diperlukan modal inti minimal 30 triliun untuk bisa dinyatakan termasuk ke dalam kelompok bank BUKU IV. Per akhir Desember 2018 lalu, PNBN sudah memenuhi syarat dengan memiliki modal inti sebesar Rp31.69 triliun.

Panin Bank

Dengan bergabungnya PNBN, maka total kini ada 6 bank yang termasuk ke dalam kategori BUKU IV yaitu, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Tbk., PT Bank Mandiri (BMRI) Tbk., PT Bank Central Asia (BBCA) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (BBNI) Tbk., PT Bank CIMB Niaga (BNGA) Tbk., dan PT. Bank Pan Indonesia (PNBN) Tbk.

Dengan total aset PNBN yang mencapai Rp207.2 triliun, maka bank-bank BUKU IV saat ini memiliki total aset sebesar Rp4529 triliun, menguasai 56.13% pangsa pasar industri perbankan. Adapun total aset industri perbankan nasional adalah Rp8068.34 triliun.

Dengan meningkatkan modal inti, sebuah bank dapat dengan lebih leluasa memperluas cakupan bisnisnya, melalui jaringan layanan yang lebih luas dan penyaluran fasilitas pembiayaan yang lebih besar. Dengan masuk kategori BUKU IV, peluang bisnis akan bisa lebih luas. Piter Abdullah yang merupakan Direktur Riset Center of Economy (CORE) mengatakan bahwa, "semakin banyak bank besar, maka peran dan kontribusi bank akan semakin menyebar secara lebih merata." Hal ini membuat persaingan akan semakin baik dan sehat, tidak terkonsentrasi di satu-dua bank saja karena jumlah bank di top category sudah bertambah. Likuiditas bank-bank BUKU IV juga relatif lebih sehat dibandingkan dengan kelompok lainnya.

 

Keterangan Mengenai PNBN

Pada tahun 2018, PNBN membukukan laba bersih sebesar Rp3.11 triliun, lebih tinggi dari tahun 2017 yang hanya Rp2.41 triliun. Dengan share outstanding sebanyak 23.8 miliar lembar, maka laba bersih per saham (EPS) adalah sebesar Rp130.78 per lembar saham.

Seiring dengan rilisnya Annual Report FY2018 di awal tahun 2019 ini, diketahui bahwa modal inti PNBN sudah cukup untuk masuk kategori BUKU IV, dan menyebabkan sahamnya naik dari 1040 hingga ke titik tertinggi di 1670 pada 27 Februari kemarin. Investor memiliki keyakinan yang kuat akan masa depan bank BUKU IV, karena terbukti lebih tahan krisis dan tidak mudah kolaps mengingat modalnya yang kuat.

 

Siapa Berikutnya?

Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi petunjuk mengenai bank lainnya yang juga potensial menjadi bank BUKU IV dalam waktu dekat, yaitu Bank Danamon Indonesia, Tbk (BDMN). Namun secara umum, ada pula beberapa bank lain yang juga berpeluang naik kelas. Berikut masing-masing ulasannya.

  1. BDMN per akhir 2018 memiliki modal inti tier 1 nyaris senilai Rp29 triliun. Diketahui, BDMN memiliki strategi organik untuk meningkatkan modal yaitu dengan terus meningkatkan pertumbuhan kredit, menggenjot pendapatan komisi atau fee based income, melakukan efisiensi, dan menjaga rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) di level yang sehat. Hanya tinggal sedikit lagi bagi BDMN untuk sampai ke titik minimum modal inti dan bisa digolongkan ke dalam BUKU IV.
  2. Lalu ada PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) dengan pertumbuhan organik antara 10-15%, baik dari segi pendapatan maupun laba bersih. Diperkirakan pada tahun 2021, NISP sudah akan bisa masuk kategori BUKU IV. Pada akhir Desember 2018, modal inti (tier 1) perseroan yakni sebesar Rp23.59 triliun. Jika ditambah dengan modal pelengkap (tier 2), maka total modal regulasi NISP mencapai Rp25.04 triliun. Untuk masuk ke BUKU IV atau dengan modal inti di atas Rp30 triliun, NISP setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp5 triliun lebih.
  3. PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk kini telah resmi merger dengan bank asal Jepang, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) dan melahirkan bank baru yang disebut PT Bank BTPN Tbk (BTPN). Peleburan ini meningkatkan modal inti perseroan menjadi Rp25 triliun. Oleh karenanya, tinggal sedikit lagi BTPN dapat masuk ke dalam kategori BUKU IV.
  4. Berikutnya ada Bank Tabungan Negara, Tbk (BBTN) yang mana hingga saat ini memiliki modal inti sekitar Rp22 triliun. Diketahui dalam dua tahun ke depan, BTN berencana menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) atau menerbitkan saham baru (right issue) agar bisa naik kelas masuk ke kategori BUKU IV. Direktur Strategi, Risiko, dan Kepatuhan BTN, Mahelan Prabantarikso mengatakan bahwa pada 2019, BTN akan fokus menggenjot bisnis penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dengan target tumbuh 14% hingga 15%. Perkiraan pertumbuhan laba ditargetkan di kisaran 19%-20%, dan diproyeksi tercapai dengan meningkatkan fee based income, kerja sama dengan produk digital, serta memperbaiki fitur digital.

 

Kesimpulan

Berinvestasi di bank-bank yang termasuk ke dalam BUKU IV memberikan rasa tenang, karena mereka lebih kuat secara permodalan sehingga tidak mudah ambruk di masa-masa sulit. Setelah PNBN, disinyalir ada beberapa bank yang bisa segera masuk ke dalam kategori BUKU IV karena memiliki modal inti hampir mendekati 30 triliun, yaitu BDMN, NISP, BTPN, dan BBTN. Sebelum harga terbang lebih tinggi, saham-saham bank tersebut menarik untuk diperhatikan.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'