Advertisement

iklan

Penggerak Emas Minggu Ini: Trade Deal AS-China, FOMC, Pemilu Inggris

Minggu lalu, emas melemah akibat optimisme perundingan dagang AS-China dan membaiknya data tenaga kerja AS. Minggu ini, trade deal AS-China, FOMC meeting, dan pemilu Inggris akan menjadi katalis.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Analisa mingguan XAU/USD berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar hingga akhir minggu lalu (6 Desember 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Awal pekan lalu, harga emas sempat melonjak hampir 2% akibat ulah Presiden Donald Trump dan memburuknya PMI Manufaktur AS bulan November. Tanpa dasar yang jelas, Presiden Trump pada 2 Desember lalu mengatakan via akun Twitter-nya bahwa ia bakal menerapkan bea masuk impor baja dan aluminium dari Brasil dan Argentina.

Selang beberapa jam kemudian, Trump juga mengancam Prancis yang akan dikenakan tarif hingga 100% untuk produk-produk pertanian termasuk anggur dan keju. Alasannya karena Prancis mengenakan pajak yang tinggi pada Google, Apple, Facebook, dan Amazon. Prancis dan Uni Eropa menyatakan akan membalas kenaikan tarif tersebut. Perang dagang yang semakin meluas mendorong investor untuk mengambil sikap risk aversion dengan masuk ke asset safe haven termasuk emas.

Namun, keadaan berbalik setelah dalam pertemuan NATO di Inggris, Presiden Trump mengatakan bahwa perundingan dagang dengan China berjalan dengan sangat baik. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Trump sebelumnya bahwa kesepakatan dagang dengan China bisa ditunda hingga pemilihan Presiden AS tahun depan.

Harga emas berlanjut melemah signifikan setelah rilis data tenaga kerja dan kepercayaan konsumen AS, sebelum ditutup pada USD1459.63 per troy ounce, melemah 0.28% dibandingkan harga penutupan minggu sebelumnya.

Seperti diberitakan, Non Farm Payrolls AS bulan November melesat hingga 266,000 jobs, tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Data untuk bulan September dan Oktober juga direvisi naik. Selain itu, indeks kepercayaan konsumen UoM yang dirilis setelah NFP juga naik ke 99.2, tertinggi dalam 7 bulan terakhir.

Membaiknya data tenaga kerja dan kepercayaan konsumen tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan perekonomian AS masih kuat, sehingga tidak ada alasan bagi pelaku pasar untuk tidak kembali masuk ke asset berisiko.

Untuk minggu ini, ada tiga faktor yang akan mempengaruhi pergerakan harga emas dan semuanya masih diliputi ketidakpastian, yaitu:

  1. Kesepakatan dagang AS-China tahap pertama.
    Seperti diketahui, perundingan intensif sedang dilakukan oleh kedua pihak. Namun, batas waktu penerapan tarif tanggal 15 Desember masih berlaku, sehingga kedua negara raksasa ekonomi tersebut harus mencapai kesepakatan sebelum deadline. Pihak China telah menyatakan akan menolak meneken kesepakatan jika tarif tidak dihapus.

  2. FOMC meeting.
    Dengan membaiknya data ekonomi AS terutama lapangan pekerjaan, hampir bisa dipastikan The Fed tidak akan memotong suku bunga acuan lagi pada meeting Kamis dini hari mendatang. Namun jika trade deal AS-China masih belum dicapai, akankah The Fed bernada hawkish?

  3. Pemilu di Inggris.
    Seperti diketahui, Partai Konservatif atau yang sering disebut Tory pimpinan Perdana Menteri Boris Johnson unggul dalam survei terakhir. Tetapi akankah Tory benar-benar menang pada Pemilu Kamis mendatang? Jika menang dan meraih suara mayoritas di parlemen, maka hampir pasti proses Brexit akan berjalan mulus, dan kekhawatiran terhadap ketidakpastian global akan berkurang.

Dari survei yang dilakukan Kitco.com pada sejumlah trader, sekitar 27% pemain Wall Street memperkirakan minggu ini harga emas akan bullish, 44% yang lain memperkirakan bearish, dan 31% memperkirakan netral atau sideways. Sementara itu, 61% pemain Main Street memperkirakan bullish, 23% bearish, dan 15% netral.

 

Tinjauan Teknikal

Penggerak Emas Minggu Ini: Trade Deal

Chart Daily:

Gagal menembus level 50% Fibo Retracement, harga kembali bergerak bearish setelah membentuk pola double top yang diikuti oleh bearish engulfing candle. Kecenderungan bearish ini didukung oleh penunjukan indikator trend maupun indikator momentum:

  1. Penutupan harga terakhir berada di bawah kurva middle band Bollinger Bands, dan di bawah kurva resistance EMA 100.
  2. Kurva indikator RSI berada di bawah center line (level 50.0).
  3. Garis histogram indikator ADX berganti warna merah yang menunjukkan sentimen bearish.

Jika ingin konfirmasi, sell setelah kurva indikator MACD berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.

Penutupan harga terakhir berada di sekitar level support 61.8% Fibo Retracement. Support kuat berikutnya masih pada level 1448 (harga terendah 11 November) hingga 1436 (sekitar level 76.4% Fibo Retracement), dan resistance pada level 1478 (sekitar 50% Fibo Retracement).

Level Pivot mingguan: 1465.79

Resistance: 1472.00 ; 1478.33 (50% Fibo Retracement) ; 1497.03 (38.2% Fibo Retracement) ; 1516.00 ; 1535.00 ; 1556.92 ; 1582.49 ; 1614.63 ; 1646.25 ; 1665.45 ; 1681.26 ; 1697.08.

Support: 1448.00 ; 1436.82 (76.4% Fibo Retracement) ; 1424.00 ; 1410.90 ; 1400.00 ; 1383.00 ; 1373.00 ; 1358.00 ; 1348.00 ; 1332.44 ; 1319.75 ; 1309.00 ; 1297.00 ; 1285.15 ; 1275.00 ; 1266.16 ; 1253.28 ; 1242.50 ; 1231.15 ; 1218.45 ; 1211.80 ; 1204.02.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200, EMA 100 ; Bollinger Bands (20,2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; RSI (14) ; ADX (14).

Fibonacci Retracement:

  • Titik Swing Low: 1400.37 (harga terendah 1 Agustus 2019).
  • Titik Swing High: 1556.92 (harga tertinggi 4 September 2019).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.