Advertisement

iklan

Profil Penulis : Buge Satrio

Buge Satrio Lelono memiliki latar belakang pendidikan IT dan mengenal forex sejak tahun 2003 ketika platform Metatrader masih versi 3. Setelah berlatih di akun demo selama beberapa tahun dan mencoba berbagai teknik trading, Buge menekuni forex secara full-time sejak awal 2014. Kini aktif trading mengandalkan pengamatan Price Action, Ichimoku Kinko-hyo, Trading Plan, dan pengendalian risiko tak lebih dari 1 persen.

iklan

iklan

Sejauh ini, belum ada indikasi Dolar AS akan memulai fase konsolidasi dari pelemahan beberapa pekan sebelumnya.
Data tenaga kerja AS tak mampu menopang rebound Dolar. Akibatnya, penurunan menuju level keseimbangan adalah skenario jangka menengah yang tak dapat diabaikan.
Meskipun bias Daily masih positif, Euro kehilangan tenaga dan Pin Bar terbentuk. Antisipasi pasar terhadap rilis data GDP dan NFP AS berisiko menekan Euro.
Dolar berhasil menguat hingga penutupan perdagangan akhir pekan, tapi bias jangka pendek masih negatif. Butuh breakout di atas 107.57 untuk mengubah outlook.
Bias Indeks Dolar masih negatif dan berisiko breakout. Sebaliknya, Daily EUR/USD bertendensi bullish di atas 1.0333.
Indeks Dolar berhasil memperpanjang rebound, namun outlook dalam jangka pendek masih dibayangi risiko bearish.
Menutup candle Weekly di atas 23.6% retracement, Euro dan Pound berpotensi melanjutkan upswing menuju level keseimbangan jangka menengah hingga panjang.
Euro melemah tajam menjelang rilis data inflasi AS yang jadi fokus pasar pekan ini. Namun, outlook daily masih bertendensi bullish.
Menjelang data inflasi AS yang akan dirilis besok, support jangka pendek Indeks Dolar kian terancam oleh terbentuknya pola candlestick Three Black Crows.
Dolar AS terkoreksi tajam setelah rilis data tenaga kerja AS. Di sisi lain, Euro mendapatkan peluang untuk kembali meraih level paritas.
Indikator RSI masih mendukung upswing Indeks Dolar. Sementara itu, Euro rentan bearish dan Pound terlihat lebih netral.
Outlook jangka pendek Dolar cenderung negatif sehingga bisa mengancam breakout level 78.6% dan 100% retracement.
Outlook EUR/USD dalam jangka panjang masih negatif sejauh ini. Namun, bias jangka pendek cenderung positif karena adanya potensi konsolidasi.
Level 23.6% retracement hingga 38.2% retracement adalah area yang masih harus diawasi untuk memperkirakan pergerakan Dolar sementara ini.
Fase koreksi terkonfirmasi setelah candlestick DXY turun di bawah level 23.6 persen retracement. Pola candle Outside Bar turut memperkuat skenario bearish.
Level 232 tidak hanya untuk memantau pergerakan bearish, tapi juga bisa untuk mengantisipasi peluang beli saham GOTO.
Price action Daily menunjukkan bahwa Dolar AS masih akan berisiko menguat. Sebaliknya, Euro dan Gold cenderung berlanjut melemah.
Fase konsolidasi masih valid menjelang publikasi laporan tenaga kerja AS. Untuk mengkonfirmasi penguatan, Indeks Dolar perlu penutupan di atas 23.6 persen retracement.
Meskipun ruang untuk berkonsolidasi masih tersedia, reli Indeks Dolar berikutnya perlu diantisipasi dengan seksama.
Meski suram, outlook emas sementara ini belum benar-benar negatif dalam skala long term. Hal ini karena harga masih bertahan di atas 50%-61.8% retracement.
Perspektif long-term EUR/USD kian suram, tapi waspadai juga oversold ekstrem pada indikator RSI Monthly.
Level 0.9945/54 menjadi fokus hingga pengumuman kebijakan dan konferensi pers The Fed dini hari besok. Sejauh ini, Euro terpantau bergerak melemah.
Dolar AS masih tak jauh dari level tertinggi 20 tahun menjelang pengumuman kebijakan The Fed dan bank sentral lainnya. Dalam jangka panjang, DXY pun masih cenderung bullish.
Pasar saat ini cenderung menanti putusan kebijakan The Fed yang akan diumumkan pekan depan. Pergerakan Dolar secara umum masih bullish selama harga di atas 109.34.
Di tengah ekspektasi berlanjutnya kenaikan suku bunga ECB, data inflasi AS menjadi fokus penting pada hari ini.