iklan

Produksi Vaksin Corona, Begini Proyeksi Keuntungan MERK

Sebagai emiten yang ditunjuk untuk memproduksi vaksin Corona, bagaimana proyeksi keuntungan MERK?

iklan

iklan

Untuk mengakhiri pandemi COVID-19 di seluruh dunia, termasuk Indonesia, pemerintah akhirnya tunduk pada opsi vaksinasi massal. Di Indonesia sendiri, perusahaan yang ditunjuk untuk memproduksi vaksin adalah PT BioFarma (Persero).

BioFarma adalah sumber pendapatan utama PT Merck Tbk (MERK) saat ini, karena divisi Consumer Health MERK sudah dijual pada 2018 silam. Sejak Hemobion, Cavit D3, dan lainnya dialihkan, MERK pun dikabarkan kehilangan setengah dari sumber pendapatannya. Selain itu, harga saham MERK sempat terjerembab dari harga awal Rp7000-an per lembar saham ke angka Rp1500-an per lembar saham.

Proyeksi Saham MERK

Karena saat ini BioFarma mendapat proyek besar untuk memproduksi vaksin COVID-19 secara massal di Indonesia, analisa ini akan mencoba memperhitungkan keuntungan yang diperoleh MERK dari proyek tersebut, sehingga investor dapat memperkirakan kinerja emiten sebelum mengoleksinya.

 

Kolaborasi BioFarma Dengan 3 Produsen Vaksin Asal China

Untuk vaksinasi, pemerintah sudah melakukan kerja sama dengan tiga produsen vaksin asal China yaitu CanSino, Sinopharm, dan Sinovac. BioFarma sendiri melakukan produksi dengan bahan baku vaksin dari Sinovac, dimana vaksin buatannya tersebut akan diberi nama CoronaVac.

Tapi perlukah BioFarma menggandeng produsen lain untuk memenuhi kapasitas vaksin lokal?

Jawabannya iya, karena hal itu diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bagi 70 persen penduduk dari total populasi di Indonesia. Berdasarkan statement dari World Health Organization (WHO), herd immunity dapat dilakukan apabila dua pertiga populasi penduduk mendapatkan vaksin. Menteri BUMN, Erick Thohir, turut menegaskan bahwa 180 juta jiwa atau 70 persen dari populasi akan mendapatkan dua kali vaksinasi dalam rentang waktu dua minggu.

Apa Itu Herd Imunity

Sementara itu, kapasitas vaksin yang mampu diproduksi BioFarma hanya sekitar 40 juta dosis per tahun. Artinya, hanya 20 juta orang per tahun yang bisa mendapatkan vaksin jika BioFarma hanya mengandalkan bahan baku yang dibeli dari Sinovac.

Direktur Utama BioFarma, Honesti Basyir, mengakui bahwa dengan kapasitas produksi vaksin maksimal 250 juta dosis, maka akan ada 125 juta penerima vaksin masing-masing dua dosis. Oleh karena itu, Sinopharm akan mengusahakan 100 juta dosis untuk 50 juta orang (dual dose), sementara Cansino sebanyak 20 juta (single dose) untuk Indonesia.

 

Ada 3 Vaksin Yang Bisa Diperoleh Di Indonesia

Selain produsen asal China, produsen asal Korea pun melirik pasar Indonesia untuk memproduksi vaksin COVID-19. Ialah Genexine melalui kerja sama dengan Kalbe Farma (KLBF) yang kini tengah mengembangkan vaksin GX-19. Tak hanya itu, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ikut berlomba memproduksi vaksin melalui kerja sama dengan beberapa universitas negeri di Indonesia. Nantinya, vaksin yang berhasil mereka ciptakan akan disebut sebagai Vaksin Merah Putih.

Vaksin Covid-19

Lantas, apa perbedaan antara vaksin produksi BioFarma, Kalbe Farma, dan Eijkman?

  • Ketiga vaksin produksi BioFarma (CoronaVac) berasal dari virus yang diinaktivasi dan kini tengah dalam tahap uji klinis III di Bandung, Indonesia.
  • Vaksin dari Kalbe (GX-19) menggunakan teknologi DNA virus yang mengkode antigen dan sedang diuji klinis tahap II di Indonesia.
  • Vaksin dari Eijkman menggunakan pendekatan protein rekombinan dari virus. Dari ketiga vaksin COVID-19 yang tengah gencar diproduksi, vaksin Merah Putih masih berada pada fase produksi protein dalam kultur sel mamalia setelah berhasil mengisolasi materi genetik antigen dari virus.

Setelah melalui serangkaian uji klinis, hasil produksi vaksin akan siap didistribusikan mulai akhir 2020, dengan fokus utama ditujukan bagi para tenaga kesehatan. Vaksin COVID-19 ini bisa diperoleh secara massal pada Kuartal I, atau sekitar Maret-April 2021 mendatang.

Meskipun masyarakat umum bisa mendapatkan vaksin dari ketiga penyedia di atas, tetapi vaksin dari BioFarma lebih dianjurkan oleh pemerintah. Untuk proses distribusinya, vaksin BioFarma akan dilakukan oleh mitra BioFarma, yaitu Indofarma (INAF) dan Kimia Farma (KAEF).

Kimia farma (KAEF)

 

Berapa Harga Vaksin CoronaVac?

Menurut Erick Thohir, bahan baku Sinovac dibeli dengan harga 8 Dolar AS per dosis atau sekitar Rp117,135 (kurs Rp 14,641). Namun, harga tersebut diperkirakan bisa turun menjadi 6 atau 7 Dolar AS di tahun 2021 seiring dengan tingginya jumlah pembelian. Nantinya, satu orang akan mendapatkan dua dosis vaksin.

"Harga jual (vaksin) ini nantinya sekitar 25 Dolar sampai 30 Dolar AS untuk dua dosis. Kalau di kita (Rupiah), sekitar Rp440,000. Tapi ini BioFarma lagi menghitung ulang", ujar Erick dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Jakarta pada Kamis (27/Agustus) lalu.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa harga jual vaksin BioFarma belum bisa dipastikan. Namun setidaknya, masyarakat mengetahui kisaran harga bahan bakunya, yakni 6-8 Dolar AS atau Rp88,000-Rp117,000 per dosis.

 

Perkiraan Pendapatan BioFarma

Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, BioFarma menggandeng tiga perusahaan swasta lain selaku penyedia bahan baku vaksin. Akan tetapi, harga bahan baku vaksin yang disediakan oleh Cansino dan Sinopharm belum diketahui. Sehingga dalam hal ini, jumlah keuntungan BioFarma yang akan dihitung hanyalah vaksin dengan bahan baku dari Sinovac.

Jika setiap dua dosis dihargai Rp440,000, maka:

40,000,000 dosis / 2 dosis x Rp440,000 = Rp8,800,000,000,000 (8.8 Triliun Rupiah)

Ini adalah angka yang besar, terutama setelah MERK melepas divisi Consumer Health-nya di tahun 2018.

Berikut penulis sertakan data pendapatan MERK:

Data saham MERK

Pada tahun 2018, P&G Health Germany GmbH menjadi pengendali divisi Consumer Health dari MERK, sebelum dialihkan kepada The Procter & Gamble Company "PGCo" dengan nilai jual 1.125 Triliun Rupiah. Itulah sebabnya, pendapatan MERK menurun drastis di tahun 2018, tetapi laba bersihnya naik pesat. Keuntungan penjualan tersebut lantas dibagikan dalam bentuk dividen tunai.

Di tahun 2019, pendapatan naik kembali karena ada peningkatan harga jual obat, disusul dengan pandemi outbreak di tahun 2020. Tahun depan, kita akan melihat tambahan pendapatan dari produksi vaksin di akhir tahun 2021 senilai 8.8 Triliun Rupiah.

Jika setiap dosis harga bahan bakunya adalah Rp117,000, maka beban pokok pendapatannya adalah:

Rp117,000 x 40,000,000 dosis = Rp4,680,000,000,000 (4.68 Triliun Rupiah)

Dengan demikian, laba kotor dari proyek produksi vaksin ini sebesar 4.12 Triliun (8.8 Triliun – 4.68 Triliun). Dipotong biaya distribusi mitra, beban administrasi, dan lain-lain, maka diperkirakan ada tambahan sekitar 2 Triliun Rupiah untuk laba bersih di laporan tahunan 2021. Angka yang fantastis, bukan?

Selama ini, MERK belum pernah membukukan pendapatan, laba kotor, dan laba bersih setinggi itu. Kemungkinan besar harga sahamnya pun akan naik selama distribusi vaksin berlangsung.

 

Disclaimer: Penulis tidak memiliki saham yang disebutkan. Pembahasan saham bukan sebagai rekomendasi dan penulis terlepas dari segala tanggung jawab atas pergerakan saham yang terjadi. Pembaca yang hendak melakukan transaksi saham yang disebutkan di atas, disarankan untuk melakukan analisis lanjutan.

Arsip Analisa By : Shanti Putri
294426

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone