Advertisement

iklan

Prospek Saham PTRO (PT Petrosea) Layak Diperhatikan

Setelah sempat terpuruk pada 2015-2016, saham PTRO (PT Petrosea) mulai menggeliat dan menunjukkan kinerja menarik kembali sejak tahun 2017.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Petrosea Tbk (kode saham PTRO) cukup menarik karena pendapatan emiten ini utamanya berasal dari tambang Kideco. Seiring dengan kenaikan harga batubara dunia, aktivitas usaha Grup Indika, termasuk PTRO yang merupakan anak usahanya, juga ikut-ikutan meningkat menjadikan saham ini layak untuk diperhatikan dalam waktu dekat.

 

Profil Usaha PT Petrosea Tbk

PT Petrosea Tbk adalah emiten Rekayasa, Konstruksi, dan Pertambangan yang berbasis di Indonesia dengan pengalaman sejak tahun 1972. PTRO diakuisisi oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) dengan kepemilikan Indika Energy atas PTRO sebesar 68,9% pada tahun 2009. Emiten jasa tambang PTRO ini baru saja membagikan dividen final tunai sebesar US$4,50 juta, atau 54,68% dari total laba bersih perusahaan.

Perusahaan ini memiliki tiga segmen bisnis: penambangan, jasa, dan teknik & konstruksi.

  • Segmen penambangan mencakup kontrak penambangan yang komprehensif termasuk pengupasan lapisan tanah, pengeboran, peledakan, pengangkatan, pengangkutan, jasa penambangan dan kemitraan tambang.
  • Segmen jasa menawarkan supply base facilities, jasa teknikal desain.
  • Segmen rekayasa dan konstruksi menyediakan berbagai jasa rekayasa, pengadaan dan konstruksi multidisiplin yang komprehensif untuk industri minyak dan gas, infrastruktur, industri dan manufaktur, serta utilitas; itu juga mencakup pasokan tenaga kerja terampil dan jasa penyewaan peralatan.

Lebih dari 65% bisnis PT Petrosea didapatkan dari jasa penambangan batu bara dan didominasi order dari proyek Kideco Jaya Agung yang merupakan tambang PT Indika Energy (INDY). Pada tahun 2017, volume pemindahan lapisan tanah penutup mengalami kenaikan sebesar 46,49% menjadi 83,98 juta BCM, dari 57,33 juta BCM pada tahun 2016. Produksi batubara mengalami kenaikan sebesar 74,24% dari 14,21 juta ton menjadi 24,76 juta ton di tahun 2017. Pencapaian volume pemindahan lapisan tanah penutup diperoleh dari proyek Kideco Jaya Agung sebesar 31,03 juta BCM, proyek Binuang Mitra Bersama sebesar 18,78 juta BCM, proyek Tabang sebesar 18,74 juta BCM, proyek Indoasia Cemerlang sebesar 11,57 juta BCM, serta proyek Anzawara Satria sebesar sebesar 3,86 juta BCM. Kontribusi dari lini bisnis Kontrak Pertambangan meningkat 49,80% menjadi US$ 171,27 juta dari US$ 114,33 juta pada tahun sebelumnya.

 

Grafik Pendapatan Usaha PT Petrosea Per Lini Binis

Pendapatan PT Petrosea Per Lini Bisnis

 

Karena pendapatan PT Petrosea didominasi oleh kontrak pertambangan dari Kideco Jaya Agung, maka semakin banyak kegiatan operasional di Kideco (mumpung harga batubara naik) maka kontrak pertambangan untuk PTRO tentunya terus meningkat. Dengan demikian, kenaikan harga coal juga turut mengerek pendapatan PTRO yang bergerak di bisnis jasa penambangan (dikemukakan juga di dalam Laporan Tahunan 2017; hal 11).

Selain sebagai kontraktor, PTRO juga memiliki konsesi batu bara melalui Santan Batu Bara, sebuah usaha patungan (joint venture) antara perusahaan dengan PT Harum Energy Tbk.

 

Grafik Pergerakan Harga Saham PTRO dan Dow Jones US Coal Index (DJUSCL)

Harga Saham PTRO

Ket: PTRO (candlestick), DJUSCL (purple line)

 

Berdasarkan grafik di atas, dapat kita lihat bahwa saham PTRO erat kaitannya dengan harga batubara dunia. Di saat harga batubara dunia naik, maka saham PTRO cenderung naik juga. Demikian pula sebaliknya, ketika batubara naik, PTRO mendapat lebih banyak pekerjaan yang turut mengerek pendapatan PTRO.

Kenaikan batubara dunia disebabkan oleh:

  • Kenaikan harga minyak mentah dunia mempengaruhi harga komoditas lainnya seperti batu bara yang mana merupakan energy alternatif yang lebih murah daripada minyak.
  • Kondisi ekonomi Cina yang merupakan pengguna batubara terbesar di dunia. Penguatan harga batu bara sekarang ditopang oleh pelonggaran kebijakan moneter yang diadopsi oleh China. Pada hari Selasa (17/4/2018), People's Bank of China (PBoC) secara mengejutkan melonggarkan kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM). Tingkat GWM diturunkan sebanyak 100bps dan mulai efektif per 25 April 2018. Pelonggaran GWM ini diharapkan akan membantu perbankan memiliki sumber likuiditas lebih banyak untuk disalurkan dalam bentuk kredit kepada masyarakat, mengingat saat ini China mengandalkan konsumsi rumah tangga untuk mendongkrak perekonomiannya. 
  • Produksi coking coal anjlok (dilaporkan oleh salah satu produsen batu bara di Australia, yaitu South32 Ltd). Dilaporkan bahwa coal sepanjang 3 bulan pertama tahun ini anjlok hingga 85,9% YoY (dari 9,99 juta ton menjadi 1,4 juta ton), sehingga terjadi penurunan supply yang meningkatkan harga batubara.

 

Grafik Aktiva, Kewajiban, dan Modal PTRO

Aktiva Kewajiban Modal PTROSumber grafik: lembarsaham.com

 

Sejak tahun 2003, aset PTRO menanjak naik hingga mencapai 5,9T di tahun 2017 dengan total liabilitas sebesar 3,5T dan menyisakan ekuitas 2,4T. Berbekal dari grafik ini, dapat kita ketahui bahwa secara umum ekuitas PTRO selalu positif dan meningkat, terutama di tahun 2010 sampai 2013. Walaupun, perlu diketahui pula bahwa PTRO melakukan IPO di tahun 1990, dan pertumbuhan berikutnya tidak konsisten. Bagaimana kiranya rasio utang PTRO?

 

Grafik Rasio Lancar, Rasio Cepat, dan Rasio Kas PTRO

Rasio Kas PTRO

Sumber grafik: lembarsaham.com

 

Berdasarkan rasio likuiditas di sini, kita dapat melihat bahwa ada penurunan rasio-rasio likuiditas PTRO sejak 2003 hingga 2017. Namun, sebenarnya kita dapat melihat bahwa perusahaan berusaha sekuat tenaga agar rasio kas tetap positif, sedangkan rasio lancar dan rasio cepat selalu dalam kategori sangat baik. Mayoritas rasio cepat lebih dari 1; hanya pada tahun 2010 dan 2011 saja kurang dari 1, tetapi selebihnya selalu lebih dari 1. Hal ini adalah baik karena artinya hutang jangka pendek tidak mengganggu kinerja PTRO.

Terakhir pada tahun 2017, kas dan setara kas PTRO senilai USD57,49 juta dengan hutang jangka pendek sebesar USD97,39 juta, sehingga rasio kas 2017 adalah 0,59. Sedangkan Aset Lancar 2017 adalah USD161,084 juta, maka rasio lancarnya 1,6. Jika investor mau membaca annual report sejak 2015, maka akan mengetahui bahwa Petrosea tidak pernah terlambat dalam melunasi bunga obligasi dan mencicil pembayaran hutang. Melalui rasio-rasio likuiditas inilah, penulis nyatakan PTRO sehat.

 

Grafik Penjualan, Beban Usaha, dan Laba Usaha PTRO

Penjualan PT PetroseaSumber grafik: lembarsaham.com

 

Penjualan dengan beban usaha yang tinggi menyisakan hanya sedikit laba usaha. Alhasil, laba usaha PT Petrosea tipis sekali. PTRO juga tidak bertumbuh dengan baik karena penjualan tidak konsisten, maka penulis menilai bahwa manajemen kurang begitu lihai dalam hal menjaga stabilitas sales revenue perusahaan dan kurang menaruh perhatian pada peningkatan efisiensi operasional, sehingga laba operasi naik-turun dan kurang begitu bagus. Pada tahun 2017, pendapatan naik menjadi USD171,27 juta dari USD114,33 juta pada tahun 2016.

 

Tabel Data Margin Laba PT Petrosea

Margin Laba PT Petrosea

 

Melihat kinerja kemampuan perusahaan menghasilkan laba, terlihat bahwa dalam 3 tahun terakhir (sejak 2015), ada perbaikan. OPM merangkak naik dari 2,22 hingga menjadi 8,58 pada 2017. Begitu pula dengan NPM yang minus-nya berkurang dari -6,14, -3,77 hingga akhirnya menjadi plus di 2017. Hal ini nyatanya seiring sejalan dengan harga batubara dunia, yang setelah anjlok pada tahun 2015 kemudian naik terus hingga 2017. Dan nampaknya kenaikan batubara belum akan usai; (cek catatan kenaikan harga batubara global di atas).

 

Prospek Saham PTRO

1. Kenaikan volume kegiatan usaha berkaitan dengan naiknya permintaan batubara Kideco keluar negeri dikarenakan musim dingin.

2. Kontrak Penambangan

  • Penandatangan perjanjian tambahan dengan PT Binuang Mitra Bersama Blok Dua untuk penambahan area wilayah tambang dan penambahan volume produksi lapisan tanah penutup sebesar 2,8 juta bcm.
  • Penandatanganan amandemen perjanjian dengan PT Indoasia Cemerlang berupa perjanjian sewa alat pertambangan.
  • Penandatanganan amandemen perjanjian dengan PT Indonesia Pratama yang mencakup perubahan target total volume pengupasan tanah menjadi sebesar 142,85 juta bcm serta penyesuaian harga.

3. Rekayasa dan Kontruksi

  • Penandatanganan perjanjian baru dengan PT Freeport Indonesia untuk jasa pertambangan di Grasberg Wanagon dengan masa kontrak selama 25 bulan.
  • Penandatanganan perjanjian dengan PT Maruwai Coal untuk pekerjaan jalan, jembatan serta konstruksi pekerjaan tanah di Lamunut dengan nilai kontrak sebesar IDR 1.269 milyar dengan jangka waktu 2 tahun.

4. Jasa Logistik dan Pendukung Kegiatan Minyak dan Gas Bumi

  • Sorong Supply Base di Sorong, Papua, secara resmi dibuka pada tanggal 10 Agustus 2017. Perusahaan dan BP Berau Ltd Indonesia mengadakan perjanjian untuk jasa Sorong Supply Base sebesar 734 milyar dengan masa kontrak selama 8 tahun.
  • Perusahaan dengan Ophir Energy Indonesia menandatangani perjanjian kontrak untuk jasa Sorong Supply Base dengan nilai kontrak sebesar USD51 milyar. 

Sepanjang kuartal I/2018, PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatatkan kinerja melebihi target. Perseroan mengatakan, pada kuartal pertama 2018, perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$ 92,5 juta. Pencapaian tersebut melebihi target yang ditentukan untuk kuartal I/2018, yaitu senilai US$ 89,5 juta. Hal tersebut didukung oleh dua kontrak baru yang diteken pada awal tahun ini.

 

Highlight Kinerja PT Petrosea Tahun 2017

Highlight Kinerja PT Petrosea

Highlight Kinerja PT Petrosea

 

Kesimpulan

PTRO adalah emiten yang mulai membaik keadaannya pada tahun 2017. Hal ini terjadi seiring dengan peningkatan harga batubara dunia yang merangkak naik hingga di atas USD90. Perusahaan juga menjalin kerjasama dan mengadakan beberapa proyek seiring dengan meningkatnya permintaan akan batubara. Keadaan sudah berubah terbalik sejak titik terbawahnya di 2015.

Beberapa katalis bagi industri batubara seperti demand dari negeri Tirai Bambu yang cenderung meningkat, supplai coking coal yang anjlok di awal tahun 2018, dll turut mendorong terciptanya proyek-proyek bagi PTRO yang tentunya menguntungkan. Diharapkan manajemen bisa memikirkan cara untuk memperkecil rasio beban usaha/laba usaha agar tercipta efisiensi operasional yang lebih tinggi.

Penulis berusaha memberikan informasi sebanyak-banyaknya, namun juga tidak luput dari kekurang-telitian dan hal-hal teknis lainnya. Apabila ada pertanyaan mengenai detil dan lain sebagainya, boleh ditanyakan langsung di kolom komentar.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'