Rupiah 12-16 November 2018: Suku Bunga BI, Perdagangan Indonesia, CPI AS

Minggu lalu, Rupiah menguat hingga 14530, didukung oleh membaiknya data ekonomi Indonesia dan meredanya ketegangan perang dagang. Minggu ini, Rupiah akan dipengaruhi oleh suku bunga BI dan CPI AS.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (9 November 2018), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Rupiah kembali menguat minggu lalu. Ditutup pada 14680 per US Dollar, mata uang Garuda mengalami apresiasi sebesar 1.8% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya yang 14950. Sepanjang minggu lalu, Rupiah sempat menyentuh level 14530, terkuat dalam 3 bulan terakhir.

Data fundamental ekonomi dari dalam negeri yang mendukung penguatan mata uang Garuda adalah GDP kuartal ketiga q/y yang tumbuh 5.17%, lebih tinggi dari perkiraan 5.15%, dan cadangan devisa bulan Oktober yang naik ke USD115.2 milliar, lebih tinggi dari perkiraan USD114.8 milliar dan data bulan sebelumnya yang USD114.5 milliar. Faktor eksternal yang mendukung adalah meredanya ketegangan perang dagang AS-China, menyusul rencana pertemuan kedua pemimpin negara raksasa ekonomi tersebut.

Di akhir pekan, Rupiah terkoreksi seiring dengan melonjaknya Indeks USD, akibat Statement FOMC yang masih dianggap hawkish dan mempertahankan rencana kenaikan suku bunga AS bulan depan. Dari CME Fedwatch, kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 0.25% untuk bulan depan telah mencapai 75%.

Akhir pekan lalu juga dirilis data Current Account Indonesia dan PPI AS. Kedua data penting tersebut dirilis pada hari Jumat, setelah Rupiah tidak aktif diperdagangkan. Hasil rilis menunjukkan defisit Current Account Indonesia kuartal ketiga tahun ini membengkak ke USD8.8 milliar, dibandingkan kuartal sebelumnya yang defisit USD8.0 milliar. Sementara PPI AS bulan Oktober naik 0.6%, tertinggi dalam 6 tahun. Secara fundamental, awal minggu ini diperkirakan koreksi Rupiah masih akan berlanjut.

Data penting dari dalam negeri yang akan mempengaruhi pergerakan Rupiah minggu ini adalah suku bunga acuan dan Statement BI, serta neraca perdagangan Indonesia bulan Oktober. Sementara dari AS akan ada data CPI dan Retail Sales bulan Oktober, juga pidato ketua The Fed Jerome Powell.

Dengan membaiknya data fundamental ekonomi dan menguatnya Rupiah, untuk bulan ini diperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan sebesar +5.75%. Namun, neraca perdagangan bulan Oktober diperkirakan defisit USD1.7 milliar, dibandingkan bulan sebelumnya yang surplus USD0.23 milliar. Sementara itu, CPI AS bulan Oktober diperkirakan kembali naik 2.5%, dan Retail Sales juga diproyeksi naik 0.6% dibandingkan bulan sebelumnya ( 0.1%). Kedua data ini penting bagi The Fed sebagai pertimbangan kenaikan suku bunga bulan depan.

Jika berlanjut melemah, resistance kuat USD/IDR ada pada level 14768 hingga 14840. Sementara jika menguat, support kuat ada pada level 14500 hingga 14400.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 12 November 2018:

  • Jam 14:00 WIB: data pertumbuhan kredit bulan Oktober 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +12.75% (tertinggi dalam 3 tahun terakhir).

 

Rupiah 12-16 November 2018: Suku Bunga

 

Rabu, 14 November 2018:

  • Jam 11:00 WIB: penjualan mobil di Indonesia bulan Oktober 2018 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +6.2%.


Rupiah 12-16 November 2018: Suku Bunga

 

Jumat, 16 November 2018:

  • Jam 11:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Oktober 2018 y/y: bulan sebelumnya: +USD0.23 milliar. Perkiraan: -USD1.70 milliar.


Rupiah 12-16 November 2018: Suku Bunga

 

  • Jam 14:00 WIB: suku bunga Bank Indonesia bulan November 2018: bulan sebelumnya: +5.75%. Perkiraan: +5.75%.


Rupiah 12-16 November 2018: Suku Bunga

 

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: CPI, Retail Sales, serta pidato ketua The Fed Powell, Fed Brainard, Quarles, dan Bostic.

 

Tinjauan Teknikal


Rupiah 12-16 November 2018: Suku Bunga

Chart Daily
:

USD/IDR masih cenderung bearish (Rupiah cenderung menguat) menyusul terbentuknya bearish enguling candle yang diikuti oleh dua long bearish candle:

  1. Harga menembus support kuat kurva EMA 55, dan berada dekat kurva lower band indikator Bollinger Bands.
  2. Titik indikator Parabolic SAR masih berada di atas bar candlestick.
  3. Kurva indikator MACD masih berada di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna merah dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bearish yang masih kuat.

Level Pivot mingguan : 14732.33

Resistance : 14723.00 (level 38.2% Fibo Retracement) ; 14768.00 ; 14840.00 ; 14929.83 (23.6% Fibo Retracement) ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 14635.00 ; 14556.32 (50% Fibo Retracement) ; 14488.00 ; 14388.98 (61.8% Fibo Retracement) ; 14298.00 ; 14179.81 (76.4% Fibo Retracement) ; 14106.00 ; 14038.00 ; 13983.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 55 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Retracement :

  • Titik Swing Low  : 13845.00 (harga terendah 6 Juni 2018).
  • Titik Swing High : 15265.00 (harga tertinggi 11 Oktober 2018).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.