Rupiah 17-21 Desember 2018: FOMC, BI Rate, Perdagangan Indonesia

Minggu lalu, Rupiah kembali melemah akibat meningkatnya kebutuhan valas korporasi. Minggu ini, Rupiah akan dipengaruhi oleh FOMC, suku bunga BI, dan neraca perdagangan Indonesia.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (14 Desember 2018), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, Rupiah kembali ditutup melemah bersamaan dengan hampir semua mata uang Asia yang juga mengalami depresiasi versus US Dollar. Naiknya angka probabilitas kenaikan suku bunga The Fed dan bagusnya data PPI serta penjualan ritel AS, menyebabkan Indeks Dolar melonjak ke 97.71, level tertingginya sejak bulan Juni tahun lalu. Dari data terakhir CME Fedwatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed bulan ini mencapai 80.1%, naik dari minggu sebelumnya yang 72.3%.

Mata uang Garuda ditutup pada level 14533 per USD, atau melemah 0.5% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya yang 14460. Dari dalam negeri, tidak ada data penting yang menyebabkan pelemahan. Faktor meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh korporasi menjelang akhir tahun ditengarai menjadi penyebab pelemahan Rupiah. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia yang diperkirakan masih akan defisit membuat tekanan jual pada Rupiah, karena akan membebani transaksi berjalan (Current Account) yang sekarang masih defisit. Seperti diketahui, defisit transaksi berjalan adalah penyebab utama pelemahan Rupiah selama ini.

Meski demikian, pelemahan Rupiah minggu lalu masih dalam range terbatas. Naiknya harga surat utang negara (SUN) dan proyeksi Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, menyebabkan depresiasi Rupiah tidak terlalu dalam. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5.2% pada tahun ini dan tahun depan. Pada tahun 2020, pertumbuhan diproyeksikan naik ke 5.3%, didukung oleh permintaan dalam negeri yang diperkirakan akan meningkat, naiknya investasi, dan laju inflasi yang tetap terjaga di bawah target 3.5%.

Bank Indonesia (BI) tetap menjaga stabilitas nilai tukar. Di samping penyesuaian tingkat suku bunga, bank sentral juga melakukan tiga strategi intervensi, yaitu intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), pasar valuta asing, dan melalui mekanisme baru Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).

Minggu ini, fokus pasar akan tertuju pada FOMC meeting hari Rabu dan Kamis mendatang. The Fed diperkirakan akan kembali mengerek suku bunga sebesar 0.25% ke level +2.25% hingga 2.50%. Fokus utama adalah pada proyeksi frekuensi kenaikan suku bunga (dot plot) untuk tahun depan, apakah tetap 3 kali atau akan dikurangi. Pada hari yang sama, BI juga akan mengumumkan 7 Day Repo Rate yang diperkirakan akan dipertahankan pada level +6.00%.

Statement FOMC dan pernyataan ketua Jerome Powell pada konferensi pers akan sangat mempengaruhi pergerakan Rupiah, di samping statement BI dan data neraca perdagangan Indonesia bulan November. Jika kembali melemah, resistance kuat USD/IDR ada pada level 14650, yang merupakan harga tertinggi 11 Desember lalu. Sementara jika menguat, support kuat berada pada level 14465.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Senin, 17 Desember 2018:

  • Jam 11:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan November 2018 y/y: bulan sebelumnya: -USD1.82 miliar (defisit tertinggi dalam 3 bulan). Perkiraan: -USD1.60 miliar.


Rupiah 17-21 Desember 2018: FOMC, BI

 

Kamis, 20 Desember 2018:

  • Jam 14:00 WIB: suku bunga Bank Indonesia bulan Desember 2018: bulan sebelumnya: +6.00%. Perkiraan: +6.00%.


Rupiah 17-21 Desember 2018: FOMC, BI

 

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: Statement FOMC dan konferensi pers Jerome Powell, GDP, Durable Goods Orders, Core PCE Price Index, Building Permits, dan Housing Starts.

 

Tinjauan Teknikal


Rupiah 17-21 Desember 2018: FOMC, BI

Chart Daily
:

USD/IDR masih cenderung bullish (Rupiah cenderung melemah), akibat dari divergensi bullish indikator RSI yang masih belum berakhir:

  1. Harga masih bergerak di atas kurva SMA 200-day, dan di atas kurva middle band indikator Bollinger Bands.
  2. Titik indikator Parabolic SAR masih berada di bawah bar candlestick.
  3. Kurva indikator MACD berada di atas kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di atas level 0.00.
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Support kuat ada pada kurva SMA 200-day.

Level Pivot mingguan : 14549.33

Resistance : 14553.63 (level 50% Fibo Retracement) ; 14575.00 ; 14645.00 ; 14723.00 (level 38.2% Fibo Retracement) ; 14785.00 ; 14840.00 ; 14929.83 (23.6% Fibo Retracement) ; 15000.00 ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 14465.00 ; 14388.98 (61.8% Fibo Retracement) ; 14298.00 ; 14205.00 ; 14106.00 ; 14038.00 ; 13983.00 ; 13923.00 ; 13845.00 ; 13795.00 ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13624.00 ; 13538.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ;  RSI (14) ; ADX (14).

Fibonacci Retracement :

  • Titik Swing Low : 13845.00 (harga terendah 6 Juni 2018).
  • Titik Swing High : 15265.00 (harga tertinggi 11 Oktober 2018).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.