TBLA: Emiten CPO Yang Mulai Menarik

Penerapan kebijakan B20 akan menguntungkan emiten CPO, termasuk PT Tunas Baru Lampung (kode saham TBLA) yang kinerja dan profitabilitasnya prima.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

PT Tunas Baru Lampung (kode saham TBLA) adalah salah satu emiten yang mendulang keuntungan dalam pemberlakuan kebijakan B20. Karena TBLA telah membangun pabrik biodiesel di Lampung sejak tahun 2015, dengan kapasitas 1.050 ton per hari. Yang lebih seru adalah ternyata arus kas operasi di tahun 2017 sudah mulai meningkat jauh melebihi kas investasinya. Hal ini karena 78 persen tanaman sudah mulai menghasilkan, sehingga investasi yang dimiliki kini sudah mulai terbayarkan.

Masa tanam sawit adalah 4-5 tahun, setelah itu diprediksi akan terus menghasilkan selama 25 tahun mendatang. Selain itu, TBLA tidak hanya memiliki sawit. TBLA juga memproduksi gula yang mana permintaannya cenderung selalu meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan minim sentimen negatif.

 

Profil dan Kinerja TBLA

Didirikan tahun 1973, PT Tunas Baru Lampung menjadi salah satu anggota kelompok usaha Sungai Budi yang dibentuk tahun 1947, sekaligus salah satu perintis industri pertanian di Indonesia. Tahun 1975, PT Tunas Baru Lampung mulai beroperasi di Lampung, lalu terdaftar di bursa tahun 2000 dengan kode saham TBLA.

 

Penjualan per Produk PT Tunas Baru Lampung Tahun 2017

Penjualan PT Tunas Baru Lampung

Produk minyak goreng dan gula mentah mendominasi penjualan total dengan masing-masing kontribusi 30% dan 29%; sedangkan sisanya ada Biogass sebanyak 10%, Minyak Sawit inti 7%, dll. TBLA lebih banyak menjual produk jadi ketimbang produk mentah, sehingga marjin laba lebih tinggi. Produk-produk yang dihasilkan TBLA dipasarkan dengan etiket merek (trademark etiquette/drawing), yakni: Kompas, Gunung Agung, Bumi Waras (B.W.), Rossy, Burung Merak, Tawon, Segar dan Rose Brand.

Produk PT Tunas Baru Lampung

 

Profitabilitas TBLA

Profitabilitas TBLA

Profitabilitas TBLA terus meningkat sejak tanaman yang ditanam di tahun 2010 ikut menghasilkan sejak 2014, ditambah lagi dengan tanaman yang sudah berusia 7 tahun di tahun 2014. Pada tahun 2015 ada penjualan aset oleh TBLA, sehingga ROE nampak jauh lebih besar. Di 2016 dan 2017, tanaman yang ditanam dalam kurun 2011 dan 2012 juga sudah mulai menghasilkan. Per 2017, sudah 78% lahan menghasilkan dan akan semakin optimal di tahun-tahun setelahnya. Saatnya panen, kawan investor!

TBLA: Emiten CPO Yang Mulai

Pendapatan TBLA terus meningkat dengan pertumbuhan 18.96% CAGR sejak 2015, dengan marjin laba kotor yang juga terus meningkat. Marjin laba bersih dan laba operasinya juga terus meningkat; menunjukkan efisiensi dan peningkatan kemampuan perusahaan dalam mencetak laba.

Menariknya, TBLA bahkan belum menunjukkan kemampuan terbaiknya. Baru 78% yang menghasilkan, sedangkan 28% dari total lahan yang sudah ditanami belum menghasilkan, atau dengan kata lain masih dalam proses pertumbuhan dan belum siap panen. Sebanyak 19.75% lahan yang belum menghasilkan berada di Sumatera sedangkan 8.25%-nya ada di Kalimantan. Namun, sekitar tahun 2018-2020 disinyalir seluruh tanaman akan sudah menghasilkan.

Mengenai terserapnya supply, kebijakan B20 akan memberikan lebih banyak permintaan pasokan sawit dari TBLA. Terlebih lagi, TBLA sudah memiliki pabrik yang siap produksi. TBLA sungguh amat menarik bagi penulis.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'