OctaFx

iklan

Terkapar Akibat Currency War, Rupiah Tunggu Data Perdagangan

289610

Setelah melemah 3 minggu akibat trade war dan currency war, pekan lalu Rupiah berbalik menguat akibat data cadev dan intervensi BI. Minggu ini, data perdagangan akan menjadi katalis.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga pentupan pasar minggu lalu (9 Agustus 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Tidak seperti mata uang safe haven yang menguat seiring dengan pelemahan US Dollar, Rupiah justru melemah meskipun USD mengalami depresiasi yang cukup signifikan. Tetapi tidak hanya Rupiah, sebagian besar mata uang emerging market juga terdepresiasi, seperti Ringgit Malaysia, Peso Philipina, juga Baht Thailand.

Sepanjang pekan lalu, Rupiah sempat melemah cukup tajam hingga menyentuh 14355 per US Dollar, atau level terendah dalam 3 bulan terakhir. Meski demikian, Rupiah akhirnya berbalik menguat dan ditutup pada level 14190 per USD. Harga penutupan minggu lalu tersebut hanya menguat tipis 0.07% dari minggu sebelumnya.

Sumber tekanan terhadap Rupiah dalam tiga minggu terakhir adalah isu perang dagang AS-China, prediksi IMF yang menurunkan outlook pertumbuhan ekonomi global termasuk negara-negara ASEAN, data GDP dan Current Account Indonesia kuartal kedua, serta yang terakhir adalah isu perang mata uang menyusul devaluasi mata uang China.

Rupiah berbalik menguat pada hari Selasa hingga Jumat pekan lalu, menyusul harapan meredanya perang dagang, setelah beredar kabar bahwa China dan AS sepakat untuk berunding di Washington awal bulan depan. Penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, mengatakan bahwa AS bisa saja mengubah kebijakan impornya jika ada perkembangan positif dalam dialog.

Disamping itu, penguatan Rupiah juga didukung oleh data cadangan devisa (cadev) Indonesia per bulan Juli yang naik ke USD125.9 miliar, tertinggi sejak bulan Maret 2018. Naiknya cadangan devisa ini diperoleh dari penerimaan devisa migas dan valas lainnya, serta penarikan utang luar negeri pemerintah.

Bersamaan dengan itu, Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral juga melakukan intervensi dengan terjun di pasar valas dan obligasi untuk menjaga nilai tukar Rupiah. Dalam hal ini, BI masuk ke pasar SBN (Surat Berharga Negara) dan melakukan intervensi di pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forwards).

Minggu ini, akan ada beberapa data penting, baik dari dalam negeri maupun AS. Dari dalam negeri akan dirilis data neraca perdagangan untuk bulan Juli, yang diperkirakan mengalami defisit sebesar USD1.70 miliar. Sementara dari AS akan ada data inflasi dan penjualan ritel bulan Juli. Selain itu, pergerakan Rupiah juga akan sangat dipengaruhi oleh isu eksternal terutama trade war dan currency war.

Secara teknikal, USD/IDR sedang mengalami koreksi, atau Rupiah sedang menguat terbatas; dengan support kuat pada 14120 (sekitar level 50% Fibo Retracement).

 

Jadwal Rilis Data Fundamental

Kamis, 15 Agustus 2019:

  • Jam 11:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Juli 2019 y/y: bulan sebelumnya: +USD0.20 miliar. Perkiraan: -USD1.70 miliar.

Setelah Terkapar Akibat Currency War,

 

Jumat, 16 Agustus 2019:

  • Jam 14:00 WIB:  data pertumbuhan kredit bulan Juli 2019 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +0.92%. Perkiraan: +9.1%.

Setelah Terkapar Akibat Currency War,
Data berdampak dari AS minggu ini
: CPI, Retail Sales, indeks Philly Fed Manufacturing, dan Building Permits.

 

Tinjauan Teknikal

Setelah Terkapar oleh Currency War,

 

Chart Daily:

USD/IDR mengalami koreksi menyusul terbentuknya Pin Bar yang terkonfirmasi. Namun dari penunjukan indikator trend maupun momentum, USD/IDR masih cenderung bergerak bullish (Rupiah masih cenderung melemah), dengan resistance kuat pada kurva SMA 200-day, dan support kuat pada level 38.2% Fibo Retracement juga kurva EMA 89:

  1. Harga berada di atas kurva middle band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR masih berada di bawah bar candlestick.
  2. Kurva indikator MACD berada di atas kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di atas level 0.00.
  3. Kurva indikator RSI masih berada di atas center line (level 50.0).
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Jika berhasil menembus level 14120 (sekitar 50% Fibo Retracement), kemungkinan akan terjadi pembalikan arah trend (trend reversal), atau Rupiah akan berbalik menguat.

 

Level Pivot mingguan: 14240.00

Resistance: 14244.22 (level 23.6% Fibo Retracement) ; 14298.00 ; 14355.00 ; 14435.00 ; 14475.00 ; 14525.00 ; 14600.00 ; 14650.00 ; 14721.83 ; 14785.00 ; 14930.00 ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support: 14175.97 (38.2% Fibo Retracement) ; 14120.75 (50% Fibo Retracement) ; 14065.60 (61.8% Fibo Retracement) ; 14000.00 (76.4% Fibo Retracement) ; 13950 ; 13889.00 ; 13835 (level 50% Fibo Expansion) ; 13736.00 ; 13670.63 (61.8% Fibo Expansion) ; 13469.67 (76.4% Fibo Expansion) ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 89 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; RSI (14) ; ADX (14).

Fibonacci Retracement:

  • Titik Swing Low: 13889.00 (harga terendah 15 Juli 2019).
  • Titik Swing High: 14355.00 (harga tertinggi 6 Agustus 2019).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.