Advertisement

iklan

Trading Intraday GBP/USD Dan Pentingnya Money Management

Barangkali masih banyak trader forex yang menganggap sepele urusan Money Management. Tulisan ini bisa menjadi ilustrasi sederhana untuk menggambarkan pentingnya MM.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Sebetulnya, sudah lama saya ingin menulis tentang implementasi Money Management (MM) yang dikondisikan dengan bias teknikal, terutama dalam perdagangan intraday. Pergerakan Sterling terhadap Greenback pada perdagangan Jumat (28/Februari) barangkali bisa menjadi contoh yang cukup ideal, dengan penjelasan singkat dan mudah-mudahan tidak rumit.

Mari kita perhatikan dulu pasangan mata uang GBP/USD pada grafik H1 di bawah ini. Jika Anda menyimak tulisan sebelumnya (GBP/USD: Bagaimana Jika Support Daily 1.2848 Bertahan?), maka Anda mungkin bisa mengerti mengapa skenario Double Bottom (yang terdeteksi pada saat itu) menjadi langkah pertama saya dalam rencana perdagangan (trading plan) pada hari Jumat, meskipun saya juga menyadari bahwa bias intraday masih negatif selama harga diperdagangkan di bawah Kijun-sen H4.

GU H1 2020-03-01

Skenario Double Bottom itu terancam invalid setelah terbentuknya Inside Bar, tak jauh di bawah level ekuilibrium Kijun-sen. Karena price action tersebut, saya tentu saja tidak mau mengambil risiko. Cut loss terpaksa dilakukan setelah candle pattern itu terbentuk, sehingga saya merugi 32 pips. Kemudian, mengingat bahwa 1.2848 adalah key-support dalam jangka pendek, posisi sell stop saya tempatkan di sana (sesuai trading plan) untuk mengantisipasi skenario bearish, dengan SL 20 pips dan target 20 pips saja.

Apa yang saya khawatirkan kemudian terjadi. Terbentuknya Inside Bar segera disusul dengan aksi jual yang berakselerasi cukup tajam menembus 1.2848. Posisi sell stop tereksekusi dan tidak sampai satu jam menyambar target 20 pips. Selanjutnya, aksi jual terus berlanjut dengan penurunan lebih 100 pips jika diukur dari level 1.2848.

Nah, sekarang mari kita hitung. Gagalnya skenario Double Bottom menyebabkan kerugian 32 pips. Kemudian, posisi sell di 1.2848 (key-support jangka pendek, sekarang menjadi resistance) menyentuh target 20 pips. Di atas kertas, tentu masih rugi 12 pips. Tapi hal itu tidak terjadi jika dihitung secara nilai dolar. Saya malah masih bisa menyisakan keuntungan tipis. Lho kok bisa? Tentu saja bisa. Ini adalah tentang implementasi MM terkait bias intraday dan pengamatan price action yang cukup ketat.

Jangan lupa bahwa outlook teknikal H1 pada perdagangan Jumat masih tetap negatif. Posisi buy di bawah Kijun-sen adalah posisi yang tergolong counter-trend. Sehingga, untuk skenario bullish, saya hanya menggunakan seperempat dari lot size yang biasa saya gunakan.

Kita ambil contoh yang sederhana saja. Misalnya, saya menggunakan 0.1 lot untuk posisi buy. Kemudian, saya rugi 32 pips dari posisi itu. Jika 1 pip dengan 0.1 lot bernilai 1 dolar, maka kerugian 32 pips adalah sama dengan minus 32 dolar.

Kemudian untuk posisi sell, saya gunakan 0.2 lot. Saya mendapatkan 20 pips dari posisi sell tersebut. Jika 1 pip dengan 0.2 lot bernilai 2 dolar, maka saya mendapatkan 40 dolar.

Artinya, dari perdagangan intraday GBP/USD pada hari Jumat kemarin, saya masih untung tipis 8 dolar.

Sampai di sini, semoga bisa dipahami. Implementasi MM sebetulnya tidak rumit. Mungkin malah cukup sederhana. Tapi bisa jadi, karena dianggap sederhana, MM seringkali diabaikan. Terus terang, saya sendiri termasuk yang seringkali mengabaikan MM sebelum terjun full time di dunia forex. Beberapa analis, lokal maupun luar, bahkan mendeskripsikan MM sebagai Holy Grail yang sesungguhnya. Ini mungkin ungkapan yang agak sedikit berlebihan meskipun tidak dapat disangkal.

Barangkali kita bisa secara fleksibel melengkapinya dengan beberapa kalimat tambahan, yakni: tekuni sistem trading kita sendiri (entah itu scalping, day trading/intraday, atau swing trading jangka pendek hingga menengah), tapi jangan lupakan MM dan price action/candle pattern yang berhubungan atau berkaitan dengan trading plan, serta rajin-rajinlah membaca ulasan-ulasan fundamental terkini.

Arsip Analisa By : Buge Satrio
292172

Buge Satrio Lelono memiliki latar belakang pendidikan IT dan mengenal forex sejak tahun 2003 ketika platform Metatrader masih versi 3. Setelah berlatih di akun demo selama beberapa tahun dan mencoba berbagai teknik trading, Buge menekuni forex secara full-time sejak awal 2014. Kini aktif trading mengandalkan pengamatan Price Action, Ichimoku Kinko-hyo, Trading Plan, dan pengendalian risiko tak lebih dari 1 persen.