Tragedi Boeing Bayangi Harga Saham GIAA

Cara investor menanggapi peristiwa memang cukup unik. Terkadang, beberapa sentimen berlawanan dengan fakta, seperti yang terjadi pada emiten PT. Garuda Indonesia, Tbk (GIAA).

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Pada tanggal 10 Maret 201919, sebuah pesawat maskapai Ethiopian Airlines mengalami kecelakaan maut yang menewaskan 149 penumpang dan 8 kru pesawat dalam perjalannya bertolak dari Addis Ababa menuju Nairobi, Kenya. Peristiwa tersebut terjadi kurang dari lima bulan setelah kecelakaan yang dialami Lion Air yang menewaskan 189 orang. Pada saat kecelakaan, diketahui kedua maskapai menggunakan pesawat dengan tipe yang sama yaitu Boeing 737 Max 8.

Kecemasan pun merebak karena faktor keselamatan pesawat Boeing tipe 737 Max 8 diragukan. Pesawat itu pun sementara dilarang terbang di beberapa negara, termasuk Indonesia. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memutuskan untuk melarang terbang sementara pesawat Boeing 737-8 MAX di Indonesia sampai dinyatakan laik terbang kembali. Aksi jual pada saham Boeing pun terjadi sehingga menyebabkan penurunan hingga 10 persen di tanggal 11 Maret.

Sebelumnya, Garuda dari jauh-jauh hari sudah memesan pesawat tipe Boeing 737 Max 8 sebanyak 50 buah. Itulah mengapa, sehari setelah kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines pada tanggal 11 Maret, saham GIAA terseret turun dari Rp615 ke Rp595. Saat ini, GIAA diperdagangkan di level harga Rp500 saja per lembar dengan pola Head And Shoulders yang tidak menarik.

Sebagai upaya penanggulangan, Garuda sempat mengurangi pemesanan pesawat tipe tersebut untuk ditukar dengan tipe lainnya. Namun setelah negosiasi dengan pihak lessor, akhirnya Garuda menekankan bahwa mereka akan melanjutkan kontrak leasing Boeing 737 Max 8 apabila perbaikan terutama dari sisi keselamatan dilakukan.

Saham Garuda Indonesia

Tak perlu menunggu lama, Boeing segera melakukan perbaikan atas sistem Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) dan memperbaiki citranya dengan melakukan uji kelayakan. Kini, produsen pesawat terbang itu sedang menunggu persetujuan dari otoritas penerbangan Amerika Serika atau Federal Aviation Administration (FAA), serta laporan akhir atas kecelakaan Ethiopian Airlines dan Lion Air.

Kepercayaan Garuda kepada Boeing pun telah kembali, dan perjanjian dilanjutkan dengan diskon leasing serta usulan agar Boeing melakukan permohonan kepada pembuat kebijakan di Kementerian Perhubungan agar bisa mengudara lagi. Boeing juga diminta melakukan upaya untuk mengembaikan kepercayaan masyarakat kepada merek pesawat terbangnya, agar tipe Boeing 737 Max 8 sudah bisa mengudara lagi di tahun 2020. Setelah upaya negosiasi kembali yang membuat Garuda mendapat diskon, biaya leasing armada dapat ditekan hingga 30% atau setara dengan USD60 juta.

Tak disangka, ternyata masyarakat Indonesia tak terpengaruh oleh isu pesawat "naas" Boeing tersebut. Di Kuartal I tahun ini, GIAA justru mencatatkan kinerja positif dengan naiknya pendapatan layanan penerbangan sebesar 11.6% (dibandingkan dengan Kuartal I/2018). Hal ini diakui oleh manajemen Garuda yang mengatakan bahwa terlepas dari kecelakaan pada tipe pesawat yang juga dipesan oleh Garuda, kinerja positif di Kuartal I adalah karena perbaikan proses bisnis yang terus dilakukan sembari tetap mengutamakan keselamatan.

Adapun peningkatan kinerja turut didukung oleh program efisiensi dan efektivitas yang berkelanjutan, optimalisasi aspek struktur biaya, penyusunan kapasitas produksi sesuai permintaan sehingga konsumsi bahan bakar menjadi lebih terukur, dan penekanan beban pengeluaran avtur.

Menilai dari poin terakhir di atas, langkah efisiensi kerja terhadap permintaan yang ada menunjukkan perbaikan dari sisi kualitas manajemen. Setelah merugi, GIAA akhirnya mencatatkan keuntungan dan masih tetap bertahan meski situasi sedang tidak mendukung.

Garuda bisa berbangga diri sebab dapat mempertahankan kinerja secara positif di Kuartal I, menyusul capaian kinerja yang solid di tahun 2018. Padahal, tren kinerja industri penerbangan di Kuartal I cenderung rendah dan seringkali disebut fase musim sepi angkutan udara.

 

Kinerja PT. Garuda Indonesia

Meskipun Garuda berhasil memperlihatkan usahanya untuk bangkit, tapi untuk benar-benar turn around secara fundamental tampaknya masih cukup memakan waktu. Hal itu karena Garuda kini masih memiliki Total Liabiltas sebesar USD3,561,521,072 dengan dominasi utang jangka pendek sebesar USD2,489,683,653.

Sedangkan Total Aset Lancar adalah sebesar USD1,517,166,976 dan Ekuitas sebesar USD927,440,223 di Kuartal I/2019 ini. Namun perlu diingat juga, jadwal penerbangan umumnya padat di Kuartal II dan IV selama musim liburan sekolah dan Hari Raya, sehingga performa GIAA kemungkinan masih bisa lebih baik lagi.

Riwayat marjin laba GIAA dapat kita lihat di tabel di bawah ini:

Marjin Laba GIAA

Dapat dilihat bahwa di tahun 2018, GIAA sudah mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan dengan marjin laba operasi sebesar 0.98, diikuti oleh marjin laba bersih sebesar 0.02. Namun sayangnya, angka yang begitu minim tentu belum membangkitkan selera di kalangan investor jangka panjang yang menginginkan ketahanan bisnis baik dengan marjin lebih besar.

 

Kesimpulan

Turunnya harga saham GIAA setelah kejadian kecelakaan pesawat tipe Boeing 737 Max 8 dari maskapai Ethiopian Airlines menandakan kehawatiran investor. Namun nyatanya, masyarakat Indonesia tidak memberikan respon negatif karena kinerja GIAA di Kuartal I justru positif menyusul capaian kinerja Full Year dari 2018. Garuda Indonesia sendiri memiliki manajemen yang sigap dalam bertindak dan melakukan upaya efisiensi. 

Untuk berinvestasi secara jangka panjang, GIAA masih belum menarik karena marjin labanya minim. Sementara untuk investasi jangka pendek, kita bisa berharap lebih untuk menampung di harga bawah, mengingat performa secara jangka pendek cukup menarik.

Arsip Analisa By : Shanti Putri

Shanti Putri adalah seorang investor agresif mandiri yang merupakan mantan broker di sebuah sekuritas ternama, terutama berkecimpung di dunia saham. Dalam berinvestasi, Shanti melakukan analisa sebelum membeli dan melakukan Averaging selama fundamental masih berada di jalurnya. Sebuah kutipan dari Sun Tzu menjadi panduannya, 'Know yourself, know what you face then you will win in a thousand battles.'