OctaFx

iklan

Ulasan Saham 11 Desember: BBRI Dan 3 Emiten Lainnya

Harga minyak dunia masih akan turun secara harian dan outlook ekonomi Indonesia terlihat kurang positif. Bagaimana dengan peluang IHSG hari ini?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

IHSG View

Katalis di pasar saham domestik sedikit berkurang dengan turunnya harga komoditas minyak dunia, sebesar 0.54%, dan mengikuti pelemahan yang terjadi di AS Market. Net sell asing tercatat Rp305 miliar. Pada perdagangan (10/Desember), IHSG turun 0.17% ke level 6,183.

Beberapa sektor yang mendorong penurunan IHSG bisa lihat di bawah ini.

Macro View

Penjualan eceran mengalami pertumbuhan pada Oktober 2019. Hal ini terlihat dari Indeks Penjualan Riil (IPR) pada bulan tersebut sebesar 215.7 atau tumbuh 3.6% YoY. Peningkatannya cukup signifikan, apalagi dibandingkan pertumbuhan pada bulan September 2019, yaitu 0.7%.

Daily Outlook

Data ekonomi AS, seperti produktivitas tenaga kerja di sektor bisnis non-pertanian turun 0.2% YoY, di bawah perkiraan awal 0.3%. Sementara itu, harga minyak dunia masih turun secara harian dan melihat outlook ekonomi Indonesia masih cukup lemah di tahun depan, maka potensi koreksi cukup besar yang kembali datang dari investor asing.

Berita Emiten

Optima Prima Metal Sinergi (OPMS) cukup yakin mampu memenuhi target penjualan bersih sekitar Rp100-110 miliar sepanjang tahun ini. Rasa optimisme mereka diperkuat dengan terealisasinya belanja tiga unit kapal pada Oktober 2019. Optima Prima bergerak dalam industri penjualan besi bekas alias besi scrap. Adapun salah satu sumber bahan baku besi bekas berasal dari kapal yang sudah berusia tua.

ABM Investama (ABMM) melalui anak usaha yang bergerak di bidang jasa penambangan batubara, PT Cipta Kridatama, berhasil mendapatkan kontrak baru dari PT Binuang Mitra Bersama Blok Dua. Kontrak tersebut senilai USD590.44 juta untuk area tambang seluas 2,280 hektar, yang terletak di Kecamatan Bungur dan Kecamatan Salam Babaris, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Adapun masa berlaku kontrak jasa penambangan batubara ini adalah 10 tahun.

Teknikal

Berdasarkan analisa pada grafik di bawah ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  • Indeks Overall Trend Short Term: Bullish
  • Price: Naik
  • Volume: Beli
  • Sinyal: Uji support MA5

Ulasan Saham 11 Desember: Dari BBRI

  • Range IHSG: 6,150 6,200
  • Prediksi: Bearish

 

Saham-Saham Pilihan

1. Bank Rakyat Indonesia (BBRI)

Last Price: 4,170

Tren Potensial: Rebound

Harga bergerak dengan tren flat dan sinyal untuk break Resistance jangka pendek, mampu bertahan di support MA20. RSI 45.8% yang menunjukkan kondisi oversold.

Action: Speculative Buy

  • TP: 4,210 dan 4,250
  • Support: 4,150
  • Cut Loss: 4,100
  • Area Buy: 4,150-4,170

 

2. Bank Mandiri (BMRI)

Last Price: 7,375

Tren Potensial: Uptrend

Harga melampaui MA200, dengan diikuti oleh volume beli yang cukup tinggi dalam tiga hari terakhir. RSI 61.3% yang menunjukkan kondisi belum overbought. Harga saham kembali mencapai angka tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Action: Hold

  • TP: 7,450 dan 7,600
  • Support: 7,200
  • Cut Loss: 7,050
  • Area Buy: 7,200-7,250

 

3. Medco Energy (MEDC)

Last Price: 745

Tren Potensial: Uptrend

Harga masih berada di atas garis Uptrend, namun waspadai RSI yang sudah di atas area 70%, yang menunjukkan kondisi overbought. Volume beli meningkat.

Action: Hold

  • TP: 800 dan 830
  • Support: 740
  • Cut Loss: 720
  • Area Buy: 740-750

 

4. Sarana Menara Nusantara (TOWR)

Last Price: 750

Tren Potensial: Rebound

MA5 gagal memotong ke bawah MA9, dengan diikuti oleh volume beli. RSI 65% yang menunjukkan belum overbought. Harga mendekat ke area upper band Bollinger bands.

Action: Hold

  • TP: 760 dan 775
  • Support: 730
  • Cut Loss: 720
  • Area Buy: 730-740
Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.