Advertisement

iklan

Ulasan Saham 20 Mei: IHSG Masih Dibayangi Suku Bunga The Fed

264991

Kami memproyeksikan IHSG bergerak dalam area bearish seiring sentimen yang cukup minim, indikasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan kembali mencuat, diikuti oleh tekanan jual asing, mengindikasikan IHSG tetap dalam tekanan.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Post from US Market Recap

Bursa saham AS secara umum ditutup negatif, (19/05), DJIA -0.52%, S&P 500 -0.37%, dan NASDAQ -0.56%. setelah komentar dari Presiden the Fed bagian New York William Dudley dan minutes pertemuan terkini the Fed meningkatkan prospek kenaikan suku bunga sesegera di bulan Juni.

Harga minyak WTI, +1.08%, $48.68/barel

Gold Spot,  +0.07%, 1,255.68

CPO,  -1.6%, 2,519 

USD/IDR,  13,575, ytd -4.2%

Update Ekonomi:

  • Departemen Tenaga Kerja mengatakan klaim awal pengangguran AS turun sebanyak 16,000 menjadi 278,000 dalam pekan yang berakhir 14 Mei. Namun penurunan terbesar sejak awal Februari tersebut masih sedikit meleset dari estimasi 275,000 dalam survey Reuters. Angka klaim telah bertahan di bawah level 300,000 untuk 63-pekan berturut-turut, terpanjang sejak tahun 1973, yang dinilai sebagai konsisten dengan pasar tenaga kerja yang sehat. (monexnews)

Update Ekonomi Domestik:

  • Rendahnya realisasi Pertumbuhan Ekonomi kuartal pertama tahun ini sebesar 4.92% membuat Bank Indonesia merevisi proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun ini. Otoritas moneter memproyeksi, Pertumbuhan Ekonomi 2016 sebesar 5%-5.4%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 5.2%-5.6%.
  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang berlangsung pada 18-19 Mei 2016 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 6.75%. RDG juga memutuskan deposit facility di level 4,75% dan lending facility di level 7.25%. Tak hanya itu, BI juga tetap mempertahankan BI seven day reverse repo rate di level 5.5%. (Kontan)

Grafik Teknikal IHSG

Ulasan Saham 20 Mei: IHSG Masih Dibayangi Suku

Prediksi IHSG Hari Ini

Kami memproyeksikan IHSG bergerak dalam area bearish seiring sentimen yang cukup minim, dengan Bank Indonesia (BI) yang menetepkan suku bunga di level saat ini mengindikasikan resiko yang masih terbuka, indikasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan kembali mencuat, dalam FOMC meeting pekan ini ekonomi AS begerak ke arah yang lebih baik. Tekanan jual asing belum mereda dan mengindikasikan IHSG tetap dalam tekanan.  EIDO -1.82%.

IHSG: bearish (moderat),   S: 4,664   R: 4,759

RSI yang terus menurun dan ada disekitar < 30% signal oversold semakin dekat, potensi rebound bagi IHSG terbuka, namun masih menguji support di 4,700 setelah kemarin ditutup masih sedikit di atas 4,700-an ada peluang IHSG membentuk support kuat di 4,700 dan memantul ke atas kembali, harga masih di bawah MA20 dan MA50, menguji MA200, volume jual masih cukup tinggi, intra day sempat menyentuh level 4,600-an, jika penutupan hari ini ditutup di bawah level 4,700, sebaikanya anda melakukan cut loss karena IHSG dalam tren bearish yang kuat.

Saham ADHI berpotensi menguat, mengingat ADHI baru saja memenangkan tender pengoperasian LRT di bandung senilai Rp 30T, di samping itu ABMM mendukung rencan pemerintah dalam mengintensifkan program listrik 35,000 MW.

Konsorsium BSDE perseroan sedang mem-finalisasi pinjaman bank senilai Rp4.2 triliun untuk membiayai pembangunan ruas tol Serpong-Balaraja sepanjang 31 Km dengan nilai investasi Rp 6.03 triliun.

Beberapa perusahaan berencana akan membangikan dividen, periode mendekati cum-date adalah periode yang cukup baik bagi saham-saham tersebut untuk naik, diantaranya, WIIM, MBAP, SCMA, EMTK, ROTI, ADMF.

Waspadai saham-saham yang mengalami dead-cross dan berpeluang kembali melemah hari ini seperti, GGRM, WSKT, TLKM, HMSP, JSMR, LSIP. Sementara INTP bisa speculative buy.

Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.