Ulasan Saham 23 September: Bank Indonesia Potong Suku Bunga, Potensi IHSG Kembali Naik

273041

Seakan tidak berhenti, pekan ini IHSG di hiasi oleh sentimen positif yang berasal dari luar dan dalam, terkini Bank Indonesia (BI) kembali memotong bunga acuan 7 days repo sebesar 25bps, aset beresiko seperti saham tentu akan diuntungkan, lalu ada berita apa lagi selain suku bunga? simak ulasan-nya.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

IHSG Dalam Catatan

Ulasan Saham 23 September: Bank Indonesia Potong

IHSG berhasil memotong MA20 dan MA50 secara bersamaan. MACD golden cross yang menandakan adanya peluang untuk IHSG terus menguat dalam jangka pendek, diikuti oleh likuiditas yang meningkat. RSI menunjukkan tren akumulasi beli yang secara gradual meningkat, menandakan terjadi posisi net buy di pasar yang dilakukan baik oleh investor lokal maupun asing secara bersamaan, meskipun asing tercatat masih sesekali melakukan net sell. Target level resistence IHSG menguji 5,400, di sekitar 5,455-5,470.   

 

Economy Update

Data terbaru AS kembali mengisyaratkan kondisi tenaga kerja AS yang kuat dengan penurunan pengangguran mingguan AS pada pekan lalu ke level terendah sejak bulan Juli. Terdapat pengurangan 8000 orang yang mengajukan klaim pengangguran pada pekan lalu, sehingga jumlah klaim pengangguran menjadi 252,000 klaim.

National Association of Realtors melaporkan adanya penurunan 0.9% pada exisiting home sales menjadi 5,33 juta unit pada bulan Agustus. Data existing home sales mencakup 90% dari penjualan perumahan di AS dan menjadi indikator utama dari pasar perumahan.

 

Equity Comment  

Harga CPO kembali menguat dan menembus level RM 2,725/ ton atau +10% ytd. Harga minyak sedikit terkoreksi -1.06% dan emas -0.49%. investor masih merasakan euphoria kebijakan 2 bank sentral yakni BoJ dan The Fed, di sisi lain waspada tekanan profit taking di pasar saham yang memang wajar terjadi.

Bank Indonesia akhirnya memutuskan untuk memotong suku bunga BI 7 days repo, sebesar 25bps, dari 5.25% menjadi 5%. BI memandang iklim makro Indonesia cukup kondusif dan stabil, BI menginginkan permintaan domestik meningkat melalui pertumbuhan kredit kemudian implementasi Tax Amnesty juga dapat mendorong proses pembiayaan infrastruktur Indonesia. Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 4.9%-5.3% (yoy). Sementara, Nilai tukar Rupiah pada Agustus 2016, secara rata-rata, terdepresiasi sebesar 0,39% dan mencapai level Rp 13.163 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal terkait timing kenaikan FFR paska FOMC minutes Juli 2016.

Kami memandang saat ini sektor perbankan akan diuntungkan dalam jangka waktu short-term oleh penurunan BI 7 days repo, salah satu sinyal yang terlihat dari melemahnya daya beli, bisa diambil contoh ialah perusahaan properti Summarecon Agung memangkas target marketing sales selama delapan bulan pertama yang hanya mencapai Rp 2 triliun atau cuma sekitar 44.4% dari target awal, jadi langkah BI dalam menurunkan suku bunga saat ini cukup tepat.

Berita lainnya, Pemerintah sedang mengevaluasi harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium, Solar subsidi dan minyak tanah bersubsidi. Evaluasi ini menjadi patokan harga jual BBM yang mulai berlaku pada Oktober mendatang. Harga Premium diperkirakan bakal turun sedangkan harga Solar subsidi akan naik, jika ini jadi dilakukan oleh pemerintah maka inflasi dapat kembali turun dan suku bunga berpeluang untuk kembali dipangkas oleh BI, good news buat pasar saham Indonesia.

Initial: sektor-sektor yang berpeluang menguat dalam jangka pendek, (sektor perbankan dengan saham-saham pilihannya yakni: BBRI, BBTN, BBNI). (sektor aneka industri, yakni: ASII), sektor properti (ASRI, BSDE, DILD, PWON).

Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.