Advertisement

iklan

Ulasan Saham 25 Januari: Menu Trading Saham Hari Ini

287149

Apakah saham IHSG untuk saat ini masih menarik? Bagaimana peluang IHSG untuk menguat, serta saham-saham apa saja yang layak untuk dicermati? Simak ulasannya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

IHSG View

Kinerja indeks masih cukup kuat dalam sepekan terakhir. Meski minim sentimen positif, aksi beli asing terhadap saham-saham di Indonesia masih cukup kuat. Tercatat net buy asing sudah mencapai Rp 11 triliun secara year-to-date (ytd). hasil laporan keuangan perusahaan di kuartal IV lalu, akan diperhatikan oleh investor. Beberapa valuasi sektoral masih cukup murah dan berpotensi untuk memberikan kenaikan kembali. Pada Kamis (24/01), IHSG ditutup menguat +0.24% di level 6,466.

Beberapa sektor yang mendukung kenaikan IHSG antara lain:

  1. Aneka Industri +2.42%
  2. Industri Dasar +0.66%
  3. Barang Konsumsi +0.34%

 

Macro View

Bank Indonesia (BI) merilis utang luar negeri jangka pendek pada November 2018 sebesar 56.5 miliar USD, naik 3.78% dibanding Oktober 2018 sebesar 54.46 miliar USD. Bila dibandingkan November 2017 (yty) yang sebesar 56.29 miliar USD, ada kenaikan sebesar 0,39%. Selain itu, BI juga baru saja mengeluarkan beleid baru untuk mengatur utang luar negeri perbankan yang tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 21 tahun 2019. Sedangkan pemerintah memiliki peraturan pinjaman komersial luar negeri (PKLN), serta peraturan mengenai kewajiban lindung nilai bagi BUMN.

Komentar: Laporan Keuangan Emiten dan Potensi Net Buy

Akan ada data FDI di makro Indonesia dan tensi beli investor asing masih cukup kuat. Di sisi lain, rupiah stabil karena ada katalis positif yaitu kenaikan harga CPO dan hasil laporan keuangan emiten seperti Perbankan mulai akan dirilis. Hasil ini akan menjadi fokus investor domestik. Kami melihat kuatnya aksi beli dan rilis laporan keuangan yang positif akan membantu indeks untuk tetap Bullish.

Sementara itu, koreksi sektor aneka industri kemarin akan mulai berkurang hari ini. Sektor pilihan kami antara lain: barang konsumsi, perbankan dan telekomunikasi.

Teknikal

Masih berupaya untuk tetap menuju level 6,500. Volume beli stabil dan meski RSI sudah jenuh beli (79.4%), potensi kenaikan masih terlihat. Jika MACD gagal Death Cross dalam jangka dekat, maka indeks diestimasi akan Bullish sampai akhir bulan Januari.

Ulasan Saham 25 Januari: Menu Trading

Jakarta Composite Index Snapshot


Range IHSG: 6,420-6,500

Prediksi: Bullish

 

Saham-Saham Pilihan

1. BKSL (Sentul City)

Last price: 125

Harga mendekat di MA200, volume beli cukup tinggi dan tertinggi di awal tahun ini. MACD Golden Cross, sementara RSI berada di level 72%.

Action: Hold

  • TP: 129 dan 148
  • Support: 118
  • Cutloss: 115
  • Area Buy: 120-122

 

2. BBRI (Bank Rakyat Indonesia)

Last price: 3,790

Mampu bertahan di garis MA5, volume beli cukup tinggi. Sementara RSI di level 74.1%. masih berada di level Upper Band dengan sinyal perubahan tren yang masih minim.

Action: Maintain Hold

  • TP: 3,850 dan 3,920
  • Support: 3,700
  • Cutloss: 3.610
  • Area Buy: 3,700-3,720

 

3. AKRA (AKR Corporindo)

Last price: 4,690

Harga bertahan di MA5, RSI 58.1% (belum jenuh beli dan kembali Rebound). Jika mampu bertahan di MA20 (1,920) maka kecenderungan saham akan berbalik naik kembali.

Action: Buy

  • TP: 4,750 dan 5,050
  • Support: 4,400
  • Cutloss: 4,300
  • Area Buy: 4,690-4,720

 

4. GGRM (Gudang Garam)

Last price: 82,550

Masih berada di area level MA5 dan MA20. Setelah jenuh jual arah kembali terlihat Rebound. Volume beli kembali terlihat. Konsolidasi Bearish selesai dan selanjutnya Rebound.

Action: Buy

  • TP: 84,370 dan 84,600
  • Support: 81,350
  • Cutloss: 81,000
  • Area Buy: 81,500-81,750
Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.