Ulasan Saham 28 Oktober: Dari BNGA Hingga SIMP

290727

Setelah turun tajam pada akhir pekan lalu, bagaimana peluang indeks hari ini? Simak pula saham-saham pilihan berikut ini.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

IHSG View

Tekanan jual dialami oleh indeks domestik. Investor masih berhati-hati dengan potensi hasil earning perusahaan-perusahaan di Indonesia dan rapat penentuan The Fed pada Kamis (31/Oktober). Secara keseluruhan investor melakukan aksi ambil profit (profit taking). Pada perdagangan (25/Oktober), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1.37% ke level 6,252.

Beberapa sektor yang mendorong penurunan IHSG bisa dilihat di bawah ini.

Macro View

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkap pertumbuhan penerimaan pajak masih stagnan hingga September 2019. Untuk realisasi penerimaan pajak, pertumbuhannya tidak berbeda jauh dibandingkan bulan lalu. Sementara, hingga Agustus lalu, penerimaan pajak hanya tumbuh 0.21% atau sebesar Rp801.16 triliun.

Daily Outlook: Setelah turun tajam pada akhir pekan lalu, indeks akan berusaha untuk rebound dalam hari ini. Namun, usaha tersebut tidak mudah karena menunggu katalis positif dari rilisnya beberapa laporan keuangan sektor perbankan. Dalam pekan ini, investor akan disuguhkan rapat penentuan suku bunga The Fed (31/Oktober), data pertumbuhan ekonomi AS di Q3. Secara umum ada peluang indeks untuk kembali menguat meski terbatas.

Berita Emiten

Pakuwon Jati (PWON) yang merupakan anggota indeks (Kompas100) mengaku sulit untuk memenuhi target pertumbuhan bisnis tahun ini. Meski hanya membidik pertumbuhan di level single digit, manajemen Pakuwon sulit mewujudkannya, lantaran bisnis properti menghadapi sejumlah tekanan pada tahun ini.

Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO) menargetkan pertumbuhan dua digit dari segi penjualan dan laba bersih di tahun 2020. Meski demikian, emiten jamu ini belum mau membuka informasi lebih lanjut seputar besaran target yang dikejar.

Teknikal

Ulasan Saham 16 Oktober: Rekomendasi 4

Berdasarkan analisa pada grafik di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  • Indeks Overall Trend Short Term: Uptrend
  • Price: Above MA200
  • Volume: Strong Buy
  • Sinyal: MACD GC dan Strong Buy Volume
  • Range IHSG: 6,290 - 6,360
  • Prediksi: Bullish (limited)

 

Saham-Saham Pilihan

1. Bank CIMB Niaga (BNGA)

Last Price: 1,020

Tren Potensial: Uji Support

Harga masih bertahan di jalur penguatan, meski RSI sudah di atas 70%, belum terlihat indikasi MA5 memotong ke bawah MA9. Sebetulnya hari ini adalah uji tren sesungguhnya di jangka pendek.

Action: Buy on Weakness

  • TP: 1,045 dan 1,060
  • Support: 1,000
  • Cut Loss: 980
  • Area Buy: 1,000-1,010

 

2. Bank Mandiri (BMRI)

Last Price: 7,000

Tren Potensial: Bullish

Sebelumnya hampir sama dengan MA200 di angka 7,400. Volume jual mulai kembali muncul, dan akan benar-benar terlihat reversal-bearish jika MA5 memotong ke bawah MA9 dan MA20. RSI di atas 70% yang menunjukkan kondisi jenuh beli.

Action: Buy on Weakness

  • TP: 7,200 dan 7,275
  • Support: 6,900
  • Cut Loss: 6,700
  • Area Buy: 6,900-7,000

 

3. Bank Tabungan Negara (BBTN)

Last Price: 2,010

Tren Potensial: Reversal-Bullish

Harga bergerak di atas MA5 dan MA9 serta berada di upper band Bollinger bands. MACD histogram positif. Bullish trend terjadi sejak pertengahan Oktober lalu.

Action: Hold

  • TP: 2,030 dan 2,060
  • Support: 1,950
  • Cut Loss: 1.890
  • Area Buy: 1,950-1,960

 

4. Salim Ivomas Pratama (SIMP)

Last Price: 356

Tren Potensial: Sell on Strength

Volume beli meningkat cukup tinggi, dengan harga saat ini masih bertahan di atas MA5, namun waspadai RSI yang sudah di atas level 70% sebagai sinyal overbought.

Action: Hold

  • TP: 366 dan 376
  • Support: 350
  • Cut Loss: 336
  • Area Buy: 348-352
Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.