OctaFx

iklan

Ulasan Saham 30 Oktober: Dari PWON Hingga BSDE

290766

Ada katalis positif dari data perumahan AS. Lalu, apakah ini akan berpengaruh pada IHSG? Simak pula saham-saham pilihan lainnya.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

IHSG View

Menjelang rapat The Fed, IHSG bergerak dengan kecenderungan positif, tapi dengan kenaikan yang masih terbatas. Terbatasnya kenaikan indeks salah satunya diperkuat dengan (masih) berlangsungnya net sell asing Rp534 miliar. Pada hari perdagangan kemarin (29/10), IHSG terangkum naik +0.25% ke level 6,281.

Beberapa sektor yang mendorong kenaikan IHSG bisa lihat di bawah ini:

 

Macro View

Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2019 adalah sebesar 5.05%. Hal itu disebabkan oleh tantangan dari tekanan ekonomi dan keuangan global yang tidak kondusif.

 

Daily Outlook

Data Pending Home Sales AS naik 3.9 dalam basis tahunan, dengan mudah mengalahkan ekspektasi pasar yang hanya sebesar 1.4 persen. Sementara itu, investor akan memperhatikan rapat The Fed pada hari ini dan esok. Ini bisa jadi peluang baik untuk IHSG, dengan beberapa saham LQ-45 yang kemarin cukup banyak di borong oleh asing.

 

Berita Emiten

Bisnis emiten produsen beras merek Topi Koki, Buyung Poetra Sembada (HOKI), makin tanak. Kuartal III-2019, perusahaan ini mencatatkan pendapatan Rp1.23 triliun, naik 16.04% dari pendapatan kuartal III-2018 yang sebesar Rp1.06 triliun. Kenaikan pendapatan tersebut juga meningkatkan laba bersih HOKI sebesar 7.59% menjadi Rp76.13 miliar. Sebagai perbandingan, HOKI mencatat laba bersih Rp70.76 miliar pada kuartal III-2018.

Sementara itu, Puradelta Lestari (DMAS) mencetak kinerja mentereng hingga kuartal ketiga tahun ini. Pendapatan emiten properti Grup Sinarmas tersebut melonjak 220.59% secara tahunan menjadi Rp1.27 triliun pada periode Januari-September 2019. Penjualan terbesar perusahaan yang mengembangkan Kota Deltamas ini berasal dari penjualan lahan industri hingga mencapai Rp648.90 miliar. Penjualan itu terhitung naik 107.27% secara tahunan dari sebelumnya Rp313.07 miliar.

 

Teknikal

  • Indeks Overall Trend Short Term: Uji level MA200
  • Price: Di atas MA5
  • Volume: Aktivitas beli kembali meningkat
  • Signal: Uji level penguatan jangka pendek

Ulasan Saham 30 Oktober: Dari PWON

 

Range IHSG: 6,250 - 6,310

Prediksi: Bullish

 

Saham-Saham Pilihan

1. Pakuwon Jati (PWON)

Last Price: 625

Potential Trend: Reversal-Bullish

Emiten ini diikuti oleh volume beli, dengan RSI yang masih berada di level 57.4%. Potensi positif untuk kembali menguat bisa dinantikan setelah MA5 memotong ke atas MA20.

Action: Hold

  • TP: 640 dan 650
  • Support: 620
  • Cut Loss: 590
  • Area Buy: 620-625

 

2. Astra Internasional (ASII)

Last Price: 6,975

Potential Trend: Bullish

Berada di upper band Bollinger Bands, volume beli masih stabil. MA5 di atas MA9 dan MA20. Jika berhasil mempertahankan penguatannya, maka saham ini berpotensi mendekati MA200 (7,250).

Action: Hold

  • TP: 7,050 dan 7,100
  • Support: 6,800
  • Cut Loss: 6,600
  • Area Buy: 6,800-,6850

 

3. Perusahaan Gas Negara (PGAS)

Last Price: 2,350

Potential Trend: Reversal-Bullish

Big accum. volume beli stabil, dan harga berada di upper band Bollinger Bands. Namun, waspadai sinyal RSI di level 82.6% (sudah overbought).

Action: Sell on Strength

  • TP: 2,400 dan 2,450
  • Support: 2,320
  • Cut Loss: 2,250
  • Area Buy: 2,320-2,350

 

4. Bumi Serpong Damai (BSDE)

Last Price: 1,475

Potential Trend: Sell on Strength

Volume beli tinggi, dengan diikuti oleh kenaikan harga yang saat ini berada di upper band Bollinger Bands. Akan tetapi, sebaiknya waspadai RSI yang sudah jenuh beli (overbought).

Action: Sell on Strength

  • TP: 1,490 dan 1,520
  • Support: 1,420
  • Cut Loss: 1,400
  • Area Buy: 1,420-1,440
Arsip Analisa By : Aditya Putra

Aditya Putra telah aktif di dunia saham selama lebih dari 6 tahun dan hingga saat ini masih menjadi seorang Equity Analyst di perusahaan sekuritas. Aditya menyukai Value Investing, selalu berhasrat menemukan 'Hidden Gems' di saham-saham Small Caps Indonesia, dan terus mengamati saham-saham yang 'salah harga'.