Advertisement

iklan

10 Fakta Menarik Tentang Yuan China

Tahukah Anda, bahwa "Yuan" aslinya bermakna "bundar"? Dan apakah Anda juga tahu, kalau mata uang ini punya dua nilai tukar berbeda? Simak lebih lanjut disini.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

1. Mata Uang Resmi China Adalah Renminbi, Bukan Yuan

Di Indonesia, mata uang Republik Rakyat China kerap disebut sebagai Yuan, padahal nama aslinya adalah Renminbi. "Yuan" adalah sebutan bagi satuannya. Dalam hal ini, Renminbi berbeda dengan Rupiah yang selain menjadi nama mata uang resmi juga menjadi sebutan untuk satuan. Jadi, jika diumpamakan dalam pembicaraan, "Berapa Rupiah harganya?" kita bisa menjawab "Seribu Rupiah" maka "Berapa Renminbi harganya?" bisa dijawab dengan "Seribu Yuan".

Di sisi lain, karena "yuan" merupakan penyebutan satuan, maka dalam bahasa Mandarin itu juga bisa digunakan sebagai satuan bagi mata uang lain , seperti Yen Jepang dan Won Korea.

 

2. Yuan = Koin Bundar

Secara harfiah, jika ditulis dalam konteks formal, "yuan" (圓) artinya "koin bundar". Ini merujuk pada koin perak bundar yang dulu berlaku di jaman Dinasti Qing. Sedangkan dalam konteks informal, "yuan" ditulis dalam huruf (元), secara harfiah bermakna "permulaan".

Sedangkan renminbi secara harfiah bisa diartikan "uang rakyat". Itu merupakan hasil kependekan dari berbagai nama mata uang yang sebelumnya digunakan sebagai alat pembayaran legal di China.

 

3. Yuan = Won = Yen?

Dalam hal penamaan mata uang, Korea dan Jepang memiliki mata uang yang secara etimologi berakar pada kata yang sama. "Won" dalam bahasa Korea dan "Yen" dalam bahasa Jepang juga memiliki arti klasik "bundar". Bahkan penulisan formal "Yuan" dulu pernah digunakan juga untuk "Won" di Korea (hanja) sebelum kemudian diubah menjadi penulisan dengan hangeul seperti sekarang.

 

4. Dijuluki Redback Dan Bergambar Mao Zedong

Karakter apa yang paling mencolok dari Renminbi? Pertama adalah Mao Zedong, dan kedua adalah warna merah. Uang kertas Renminbi yang lama pernah menggunakan gambar ilustrasi sosok dari suku-suku minoritas China, seperti Tibet, Mongol, Hui, Miao, Uyghur, dll. Namun di seri-serinya yang terbaru, sosok Mao Zedong mendominasi ilustrasi di pecahan uang kertasnya, disertai dengan panorama dan bunga-bungaan. Ada juga gambar dari beberapa pemimpin lainnya di seri sebelumnya, tetapi gambar Mao Zedong telah menjadi salah satu icon bagi Renminbi, sebagaimana juga warna merah ini. 

Yuan

Sehubungan dengan rupa lembaran 100 yuan yang berwarna merah, media Barat menjulukinya "redback", berlawanan dengan Dolar AS yang kerap disebut "greenback".

 

5. Uang Kertas Pertama Di Dunia

Tahukah Anda bahwa penemu kertas berasal dari China? Tsai Lun, seorang kasim dari Dinasti Han menemukan proses pembuatan kertas di tahun 105. Sebelumnya, orang hanya menulis pada kayu, tulang, kerang, kulit pohon, dan bambu. Uang kertas pertama dunia pun digunakan di China, meskipun basis penghitungan masih koin tembaga. Seperti dibawah ini, gambar uang kertas dari jaman Dinasti Song.

Uang Kertas Dinasti Song

 

6. Jiao Dan Fen

Ingat jaman dulu Rupiah punya pecahan yang lebih kecil, disebut "sen"? Renminbi pun juga demikian, tetapi nama pecahan yang lebih kecilnya adalah Jiao dan Fen. Unit-unitnya: 1 Yuan = 10 Jiao = 100 Fen. Sayangnya di seri Renminbi terakhir (kelima), fen sudah tidak ada. Pecahan terkecil hadir dalam bentuk uang koin adalah 0.1 Yuan (1 Jiao) dan 0.5 Yuan (5 Jiao).

 

7. Bukan Alat Pembayaran Resmi Di Hong Kong Dan Makau

Renminbi adalah alat pembayaran resmi di China daratan, tetapi daerah khusus Hong Kong dan Makau punya mata uang resmi sendiri. Hong Kong menggunakan Dolar Hong Kong, sedangkan di Makau menggunakan Pataca. Di Hong Kong, misalnya, sebagian besar toko menolak menerima Yuan, dan di beberapa lokasi yang mau menerimanya pun nilai tukarnya disebut-sebut kurang bagus. 

 

8. Nilai Tukar Tidak Sepenuhnya Mengambang

Di awal sejarahnya, Renminbi dijaga agar bernilai tukar tetap 2.46 Yuan per Dolar AS, kemudian direvaluasi hingga 1.50 Yuan. Namun ketika pasar dalam negeri Tirai Bambu mulai dibuka bebas pada 1980an, pemerintahnya mulai mendevaluasi nilai tukar agar harga barang-barang yang diekspornya jadi lebih kompetitif, hingga mencapai "puncak" level terlemah 8.62 Yuan per Dolar AS pada 1994.

Bulan Juli Tahun 2005, patokan terhadap Dolar itu sempat dilepas beberapa waktu, tetapi kemudian dipasang lagi. Kini, bank sentralnya menerapkan sistem managed floating, dengan menetapkan kisaran tertentu dimana nilai tukarnya bisa bergerak. Kisaran itu pun sering diubah-ubah. Artinya, nilai tukar Yuan tidak mengambang di pasar sepenuhnya seperti umumnya mata uang seperti Dolar AS, Euro, atau Rupiah.

 

9. Satu Mata Uang, Dua Nilai Tukar

Jika Anda kerap mengunjungi situs berita keuangan internasional seperti Bloomberg atau Reuters, maka Anda akan tahu bahwa Renminbi memiliki dua kode ISO, yaitu CNY dan CNH, yang mana bagi masing-masing memiliki nilai tukar berbeda. Saat artikel ini ditulis, misalnya, kurs USD/CNY adalah 6.5199, sedangkan USD/CNH 6.6379. Dalam periode waktu yang singkat, arah pergerakan nilai tukarnya pun tidak selalu serempak; salah satu bisa naik, sedangkan satunya turun.

Keduanya sama-sama dirilis oleh bank sentral People's Bank of China, tetapi penggunaannya berbeda. CNY mengacu pada mata uang yang hanya bisa dipindahtangankan di dalam batas wilayah China (mainland), sedangkan CNH yang kadang juga disebut sebagai offshore Yuan, bisa dipertukarkan di luar wilayah tersebut. Hong Kong merupakan hub internasional bagi pasar offshore Renminbi.

Perbedaan mencolok lain diantara keduanya adalah nilai CNY dibatasi dalam kisaran tertentu oleh bank sentralnya, tetapi CNH tidak. Inilah kenapa pergerakan nilainya bisa berbeda. Apakah ini berarti intervensi bank sentral China tak berimbas pada CNH? tidak juga. Memang tidak berdampak langsung, tetapi secara psikologis, kisaran nilai tukar yang ditetapkan bank sentral China tetap mempengaruhi nilai CNH.

 

10. Obligasi Renminbi Disebut Juga "Dim Sum Bond"

Obligasi, atau surat utang, bisa diterbitkan dalam valuta asing seperti Dolar AS, Euro, Yen Jepang, maupun Renminbi. Obligasi yang diterbitkan dalam valas tertentu, maka pembayarannya kembali juga harus dalam valas itu. Pemerintah Indonesia, misalnya, pada awal Agustus 2015 sukses merilis "Samurai bond", atau obligasi berdenominasi Yen, untuk keempat kalinya.

Nah, seiring dengan makin populernya Renminbi, kini makin banyak korporasi yang menerbitkan obligasi dalam denominasi mata uang tersebut. Obligasi-obligasi itu lebih akrab disebut "Dim Sum Bond". Dim Sum Bond dari perusahaan diluar China pertama kali dikeluarkan oleh McDonald's pada tahun 2010.

Secara tidak langsung, maraknya penerbitan Dim Sum Bond tersebut mengindikasikan peningkatan pamor Yuan sekarang. Lalu, apakah ini saatnya berinvestasi disini? Anda bisa menyimak pembahasannya di artikel editorial Seputarforex, "Inikah Saatnya Berinvestasi Di Yuan?"

 

Jika Anda memiliki pertanyaan lain seputar Yuan China, selain dari kolom komentar, Anda juga bisa langsung bertanya pada ahli kami pada forum tanya jawab berikut ini.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Wardani
Bagaimana sejarahnya kog bisa ditetapkan ada dua nilai tukar ya? CNY dan CNH? Adakah teori dalam dunia keuangan yang mendukung pelaksanaanya seperti itu?
A. Muttaqiena
Latar belakangnya adalah Bank Sentral China yang ingin membatasi peredaran mata uangnya dan mengendalikan nilai tukarnya. Satu mata uang dua nilai tukar begini memang tidak umum dilakukan, kalau bicara teori pun tak ada yang merekomendasikan, tetapi sah-sah saja.
Seputarforex
Selain melalui komentar, Anda dapat mengikuti diskusi langsung dengan ahlinya pada forum tanya jawab berikut loh!
Pertanyaan akan langsung dijawab langsung oleh ahli dari seputarforex!
Jantje Marco
maaf numpang nanya,,kalau kayak gini masih bisa ditukar apa nggak?