10 Negara Penghasil Kakao Terbesar Di Dunia

Tahukah Anda, cokelat yang biasa dikonsumsi sehari-hari berasal dari biji tanaman kakao lho... Yuk simak 10 negara penghasil kakao terbesar di dunia berikut ini.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Apakah Anda seorang penggemar cokelat? Suka dengan segala olahan berbahan dasar cokelat? Atau tertarik dengan bisnis di dunia per-cokelat-an? Bagi para penggemarnya, menikmati cokelat dalam berbagai olahan adalah surga dunia. Cokelat dapat dengan mudah ditemui dalam bentuk batangan, minuman, kue, selai, dan masih banyak lagi. Sementara bagi kalangan pebisnis, cokelat memberikan peluang bisnis yang cukup meyakinkan.

olahan coklat dari kakao

Aneka olahan cokelat yang kita konsumsi sehari-hari berasal dari biji kokoa alias buah tanaman kakao. Kakao sendiri biasanya tumbuh pada area hutan hujan tropis dengan ketinggian sekitar 0-600 m di atas permukaan laut. Pertama kali tumbuh di wilayah Amerika Tengah sekitar 5000 tahun lalu, tanaman kakao kini sudah dibudidayakan di seluruh dunia. Hal ini tentu tak mengherankan, mengingat kakao menjadi salah satu komoditas yang banyak diperdagangkan. Saat artikel ini ditulis, harga kakao yang diperdagangkan di Intercontinental Exchange (ICE) mencapai USD2,344.50 per ton.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh FAO (Organisasi Pangan dan Perkebunan AS), berikut ini adalah 10 negara penghasil kakao terbesar di dunia:

 

10. Kolombia

Sebelum Kolombia, Meksiko sempat bergabung sebagai negara produsen kakao terbesar di dunia. Sayangnya, laju produksi kakao di Meksiko melambat pada tahun 2010, yang pada waktu itu mencatat produksi sebesar 50,114 ton. Salah satu penyebab kegagagalannya adalah hama yang menyerang tanaman kakao, yakni hama Frosty pod rot. Karena hama inilah, produksi kakao Meksiko mengalami penurunan, hingga akhirnya Meksiko tergeser ke urutan 13.

Hama Frosty Pod Rot

(Ulasan tambahan mengenai hama Frosty pod rot dapat dibaca di halaman berikut: Frosty pod rot).

Sebagai gantinya, Kolombia muncul sebagai negara produsen kakao terbesar ke-10 di dunia. Meskipun sudah memiliki persediaan yang cukup sejak tahun 1980-an, tetapi produktivitas Kolombia baru berkembang secara maksimal dalam beberapa tahun belakangan ini. Pemerintah negara ini mulai mengoptimalkan produksi kakao dengan melakukan penanamanan 100,000 hektar lahan baru, serta memperbarui sekitar 80,000 hektar lahan tua. Dari luas area ini, produksi kakao di Kolombia mencapai 56,808 ton per 2017.

 

9. Republik Dominica

Republik Dominika patut dijadikan contoh bagi negara-negara produsen cokelat lain. Pasalnya, pemerintah Dominika menerapkan proses pengolahan kakao yang ramah lingkungan. Di samping itu, negara ini juga menjadi pelopor Fair Trade tersertifikasi sejak 2009 hingga saat ini. Perlu diketahui bahwa Fair Trade adalah sistem perdagangan berkelanjutan yang berusaha untuk membantu produsen terpinggirkan (dalam hal ini petani kakao) melalui sistem pembayaran adil, kondisi tempat kerja yang layak, serta berbagai bantuan teknis (seperti desain, pembukuan) maupun program sosial.

Fair Trade tersertifikasi

Kakao yang diproduksi di Republik Dominika ini terdiri atas dua jenis. Pertama adalah kakao yang harganya agak lebih murah dengan tekstur daging seperti butter, dan disebut sebagai jenis cokelat Sanchez. Kedua adalah kakao dengan tekstur daging yang lebih kering dan cocok difermentasi, disebut juga sebagai cokelat Hispaniola. Dengan kedua jenis tersebut, jumlah produksi kakao Republik Dominika mencapai 86,599 ton per 2017.

 

8. Peru

Peru rupanya tak hanya dikenal sebagai negara penghasil kakao terbesar kedelapan di dunia, tetapi juga produsen koka. Koka adalah bahan dasar pembuatan kokain, salah satu narkotika ilegal yang peredarannya hampir meluas ke seluruh penjuru dunia. Meskipun ilegal, mayoritas petani Peru menanam koka sebagai bahan minuman sehari-hari sekaligus obat, layaknya teh atau kopi.

komoditas kakao di Peru

Sebagai akibat dari pertumbuhan koka yang cukup tinggi di Peru, banyak petani kakao terpaksa bangkrut karena keterbatasan lahan tanam yang bisa dipakai. Pun, tingginya harga jual koka juga menjadi salah satu daya tarik bagi petani, sehingga mereka memutuskan untuk beralih menjadi petani koka. Meskipun demikian, bukan berarti jumlah panen kakao di Peru tidak bisa maksimal. Berdasarkan data yang diambil dari FAO, jumlah produksi kakao di Peru per tahun 2017 adalah sebanyak 121,825 ton. Angka inilah yang mengantarkan Peru sebagai negara kedelapan penghasil kakao terbesar di dunia.

 

7. Ekuador

Di Ekuador, kakao sudah diproduksi dan dikonsumsi sejak zaman masyarakat Ekuador kuno. Hal ini diketahui dari hasil penemuan seorang arkeolog berupa lukisan tembikar berusia 5000 tahun. Lukisan tersebut menggambarkan jejak-jejak sejarah tentang industri kakao Ekuador kuno. Karena menjadi salah satu industri kakao tertua di dunia, maka kualitas biji kakao Ekuador layak diacungi jempol. Bagi para penikmat cokelat, biji kakao Ekuador banyak dicari karena predikatnya sebagai "high-quality chocolate".

komoditas kakao di Ekuador

Meskipun terkenal dengan biji kakao bercita rasa tinggi, ternyata jumlah produksi kakao di Ekuador ini tak seberapa. Berdasarkan data FAO, jumlah produksi kakao di Ekuador per 2017 adalah sebanyak 205,955 ton. Dengan angka produksi ini, maka Ekuador harus sudah berpuas hati menempati posisi ketujuh sebagai negara penghasil kakao terbesar di dunia.

 

6. Brazil

Tak hanya dikenal sebagai negara produsen kopi, Brazil juga memiliki popularitas tinggi sebagai negara penghasil kakao terbesar di dunia. Sejak 1998, Brazil menjadi negara penghasil sekaligus konsumen kakao terbesar di dunia. Saking tingginya tingkat konsumsi akan Kakao, pemerintah Brazil bahkan masih perlu mengimpor kakao dari negara lain.

Berdasarkan data ABICAB (Asosiasi Industri Cokelat Brazil) yang dihimpun dalam situs thebrazilbusiness[dot]com, jumlah konsumsi penduduk Brazil terhadap cokelat memiliki presentase yang cukup beragam. Sebanyak 75% penduduk mengkonsumsi cokelat asli, sementara 35% di antaranya lebih memilih konsumsi cokelat dalam bentuk minuman atau makanan. Jika dihitung secara rata-rata, jumlah konsumsi cokelat per orang adalah sekitar 2.2 kg per tahunnya.

jumlah konsumsi coklat di Brazil

Menurut data terakhir yang diperoleh dari FAO pada tahun 2017, produksi kakao di Brazil mencapai 235,809 ton. Angka ini tentu tak mencukupi kebutuhan nasional dengan jumlah penduduk sebanyak 180 juta jiwa, sehingga tak heran jika pemerintah Brazil masih memerlukan impor kakao dari negara lain. Meskipun demikian, Brazil menjadi negara penghasil kakao terbesar di benua Amerika.

 

5. Kamerun

Salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia ada di daratan Afrika, yakni Kamerun. Negara ini menjadi negara penghasil kakao terbesar kelima di dunia, dengan jumlah produksi sekitar 295,028 ton per 2017.

komoditas kakao

Meski menjadi salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia, nyatanya industri kakao di Kamerun kini sedang terancam. Pasalnya, hasil panen kakao tidak di-manage dengan baik, sehingga kelangsungan industri ini pun cukup menghawatirkan. Sebut saja pengelolaan tanaman kakao yang tidak memadai, usia pohon kakao yang telah melewati batas, serta tidak adanya peremajaan pohon kakao baru. Ketiga permasalahan tersebut hingga kini masih menjadi polemik yang belum kunjung ditemukan solusinya.

 

4. Nigeria

Pada 2013 silam, jumlah produksi kakao Nigeria berada pada angka 367,000 ton. Kemudian pada 2014, jumlah produksi mengalami peningkatan sebanyak 50,000 ton, dengan jumlah panen total mencapai 421,200 ton. Menurut data terakhir yang dihimpun dalam situs FAO, Nigeria berhasil memproduksi 328,263 ton kakao pada 2017. Angka ini lantas menempatkan Nigeria ke posisi empat sebagai negara penghasil kakao terbesar di dunia.

komoditas kakao di Nigeria

Sejak tahun 1950 hingga 1960-an, industri kakao memainkan peranan penting bagi perekonomian Nigeria. Sebagai komoditas ekspor utama sektor pertanian, kakao menjadi penghasil devisa paling dominan. Hal ini tentu tak lepas dari segala bentuk perhatian pemerintah terhadap pengembangan industri kakao. Salah satunya dengan menyediakan teknologi pertanian yang semakin canggih. Pun, meningkatnya harga kakao secara global serta permintaan yang semakin banyak menjadi kunci keberhasilan peningkatan jumlah produksi kakao Nigeria pada 2014 silam.

 

3. Indonesia

Indonesia menjadi satu-satunya negara di benua Asia yang menjadi salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Sejak mulai menanam kakao pada awal 1980-an, jumlah produksi kakao Indonesia cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Data terakhir yang diperoleh dari FAO, jumlah kakao yang berhasil diproduksi Indonesia adalah sebanyak 659,776 ton pada tahun 2017.

Meskipun demikian, jumlah produksi pada tahun 2017 tersebut nyatanya mengalami penurunan dibandingkan jumlah produksi pada tahun 2014. Jika pada 2014 Indonesia mampu memproduksi sekitar 728,400, tahun-tahun berikutnya jumlah produksi kakao Indonesia semakin menurun.

komoditas kakao di Indonesia

Dikutip dalam halaman Media Indonesia, Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) Soetanto Abdoellah mengungkapkan, penurunan jumlah produksi kakao Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berkurangnya luas lahan tanam yang sebelumnya 1.6 juta ha menjadi hanya 1.2 juta ha, ditambah dengan banyaknya tanaman kakao yang sudah rusak dan tua, menjadi beberapa faktor penyebab berkurangnya jumlah produksi kakao di Indonesia. Maka dari itu, ia meminta pemerintah untuk serius dalam meningkatkan kinerja produksi kakao, baik dengan intensifikasi maupun ekstensifikasi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah produksi kakao dalam negeri, sehingga kebutuhan nasional akan kakao dapat terpenuhi.

 

2. Ghana

Kakao adalah komoditas ekspor agrikultur terpenting di Ghana. Tanaman yang dibawa oleh seorang pandai besi dari Ghana bernama Tetteh Quarshie ini mulai banyak dibudidayakan di wilayah Ashanti, Brong-Ahafo, wilayah tengah, timur, barat, serta wilayah Volta. Area tersebut dipilih sebagai tempat budidaya karena curah hujan yang sesuai dengan standar tumbuhnya tanaman kakao, yakni sekitar 1,000-1,500 mm per tahun.

Ghana sebagai produsen kakao

Menurut data dari FAO, jumlah produksi kakao di Ghana adalah sebanyak 883,652 ton per tahun 2017. Tingginya jumlah produksi tersebut tak hanya dikarenakan oleh kesesuaian kondisi lahan tanam dengan cuaca, tetapi juga banyaknya kakao yang ditanam oleh hampir dua pertiga penduduk Ghana. Namun, karena perkebunan kakao di Ghana dimiliki dan dikelola oleh petani sendiri, maka biaya operasionalnya pun cenderung tinggi.

 

1. Côte d'Ivoire (Pantai Gading)

Negara penghasil kakao terbesar di urutan pertama adalah Pantai Gading, dengan jumlah produksi pada tahun 2017 mencapai 2,034,000 ton, setara dengan 30% total produksi kakao dunia. Dua pertiga sumber pendapatan negara ini diperoleh dari produksi kakao. Beberapa perusahaan ternama seperti Cadbury dan Nestle menggunakan kakao dari negara ini.

olahan coklat dari kakao

Meskipun demikian, ternyata nasib petani kakao di Pantai Gading tak sebaik hasil panen mereka. Dilansir dari CNN, pendapatan per kapita Pantai Gading tidak sampai USD1,000, sementara jumlah penduduk di sana terhitung sebanyak 3.5 juta jiwa. Di samping nasib petani yang kurang sejahtera, adanya perbudakan terhadap anak-anak dengan kewajiban bekerja selama 100 jam per minggu, hingga terjadinya kekerasan fisik, adalah bentuk permasalahan yang timbul demi pemenuhan kebutuhan nasional akan kakao. Bahkan, anak-anak yang dipekerjakan tersebut masih di bawah umur tanpa adanya edukasi di sela-sela jam kerja.

Secara lebih jelas, infografis berikut ini menyajikan data 10 negara penghasil kakao terbesar di dunia, berikut dengan jumlah produksinya pada tahun 2017:

10 Negara Penghasil Kakao Terbesar di Dunia

 

Harga kakao dalam beberapa tahun belakangan ini tergolong lesu. Selain karena melimpahnya persediaan dari negara-negara produsen kakao di atas, terdapat beberapa penyebab lain yang bisa berdampak pada harga komoditas ini. Info selengkapnya dapat dilihat pada artikel "Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Kakao".

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.