OctaFx

iklan

10 Negara Yang Menerbitkan Mata Uang Kripto Sendiri

284505

Meski mata uang kripto yang saat ini sudah ada tidak diterima di semua negara, tapi ternyata ada beberapa negara yang justru membuat mata uang kripto sendiri.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dengan harga Bitcoin yang pernah mencapai 20,000 US Dollar, perkembangan mata uang digital semakin mendapatkan perhatian publik. Meskipun banyak yang khawatir melihat volatilitas harga Bitcoin, teknologi Blockchain di balik mata uang kripto banyak dipandang positif oleh beberapa negara. Bahkan, negara-negara tersebut berinisiatif untuk mengeluarkan mata uang digital mereka sendiri dengan memanfaatkan teknologi Blockchain. Berikut adalah contoh 10 negara yang telah, sedang, atau masih berencana menerbitkan mata uang kripto mereka sendiri.

Negara yang menerbitkan uang kripto sendiri

 

1. Ekuador

Ekuador adalah negara pertama dengan sistem pembayaran dan mata uang digital yang dijalankan oleh pemerintah. Pada tahun 2015, negara ini merancang Sistema de Dinero Electronico untuk mendukung sistem moneternya. Skema tersebut awalnya dirancang untuk menekan pengeluaran pemerintah dalam hal mengganti uang kertas lama dengan uang baru, yang biayanya mencapai lebih dari 3 juta US Dollar per tahun.

Sebagai ganti uang kertas, mata uang elektronik bisa disimpan dalam Wallet seluler. Kini, warga Ekuador dapat menggunakan mata uang digital tersebut untuk membayar pajak dan layanan-layanan tertentu seperti taksi dan fasilitas umum lainnya.

 

2. Tunisia

Pada 2015, Tunisia membuat keputusan untuk meningkatkan mata uang digital eDinar menggunakan Blockchain. Hal itu dilakukan dengan bantuan platform kontrak universal, Monetas. Menurut sebuah wawancara dengan kepala eksekutif Monetas, Johann Gevers, eDinar dapat digunakan untuk melakukan transfer uang, membayar barang dan jasa, serta mengelola dokumen identifikasi resmi pemerintah.

Gevers berkata, "Kami senang dapat menjalin kemitraan dengan pemerintah Tunisia, Pos Nasional, dan DigitUS untuk meningkatkan inklusi keuangan dengan platform uang tunai terbuka, yang mampu beroperasi di seluruh jaringan seluler. Ini adalah langkah pertama dan penting untuk menuju dunia yang lebih bebas dan lebih sejahtera".

3. Senegal

Awal tahun 2018, Senegal memutuskan untuk mengikuti langkah Tunisia dan meluncurkan mata uang kripto sendiri. Mata uang kripto ini memiliki nilai yang sama dengan mata uang Fiat Senegal, yaitu Franc CFA. Bank Senegal, Banque Regionale de Marches (BRM) dan e-currency Mint adalah dua institusi yang berjasa dalam penciptaan mata uang digital ini. Pernyataan dari BRM dan eCurrency Mint mengatakan: eCFA (electronic CFA) adalah instrumen digital dengan keamanan tinggi yang dapat disimpan di semua Dompet digital serta e-money.

EFCA diharapkan dapat mengamankan likuiditas universal, memungkinkan akses tanpa batas, dan memberikan transparansi kepada seluruh ekosistem digital di WAEMU (West African Economic and Monetary Union). Mata uang ini mengadopsi karakteristik Blockchain dan telah dirancang agar kompatibel dengan mata uang digital lainnya di Afrika.

4. Swedia

Bank sentral Swedia, Riksbank, dilaporkan mencari cara untuk memperkenalkan mata uang digital ke negara tersebut. Menurut isu yang beredar, uang kripto tersebut akan bernama eKrona. Hal ini masuk akal, karena Swedia diproyeksikan menjadi salah satu negara pertama di dunia yang benar-benar kehabisan uang setelah melihat penurunan dramatis dalam penggunaan uang tunai.

Namun, Swedia tidak akan terburu-buru dalam memperkenalkan uang kripto negara mereka. Hingga akhir tahun 2018, bank sentral Swedia masih memiliki banyak hal yang perlu diselesaikan, sehingga peluncuran eKrona tidak akan terjadi di tahun ini.

5. Estonia

Pemerintah Estonia telah memposisikan diri sebagai salah satu negara paling ramah teknologi di dunia. Bahkan, Estonia menjadi salah satu negara pertama yang menyimpan datanya di Blockchain, sebagai bagian dari program e-Residency. Melihat keberhasilan ini, pemerintahan Estonia ingin meluncurkan mata uang digitalnya sendiri yang bernama Estcoins.

Kaspar Korjus, Managing Director di e-Residency, menyatakan kebanggaan atas kesuksesan pengembangan teknologi Blockchain di negaranya. Korjus juga mengatakan bahwa pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, telah mendukung pemerintah Estonia dengan rencananya. Negara mengharapkan warga yang terdaftar dalam e-Residency untuk memberikan umpan balik mengenai "bagaimana penggunaan mata uang digital dapat berfungsi dengan baik di Estonia".

6. China

Berdasarkan informasi dari Bloomberg, bank sentral China (People's Bank of China atau PBoC) telah melakukan uji coba mata uang kriptonya sendiri. Seperti Swedia, warga China adalah pendukung besar sistem pembayaran digital. Teknologi e-payment seperti WeChat dan Alipay bahkan berasal dari negara tersebut.

mata-uang-kripto-china

(Baca juga: China Pertahankan Larangan Bitcoin Meski Dukung Blockchain)

Mata uang digital yang sedang direncanakan China nantinya akan menggunakan teknologi Blockchain, sehingga memungkinkan bank untuk melacak transaksi dan mengumpulkan data pertumbuhan pasokan uang negara. Namun tidak seperti negara lain yang ingin menggunakan mata uang digital bersama mata uang yang telah ada, penggunaan mata uang digital di China diperkirakan akan mengganti peran uang kertas di negara tersebut. Kebijakan ini mirip dengan proyek demonetisasi yang tahun lalu dilakukan oleh perdana menteri India, Narendra Modi.

7. Rusia

Awal tahun 2018, terungkap bahwa Rusia sedang menyelidiki kemungkinan penerbitan mata uang digital di negara tersebut. Wakil ketua Bank Sentral Rusia, Olga Skorobogatova, mengatakan, "Regulator dari semua negara setuju bahwa inilah saatnya untuk mengembangkan cryptocurrency nasional, ini adalah masa depan. Setiap negara akan menentukan kerangka waktu tertentu. Setelah proyek percontohan kami, kami akan memahami sistem apa yang bisa digunakan untuk mata uang nasional kami".

Rencana peluncuran mata uang kripto di negara tersebut semakin melaju dalam beberapa waktu terakhir. Disebut-sebut sebagai Kripto Rubel, uang digital Rusiatelah beberapa kali dikabarkan perkembangannya, meski juga selalu ada komentar-komentar dari pejabat pemerintah yang pesimis.

8. Jepang

Financial Times melaporkan bahwa bank-bank Jepang berencana untuk memperkenalkan mata uang digital untuk Olimpiade Tokyo 2020. Mata uang digital yang disebut sebagai Koin J itu, akan digunakan untuk membayar barang dan mentransfer uang ke Smartphone. Mata uang itu juga dirancang agar dapat dikonversi menjadi Yen secara proporsional melalui aplikasi. Toko-toko di Jepang akan difasilitasi alat pemindai kode QR untuk memungkinkan transaksi dengan Koin J. Selain itu, bank akan memberikan layanan digital untuk Koin J secara gratis, dan pembayaran dilakukan saat data belanja konsumen telah diterima.

Mata uang digital baru adalah cara untuk menangkal ancaman dari perusahaan teknologi China, Alibaba, yang baru-baru ini meluncurkan layanan pembayaran selulernya di Jepang. Penerbitan mata uang kripto oleh Jepang ini juga didasarkan pada kekhawatiran bank-bank dalam negeri atas data konsumen yang dikirim ke China dan sebaliknya.

9. Venezuela

Venezuela saat ini berada di tengah krisis ekonomi, menghadapi kekurangan pangan kronis dan inflasi tinggi. Untuk mengatasi ini, presiden Nicolas Maduro telah memutuskan untuk menciptakan mata uang kripto mereka sendiri, yakni Petro. Pada peluncuran mata uang kriptonya, Maduro mengatakan bahwa Petro akan memungkinkan Venezuela untuk "maju dalam masalah kedaulatan moneter dan mengatasi blokade keuangan".

Petro Venezuela

(Baca juga: Kripto Resmi Venezuela Bakal Digunakan Untuk Transaksi Dengan Rusia)

Mata uang kripto ini didukung oleh kekayaan minyak, gas, emas, dan berlian di Venezuela. Namun, pihak oposisi dalam pemerintahan Venezeual merasa skeptis dengan kebijakan ini. Angel Alvarado, seorang anggota parlemen dan ekonom Venezuela, mengatakan bahwa Maduro tidak memiliki kredibilitas.

10. Israel

Pada akhir 2017, sebuah sumber di bank sentral Israel mengatakan sedang mempertimbangkan mata uang digitalnya sendiri. Penggunaan mata uang digital ini akan memiliki dua tujuan: mengurangi jumlah uang tunai dalam perekonomian dan menciptakan sistem pembayaran yang lebih cepat.

Mata uang digital baru dari Israel kemungkinan akan terpusat dan mematuhi aturan pencucian uang, tidak seperti Bitcoin. Sumber tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah dapat memasukkan rencana ini dalam paket anggaran dan ekonomi 2019, jika bank memberikan lampu hijau. Semua mata kini tertuju pada Bank of Israel untuk menyatakan sikapnya mengenai hal ini.

 

Kurs bitcoin dan Altcoin yang fluktuatif, serta berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh berbagai negara yang berkaitan dengan penggunaannya, merupakan topik yang menarik untuk diikuti oleh para pengguna mata uang kripto. Di Indonesia sendiri, pengguna Bitcoin makin bertambah dari tahun ke tahun, meskipun OJK telah menunjukkan sikap yang jelas mengenai status mata uang kripto tersebut.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.