OctaFx

iklan

3 Cara Menggunakan Indikator Momentum

Yaitu sebagai trend following indicator, sebagai indikator pembalikan trend (trend reversal) dan sebagai leading indicator dengan isyarat divergensi yang terjadi.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Indikator Momentum mengukur kecepatan dan besarnya perubahan harga dalam periode waktu tertentu. Pada umumnya indikator momentum akan naik ketika arah trend sedang kuat, dan sebaliknya akan turun ketika trend sedang melemah. Pada artikel ini akan diulas mengenai penggunaan indikator momentum yang asli, bukan turunannya seperti Commodity Channel Index (CCI), Relative Strength Index (RSI), atau stochastics.

Indikator Momentum lazim juga disebut dengan Rate of Change (ROC). Momentum dikur pada suatu periode waktu tertentu dengan formula:

Momentum pada periode waktu n = (harga penutupan saat ini / harga penutupan pada periode n) x 100

Periode waktu n secara default yang sering digunakan adalah 14.

Pada umumnya ada 3 cara dalam menggunakan indikator momentum, yaitu: sebagai trend following indicator, sebagai indikator pembalikan trend (trend reversal) dan sebagai leading indicator dengan isyarat divergensi yang terjadi.

1. Menentukan arah trend dengan indikator momentum
Dalam platform trading Metatrader, indikator momentum menggunakan level 100 sebagai acuan.

3 Cara Menggunakan Indikator

Jika garis kurva indikator momentum memotong level 100 dari bawah ke atas, maka pergerakan harga akan cenderung bullish, dan sebaliknya jika memotong level 100 dari atas ke bawah maka pergerakan harga akan cenderung bearish. Untuk menyaring (filtering) arah trend agar diperoleh momentum entry yang probabilitasnya tinggi, bisa digunakan indikator simple moving average (sma), misalnya sma periode 20 seperti pada contoh EUR/USD daily diatas.

2. Sebagai indikator penerusan arah trend atau pembalikan arah trend
Dalam hal ini indikator momentum bisa menunjukkan level overbought dan oversold seperti halnya RSI atau stochastic, tetapi karena zona level overbought dan oversold tidak bisa ditentukan (relatif), maka kita mesti memperhatikan kondisi ekstrem dengan asumsi tertentu. Jika indikator momentum mencapai level tertinggi atau terendah (relatif), kita harus mengasumsikan arah trend masih akan berlanjut seperti sebelumnya hingga pergerakan harga berubah.

Sebagai contoh jika indikator momentum mencapai level tertinggi dan kemudian turun maka kita asumsikan harga masih akan naik, dan kita hanya akan entry sell bila harga telah benar-benar turun. Untuk amannya bisa juga dikonfirmasikan dengan indikator moving average.

3 Cara Menggunakan Indikator

Pada contoh diatas arah panah menunjukkan penerusan arah trend karena pergerakan harga masih diatas garis kurva moving average.

3. Melihat isyarat dari divergensi antara pergerakan harga dan arah pergerakan indikator momentum
Contoh berikut adalah terjadinya divergensi bullish (garis warna biru) dan divergensi bearish (garis warna merah).

3 Cara Menggunakan Indikator

Divergensi bullish yang mengisyaratkan pembalikan arah trend (dari bearish ke bullish) adalah jika pergerakan harga menunjukkan level low yang lebih rendah dari sebelumnya (lower low), sementara indikator momentum menunjukkan level low yang lebih tinggi dari level low sebelumnya (higher low).

Divergensi bearish yang mengisyaratkan pembalikan arah trend (dari bullish ke bearish) adalah jika pergerakan harga menunjukkan level high yang lebih tinggi dari sebelumnya (higher high), sementara indikator momentum menunjukkan level high yang lebih rendah dari level high sebelumnya (lower high).

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Avaboy
tapi ndak ada overbought m oversoldx, jadi sepertix kurang bisa dipake lihat penerusan m reversal.
Gery Hartanto
Untuk menentukan reversal dari indikator ini memang memerlukan bantuan dari indikator lain seperti moving average. Tapi level tengah 100 dari indikator momentum lebih jelas untuk digunakan sebagai penentu arah tren. Bisa dilihat kalau indikator masih belum memotong level 100, tren masih belum menunjukkan penguatan yang berarti. Jika dikombinasi dengan SMA maka indikator momentum ini bisa dijadikan pelengkap yang baik karena pergerakannya sedikit lebih leading dari SMA yang diset pada parameter 20 sedangkan indikator momentum menggunakan parameter 14
Woles99
intinya kl msh prl cr rvrsl dr ovrbght & ovrsold mst psng oscilator laen ky rsi at stochastic
Gery Hartanto
Selain dengan analisa pada level overbought dan oversold, reversal juga bisa dianalisa dari divergen pergerakan indikator dengan pergerakan harga. Dengan cara ini trader malah bisa mendapatkan hasil yang leading ketimbang menunggu pergerakan oscillator lain yang masih lagging dalam merespon level-level overbought dan oversold. Dari isyarat divergen dan juga respon pergerakan indikatr terhadap level tengah 100, sudah bisa diambil posisi untuk entri dan exit yang tepat dengan mengandalkan kedua cara di atas untuk dapat menganalisa arah tren dan juga antisipasi terhadap reversal.
Ricky.hasyim
@ Gery: Divergence ga mesti ada teros gan, malah cenderung jarang kan. lagian kalo divergen rasanya hampir semua oscilator juga bisa di pake buat liat divergence deh
Rusin
ehhh.. indikator momentum bisa juga dipakai untuk oscilator ternyata? menariknya lagi dapat menggambarkan sinyal divergen. nah..master kalo untuk memunculkan sinyal konvergen apakah mampu juga?
Martin S
@Rusin:
Konvergensi dan divergensi sebenarnya hanya istilah untuk menunjukkan perbedaan antara arah pergerakan harga dan arah pergerakan kurva indikator.

Konvergensi artinya pertemuan terjadi bila harga bergerak turun sedang kurva indikator bergerak naik sehingga seolah-olah akan bertemu pada suatu titik, sedang divergensi terjadi bila pada titik tertentu harga bergerak naik sedang kurva indikator bergerak turun sehingga seolah-olah terjadi penyimpangan (divergence) antara keduanya.

Istilah ini digunakan untuk indikator MACD

Dalam hal indikator oscillator seperti momentum ini, maka keadaan divergensi bullish bisa dianggap sebagai kondisi konvergensi sedang keadaan divergensi bearish bisa dianggap sebagai kondisi divergensi (lihat arah gerakan pada gambar terakhir).
Mas Aryo
wah ternyata bener, ane sempet buka artikel soal konvergen sama divergen. sempet bingung karna di contoh konvergen juga pernah ane temui di ilmu divergence trading. jadi sebenernya itu cuma istilah aja ya tapi dalam ilmu trading kalo kondisi harga sama indikator oscillator konverging itu namanya divergence bullish
Martin S
@ Mas Aryo:
Ya benar, konvergensi terjadi jika harga bergerak turun sedang kurva indikator bergerak naik, atau terjadi divergensi bullish pada indikator tersebut. Baca juga: Divergensi Dan Konvergensi Indikator RSI
Pramana Wahyu
Dari yang sy perhatikan, momentum ini sangat tidak jelas utk melihat sinyal overbought dan oversold. Tidak ada level tertentu seperti di RSI dan stochastic, sudah begitu kita masih perlu bantuan SMA 100. Tapi dalam hal divergensi momentum ini sepertinya cukup mudah digunakan. Kalau menurut masta lebih baik mana untuk analisa divergence antara momentu, RSI, stochastic, dan MACD?
Martin S
@ Pramana Wahyu:
- Untuk kondisi overbought dan oversold memang relatif, tidak seperti pada indikator RSI, stochastics atau CCI. Dalam hal indikator momentum kita lihat setelah harga mencapai level terendah (untuk oversold) atau tertinggi (untuk overbought) dan memantul kembali.

- Untuk analisa divergensi, indikator oscillator yang sering digunakan adalah RSI dan stochastics. Namun demikian harus diperiksa untuk setiap indikator mana yang terjadi divergensi, karena keadaan divergensi belum tentu terjadi pada semua indikator oscillator dalam waktu yang bersamaan.

Seperti pada contoh berikut ini divergensi terjadi pada indikator stochastics tetapi tidak terjadi pada RSI dan momentum: