3 Hal Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Keamanan Bitcoin

Bitcoin merupakan mata uang kripto dari teknologi Blockchain yang dikenal aman karena beberapa hal. Agar lebih jelas, yuk ikuti ulasan tentang keamanan Bitcoin di sini.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, Bitcoin merupakan mata uang kripto yang dibangun dengan basis Blockchain (rantai blok), sebuah Ledger (buku besar) terdesentralisasi ke seluruh node jaringan,. Hal ini membuat Bitcoin memiliki berbagai kelebihan terutama pada sisi keamanan.

Blockchain Bitcoin hampir mustahil untuk diretas karena penggunaan enkripsi SHA-256 yang menjamin akal manusia tidak akan mampu menyelesaikan teka-teki matematika tersebut. Lalu, bagaimana tepatnya Blockchain memberikan keamanan lebih dari proses transaksi konvensional yang ada saat ini?

 

Mengungkap Keamanan Bitcoin

 


1. Keamanan Bitcoin Dengan Blok

Sebuah Blockchain, seperti namanya, merupakan sebuah rantai "blok" digital yang berisi catatan transaksi. Setiap blok terhubung ke semua blok sebelumnya dan sesudahnya, membentuk sebuah rantai. Hal ini tentu saja mempersulit peretasan, karena peretas perlu mengubah blok yang berisi rekaman data, serta blok lain yang terkait dengannya untuk menghindari deteksi. Selain itu, Blockchain memiliki beberapa karakteristik yang menyediakan sarana keamanan tambahan.

Keamanan catatan pada Blockchain dijamin melalui teknologi "Kriptografi". Peserta jaringan memiliki Private Key (Kunci Pribadi) mereka sendiri yang hanya diketahui oleh pemilik. Kunci ini bertugas seperti Pin untuk melakukan transaksi, serta bertindak sebagai tanda tangan digital pribadi. Jika sebuah catatan diubah, tanda tangan akan menjadi tidak valid, dan jaringan akan segera mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi. Pemberitahuan dini seperti ini mampu mencegah kerusakan lebih lanjut.

Blockchain merupakan teknologi terdesentralisasi dan didistribusikan ke seluruh node jaringan peer-to-peer (penambang) yang terus diperbarui dan tetap sinkron. Karena Blockchain tidak tersimpan di satu lokasi pusat, Blockchain tidak dapat diretas dari satu komputer saja.

 

Keamanan Blockchain

(Baca juga: Apa Saja Kegunaan Blockchain?)

 

Untuk mengubah 1 data kecil di Blockchain, diperlukan sejumlah daya komputasi besar untuk mengakses setiap instance (setidaknya 51% witness) dari peserta Blockchain. Perubahan pun dilakukan secara bersamaan. Jadi semakin besar sebuah jaringan Blockchain, maka semakin tinggi pula tingkat keamanannya.

 

Blockchain Tidak Dibuat Sama

Saat ini, ada dua jenis Blockchain yang dikenal, yaitu Public (Publik) dan Private (Pribadi). Masing-masing memiliki sejumlah modifikasi dan variasi yang dibuat pengembang. Blockchain Publik dan Pribadi berbeda dalam beberapa hal dan dapat mempengaruhi tingkat keamanan yang diberikan.

Perbedaan yang paling jelas adalah bahwa Blockchain Publik menggunakan komputer yang terhubung ke internet umum untuk memvalidasi transaksi, juga menggabungkannya ke dalam blok untuk ditambahkan ke Ledger. Komputer apapun yang tersambung ke internet dapat berpartisipasi dalam jaringan.

Private Blockchain, di sisi lain, biasanya hanya mengizinkan organisasi yang dikenal untuk bergabung. Bersama-sama mereka membentuk "Jaringan Bisnis" pribadi dan hanya dikhususkan untuk anggota. Perbedaan ini memiliki implikasi signifikan dalam hal penyebaran informasi yang berpotensi rahasia.

 

 

 

Perbedaan lainnya adalah, Blockchain Publik biasanya dirancang dengan prinsip anonimitas, sedangkan Blockchain Pribadi menggunakan identitas untuk konfirmasi keanggotaan dan hak akses.

Blockchain Bitcoin Publik dan Pribadi juga memiliki perbedaan dalam hal bagaimana transaksi diverifikasi. Pada dasarnya, untuk transaksi yang akan ditambahkan ke Blockchain, peserta jaringan harus setuju bahwa transaksi tersebut benar. Konfirmasi dilakukan melalui sebuah proses yang dikenal sebagai konsensus atau kesepakatan bersama.

Bitcoin hingga saat ini merupakan contoh Blockchain Publik yang paling terkenal dan bisa dicapai melalui konsensus penambangan. Dalam penambangan Bitcoin, komputer di jaringan (penambang) mencoba memecahkan masalah kriptografi yang kompleks untuk menciptakan bukti kerja. Kekurangannya adalah, proses ini membutuhkan kekuatan komputasi dan sumber daya yang sangat besar, terutama untuk Blockchain yang sudah berskala besar seperti Bitcoin.

Di satu sisi, Blockchain Pribadi terdiri dari sebuah jaringan kecil, dan konsensus dapat dicapai melalui proses yang disebut "Dukungan Selektif"; pengguna yang dikenal akan memiliki kemampuan untuk memverifikasi transaksi. Blockchain Pribadi menguntungkan untuk bisnis, karena hanya peserta dengan akses dan izin yang sesuai-lah yang dapat berpartisipasi dan mempertahankan Ledger. Kekurangannya adalah, jika suatu saat ada "orang dalam" yang berniat untuk meretas jaringan, maka hal tersebut dimungkinkan karena mereka memiliki izin akses.

Dari sini, bisa diambil kesimpulan bahwa dalam ruang lingkup Bitcoin, Blockchain yang dimilikinya tidak cocok untuk digunakan dalam organisasi atau bisnis tertentu. Hal itu karena sifat Blockchain Bitcoin adalah Publik, sehingga tidak peduli data itu rahasia atau tidak, informasi akan terus tersebar ke seluruh node jaringan. Selain itu, Blockchain dengan model pernambangan tidak praktis untuk digunakan oleh suatu organisasi, karena Blockchain dengan sistem penambangan membutuhkan sumber daya yang semakin besar untuk setiap blok tercipta.

Namun untuk segi keamanan, Blockchain Publik memiliki keamanan tinggi karena node jaringan sudah tercipta secara global, dan konsensus dilakukan oleh jutaan node dari seluruh belahan dunia. Sedangkan Blockchain Pribadi hanya memiliki node yang sangat terbatas, dan ini memungkinkan terjadinya peretasan.

 

2. Seberapa Amankah Blockchain Bitcoin?

Inti dari penggunaan Blockchain adalah memfasilitasi orang-orang yang tidak mempercayai satu sama lain untuk berbagi data berharga. Blockchain memang dibuat menggunakan matematika canggih dan aturan perangkat lunak inovatif yang sangat sulit (hampir tidak mungkin dimanipulasi).

Dalam Blockchain Bitcoin, buku besar disimpan dalam beberapa salinan di jaringan komputer (node). Setiap kali seseorang mengirimkan transaksi ke buku besar, node memeriksa untuk memastikan validitas transaksi tersebut.

 

Seberapa amankah keamanan Blockchain Bitcoin?

(Baca juga: Cara Investasi Aman Pada Teknologi Blockchain)

 

 

Dua hal yang membuat jaringan Blockchain Bitcoin aman adalah:

  1. "Signature" atau tanda tangan kriptografi yang unik untuk setiap blok.
  2. Protokol Konsensus, yakni sebuah proses memperoleh kesepakatan bersama bahwa sebuah transaksi valid.

Signature yang juga biasa disebut dengan Hash membutuhkan banyak waktu dan energi komputasi, sehingga berfungsi sebagai bukti bahwa penambang yang menambahkan blok ke Blockchain telah melakukan pekerjaan komputasi untuk mendapatkan imbalan Bitcoin. Proses ini biasa kita kenal dengan Proof-of-Work atau Bukti Dari Kerja. PoW juga berfungsi sebagai semacam segel, karena untuk mengubah sebuah blok akan membutuhkan Hash yang baru.

Hash juga berfungsi sebagai tautan di Blockchain karena setiap blok baru menyertakan Hash unik dari blok sebelumnya. Jadi, jika Anda ingiin mengubah entri dalam buku besar secara retroaktif, Anda juga harus menghitung Hash baru, tidak hanya untuk blok itu, tetapi juga untuk setiap blok berikutnya. Jika blok baru mengalami konflik dengan yang sudah ada, secara otomatis node lainnya akan menolak perubahan tersebut. Inilah yang membuat tamper-proof Blockchain nyata, yang kita kenal dengan sebutan "immutable".

 

3. Risiko Keamanan Blockchain Bitcoin

Dari sisi penciptaan dan pengelolaan Ledger Blockahin, bisa dipastikan bahwa jaringan mustahil untuk diretas. Namun, tetap ada risiko keamanan yang muncul dari 3rd party (pihak ketiga), yaitu:

 

Kerentanan Wallet

Ada kerentanan nyata dari Dompet Bitcoin ketika menyangkut peretasan dan pencurian. Sebuah laporan dari tim peneliti Universitas Edinburgh mengatakan bahwa mereka menemukan titik-titik terlemah di Dompet perangkat keras yang dapat dieksploitasi. Selain itu, saat ini muncul berbagai risiko keamanan lainnya seperti Phising, Malware, dan lain sebagainya. Aktivitas-aktivitas ilegal itu dapat mencuri Private Address dan Private Key pengguna, sehingga peretas mampu mencuri dana dari Dompet Bitcoin. Dari masalah ini, disarankan untuk menyimpan alamat dan kunci pribadi secara Offline, atau di komputer terpisah yang tidak terhubung ke jaringan internet.

 

Serangan Cyber

Serangan Cyber biasanya ditujukan kepada bursa sebagai 3rd party yang paling rentan terhadap serangan. Hal ini karena mereka menerapkan sistem keamanannya sendiri (bukan Blockchain). Serangan tersebut biasa dikenal dengan Distributed Denial of Services (DDoS). Sebuah laporan dari Imperva menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, bursa Bitcoin telah menjadi target favorit serangan DDoS.

Mt. Gox, salah satu bursa Bitcoin terbesar dunia, pada tahun 2014 telah mengalami serangan DDoS yang menyebabkan kerugian hingga 850,000 unit BTC atau senilai $7.2 miliar. Buntutnya, Mt. Gox tidak mampu memulihkan diri dan mengalami kebangkrutan.

Bitfinex, salah satu bursa terbesar juga telah melaporkan bahwa mereka menghadapi serangan DDos berulang kali menjelang akhir tahun 2017.
Insiden terakhir terjadi pada awal tahun 2018, saat Coincheck mengalami peretasan dengan kerugian sebesar $530 juta (sekitar Rp7.1 triliun).

 

Penipuan Dalam Pertambangan

Karena Blockchain Bitcoin menggunakan konsensus Proof-of-Work, hukum rimba terjadi di sini. Artinya, siapa yang memiliki kekuatan komputasi paling besar akan mendominasi kegiatan pertambangan Bitcoin.

Penambang yang memiliki dominasi paling besar dapat secara egois menghabiskan kesempatan penciptaan blok baru, dan mengambil semua reward yang ada, sehingga penambang kecil akan mati. Konspirasi semacam ini, dalam skala besar dapat dikombinasikan dengan serangan "Sybil" yang mampu menyebabkan kerugian besar di dunia pertambangan Bitcoin.

 

Pengeluaran Ganda

Meskipun hingga kini sudah dilakukan perbaikan terhadap jaringan Blockchain Bitcoin, masih ada risiko munculnya Pengeluaran Ganda.
Peretas dapat melakukan serangan yang akan membuat mereka mendapatkan manfaat dari penggunaan koin untuk dua transaksi yang sama (Pengeluaran Ganda).

 

Serangan 51%

Serangan 51% bisa dilakukan ketika Mining Pool atau Kolam Pertambangan menjadi terlalu kuat, dan memiliki dominasi Hash sebesar 51% atau lebih dari seluruh kekuatan Hash yang ada di jaringan Blockchain Bitcoin. Jika suatu kelompok mendapatkan kekuatan sebesar ini, maka mereka dapat memanipulasi transaksi, baik dengan menambang blok yang tidak valid, atau melakukan pengeluaran ganda secara leluasa.

 

Serangan 51 persen Bitcoin

(Baca juga: Mining Pool, Solusi Mudah Menambang Kripto)

 

Penggunaan rig penambangan ASICS mengharuskan penambang untuk bergabung ke Mining Pool. Misalnya, Antpool sebagai kolam penambangan China yang dioperasikan oleh Bitmain Tech, saat ini telah mengontrol sekitar 27 – 30 persen dari seluruh kekuatan komputasi yang ada. Jika mereka bersekongkol dengan Pool lain dan mendapatkan total kekuatan 51%, maka kelompok tersebut dapat memanipulasi jaringan Bitcoin seperti yang mereka inginkan.

 

 

Tahukah Anda? Blockchain bukanlah satu-satunya teknologi kripto yang dibangun dengan konspe Private. Saat ini sudah ada Private Coin (Koin Privasi) untuk para penggemar mata uang kripto yang mengutamakan kerahasiaan identitas pengguna. Ikuti info selengkapnya di Mengenal Koin Privasi Dan Manfaatnya Di Dunia Kripto.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.