3 Kesalahan Ketika Trading Pada Volatilitas Rendah

167005

Volalitas rendah sebetulnya menguntungkan bagi trader. Namun, tidak sedikit trader melakukan beberapa kesalahan berikut.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Menurut index volatilitas dari DailyFX.com, volatilitas pasar forex akhir-akhir ini cenderung rendah (sampai dengan 12 Maret 2014 saat sumber artikel ini dipublish dailyfx.com). Trader banyak yang frustasi dengan kondisi ini karena mengharapkan pergerakan trending dan terjadinya breakout.

3 Kesalahan Ketika Trading Pada Volatilitas
Volatilitas pasar yang rendah sebenarnya menguntungkan trader karena biasanya membuat pasar bergerak ranging (sideways). Dari penelitian DailyFX banyak trader yang mendulang profit dari kondisi ini, apalagi jika volatilitas rendah terjadi dalam sehari penuh. Ini terjadi karena level support dan resistance cenderung kuat dan konsisten sehingga memuluskan strategi buy pada support dan sell pada resistance, yang lazim disebut strategi pullback atau buy low sell high. Pada keadaan tertentu bisa terjadi beberapa kali harga bolak-balik antara level support dan resistance sehingga frekuensi trading meningkat, dengan persentasi kesalahan entry yang minimum.

Dengan logika tersebut trader seharusnya bisa enjoy pada volatilitas pasar yang rendah. Jika hasil trading Anda akhir-akhir ini kurang konsisten, mungkin Anda telah melakukan 3 kesalahan yang lazim ketika trading pada pasar ranging atau volatilitas rendah, yaitu:
1. Menggunakan strategi trend following ketika kondisi pasar tidak trending
2. Stop loss yang terlalu dekat
3. Ketidak-sabaran untuk segera menutup posisi trading karena pergerakan harga memang cenderung lambat.

1. Menggunakan strategi trend following ketika kondisi pasar tidak trending
Tindakan perbaikan : gunakan strategi yang sesuai dengan kondisi pasar.
Satu hal yang sering terlupakan dalam membuat strategi pada rencana trading adalah penyesuaian strategi pada kondisi pasar (trending atau ranging). Biasanya setelah strategi kita berjalan sesuai harapan kita akan selalu menggunakan strategi tersebut tanpa memperhatikan kondisi pasar saat kita entry.

Perlu diingat bahwa sebuah strategi tidak akan bisa berjalan pada 2 keadaan pasar sekaligus, trending dan ranging. Cara yang paling mudah adalah mengenali volatilitas pasar, dan indikator yang bisa membantu antara lain Average True Range (ATR), Average Directional Index (ADX), atau indikator indeks volatilitas seperti gambar diatas. Jika melihat perubahan kondisi, kita bisa segera merubah strategi atau berganti pasangan mata uang yang ditradingkan.

2. Stop loss yang terlalu dekat
Tindakan perbaikan : berikan ruang gerak yang lebih lebar agar trade Anda tetap hidup.
Kesalahan lazim yang lain adalah anggapan bahwa resiko ditentukan oleh perbedaan pip antara level entry dan level stop loss. Yang benar resiko adalah sejumlah nilai uang yang bisa kita relakan jika ternyata strategi kita tidak berjalan dengan benar. Trader A dengan stop loss 100 pip bisa saja menanggung resiko lebih sedikit dari trader B dengan stop loss yang hanya 10 pip, karena ukuran lot (volume) trading trader A jauh lebih kecil dari volume trading yang digunakan trader B sehingga nilai per pip trader B jauh lebih besar.

Jadi resiko tidak ditentukan oleh besarnya pip, tetapi nilai uang. Oleh karena itu kita bisa mengatur besarnya stop loss sesuai dengan sejumlah nilai uang yang kita bisa terima sebagai resiko. Menentukan level stop loss yang terlalu dekat sangat tidak nyaman, dan akan ‘mengundang’ pasar untuk menyentuh level itu. Semakin dekat dengan level entry akan semakin rawan untuk tersentuh. Hindari memperbesar resiko dengan stop loss yang terlalu dekat dengan level entry. Biarkan trade Anda tetap hidup dengan stop loss yang logis dan obyektif. Dalam hubungannya dengan volatilitas pasar, salah satu cara yang digunakan trader untuk menentukan level stop loss adalah dengan menggunakan indikator ATR.

3. Ketidak-sabaran untuk segera menutup posisi trading karena pergerakan harga memang cenderung lambat.
Tindakan perbaikan : tidak menggunakan ukuran lot trading yang terlalu besar ketika volatilitas rendah.
Secara psikologis ketidak-sabaran timbul karena ingin secepatnya meraup profit ataupun merealisasikan kerugian agar bisa kembali entry.

3 Kesalahan Ketika Trading Pada Volatilitas

Perlu Anda ketahui bahwa ketika volatilitas sedang rendah kondisi pasar ranging, dan pada umumnya pergerakan pasar lambat sehingga akan lebih lama mencapai level support atau resistance. Dengan ukuran lot yang relatif kecil, Anda akan lebih santai dan sabar dalam menyikapi pergerakan harga pasar, disamping bisa entry pada pasangan mata uang lainnya jika diinginkan.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


M.sailan
trims share infox.. sangat berguna untuk dicermati trader forex
Faturrchim
memang bener. awalx ane keliru mahamin disiplin trading itu adalah pake strategi yng sama apapun hasil n situasix. tapi ternyata pengertian yng lebih bener itu pake 2 cara yng beda untuk kedua kondisi pasar dan displin dalam pemakaian cara2 itu. kalo dipaksain pake strategi yng g sesuai sama kondisi pasar bisa disaster banget. apalagi kalo ukuran tradingx besar...
Fx Nubi
kenapa ya sl yg terlalu deket dibilang memperbesar resiko? bukan nya itu malah memperkecil resiko soal nya mencegah posisi loss yg makin besar?
Martin S
@ fx nubi:
Kalau tanpa alasan yang obyektif, stop loss yang terlalu dekat dengan level entry memang beresiko terkena.

Untuk mengetahui perkiraan besarnya level stop loss yang obyektif adalah dengan indikator ATR (berdasarkan range trading harian), dikombinasikan dengan level-level support atau resistance terdekat, atau batas-batas yang ditunjukkan oleh indikator (misal Bollinger Bands dsb). Bisa dibaca di artikel: Beberapa Cara Menentukan Stop Loss.
Ali Junaedi
Karena pasar yang ranging itu tidak mengalam trend di arah tertentu, jadi wajar kalau harga bergerak naik turun. Kalau dipasang stop loss yang terlalu dekat dari entry posisi, dikhawatirkan stop loss tersebut akan cepat kena di saat harga bisa bergerak ke arah sebaliknya beberapa saat kemudian. Jadi untuk kondisi sideways akan lebih baik jika stop loss lebih lebar dari entry posisi karena untuk mengantisipasi kejadian-kejadian serupa.
Martin S
@ Ali Junaedi :
Untuk mengetahui perkiraannya yang obyektif bisa disesuaikan dengan level support atau resistance terdekat (bisa juga dengan level Fibonacci retracement atau expansion), atau batas-batas yang ditunjukkan oleh indikator teknikal (bisa baca: Beberapa Cara Menentukan Stop Loss).
Faturrchim
@fx nubi: kalo pembacaan dari grafik nunjukin kondisi sideways yng menjanjikan, cara support sama resistan bisa banget buat tetapin sl sama tpx. biasax yng paling bisa diandelin ya garis fibonacci. tapi mesti watch out juga kalo ada breakout. apalagi kalo dibarengi rilis berita fundamental, bisa2 mulai ada tren baru yng mau kebentuk. tapi selama kondisi masih di posisi aman ambil support sama resistan aja biar aman nentuin sl tpx.
Supri
Pak Master kalo index volatilitas ini dijadikan salah satu indikator untuk penggunaan strategi trading gimana caranya ya?
Martin S
@ supri:
  • Ketika volatiliras sedang tinggi maka gunakan strategi untuk kondisi pasar yang trending misalnya strategi breakout.
  • Ketika volatiliras sedang rendah maka gunakan strategi untuk kondisi pasar sideways (ranging) misalnya buy The dip dan sell the rally
  • Kalau volatilitas sangat rendah dan pasar bergerak choppy (tidak teratur), maka sebaiknya tidak masuk pasar.
  • Untuk indikator volatilitas bisa juga digunakan ATR, bisa baca: Membaca Dan Menggunakan Indikator ATR