OctaFx

iklan

3 Kesalahan Trading Inside Bar Yang Perlu Diketahui Trader

Meskipun dipilih sebagai pola candle yang banyak digunakan dalam trading, nyatanya masih ada beberapa trader yang membuat kesalahan trading Inside Bar. Berikut ulasannya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Strategi trading berdasarkan pola-pola candlestick masih menjadi pilihan favorit para trader. Kemudahan membaca indikasi sinyal dari body candle yang terbentuk, menjadi salah satu keunggulan strategi ini. Salah satu pola candlestick yang banyak digunakan untuk trading adalah pola Inside Bar. Meskipun demikian, ternyata masih ada beberapa kesalahan trading Inside Bar yang kerap dilakukan oleh trader.

Kesalahan Trading Inside Bar

Sekilas Tentang Inside Bar Dan Manfaatnya

Pada dasarnya, pola Inside Bar adalah formasi dua batang candle, di mana body candle kedua "termakan" oleh body candle pertama. Adapun level harga yang dijadikan acuan untuk pola Inside Bar adalah harga tertinggi (High) dan terendahnya (Low). Agar lebih jelas, sebuah pola dapat disebut sebagai Inside Bar apabila:

  1. Candle pertama lebih besar dan berperan sebagai candle induk (Mother Bar), sedangkan candle kedua adalah candle turunan (Inside Bar itu sendiri).
  2. Nilai tertinggi (High) candlestick kedua selalu lebih rendah daripada High candle pertama. Begitu juga dengan Low-nya yang selalu lebih tinggi dari candle induk. Secara visual, candlestick turunan akan selalu berada "di dalam" body candle induk.
  3. Trading Inside Bar hanya memperhitungkan nilai High dan Low saja, tidak mempedulikan posisi badan (body). Tidak masalah jika harga Open atau Close candle kedua menerobos range badan candle pertama.

Secara lebih jelas, berikut adalah contoh Inside Bar yang banyak ditemukan dalam chart:

trading Inside Bar

Apabila Anda menemukan pola candle dengan ciri-ciri di atas dalam chart, maka bisa jadi pola tersebut adalah Inside Bar. Jika demikian, maka Anda harus berhati-hati dan ekstra waspada. Mengapa?

Pola candlestick Inside Bar secara umum memiliki kecenderungan untuk menandai terjadinya reversal, meskipun dalam beberapa kondisi pola ini dapat pula menandakan penerusan tren (continuation). Untuk memastikan kemana arah tren akan bergerak, maka Anda dapat mengkombinasikannya dengan indikator teknikal lain sebagai konfirmator, misalnya indikator Moving Average atau Bollinger Bands.

 

3 Kesalahan Umum Trading Inside Bar

Meskipun dianggap sebagai pola paling mudah dibaca dan diterapkan dalam trading, rupanya beberapa trader masih sering keliru memahami cara menggunakan Inside Bar dengan tepat. Menurut Nial Fuller dalam learntotradethemarket[dot]com, ada 3 kesalahan umum yang sering dilakukan trader saat menggunakan pola ini. Apa saja?

 

1. Tidak Menggunakan Inside Bar Pada Chart Daily

Menurut Nial, chart harian (Daily) dianggap sebagai timeframe yang tepat dan nyaman untuk digunakan, terutama bagi trader Price Action yang cenderung memperhatikan pola candle. Nah, apabila tipe trading Anda berfokus pada kemunculan Inside Bar pada chart, maka jangan sekali-kali menggunakannya pada timeframe yang lebih rendah. Mengapa demikian?

Jika Anda trading dengan metode Price Action, sinyal-sinyal yang dihasilkan pada timeframe rendah biasanya banyak mengandung noise. Akibatnya, sinyal yang ditunjuk oleh Inside Bar boleh jadi menipu; tampaknya valid, tapi ternyata gagal menghasilkan profit (Failed Signals). Di samping risiko adanya Failed Signals, trading Inside Bar pada timeframe lebih kecil juga memicu overtrading. Trader akan cenderung tergoda untuk entry, karena melihat ada banyak sinyal trading bermunculan. Padahal, kemungkinan untuk bisa profit sangatlah kecil.

timeframe dalam trading

(Baca Juga: Pengaruh Time Frame Pada Hasil Trading)

Untuk itu, Inside Bar akan sangat tepat digunakan dalam chart Daily. Selain dapat menunjukkan gambaran yang lebih lengkap tentang keadaan pasar guna menghindari overtrading, Anda juga bisa membaca pergerakan tren secara lebih luas. Hal ini dapat membantu Anda dalam setiap pengambilan keputusan entry, mengingat Inside Bar dapat membantu Anda mengetahui apakah tren masih berlanjut atau justru berbalik arah (Reversal).


2. Inside Bar Tidak Digunakan Untuk Trend Following

Secara praktis, trading yang searah dengan pergerakan tren (Trend Following) dianggap lebih mudah dalam menggapai profit. Pun, dalam jangka panjang, trading dengan mengikuti tren bisa sangat menguntungkan bagi trader yang tahu cara mengelola emosi juga posisi dengan baik. Begitu pula dengan Inside Bar yang sebaiknya digunakan untuk strategi Trend Following. Meskipun pola ini cenderung menandai terjadinya Reversal, tetapi kemunculannya dalam penerusan tren akan sangat bermanfaat.

Menurut Nial, munculnya Inside Bar pada serangkaian reli tren panjang, dapat menjadi penanda terjadinya penerusan tren (continuation). Pola ini dapat digunakan sebagai rambu-rambu penanda Breakout, serta dapat memberikan peluang Risk Reward Ratio yang lebih besar. Tentunya kedua manfaat tersebut bisa diperoleh apabila Anda menggunakan Inside Bar untuk trading mengikuti tren.

strategi Trend Following

Trading menggunakan Inside Bar untuk melawan pergerakan tren (Counter Trend) sebenarnya boleh-boleh saja. Namun menurut Nial, strategi ini tidak cukup disarankan bagi Anda yang tergolong sebagai trader pemula. Pun, strategi Counter Trend agaknya cukup melelahkan, mengingat Anda perlu melakukan Trial and Error beberapa kali berdasarkan level-level kunci pada chart (Support dan Resistance), sebelum menggunakannya sebagai strategi trading pilihan.

 

3. Memasang Stop Loss Terlalu Dekat Dengan Mother Bar

Bagi sebagian trader, memasang level Stop Loss saat entry berarti telah siap dengan kerugian yang akan diterima. Di sisi lain, ada pula trader yang tidak menggunakan Stop Loss sama sekali, dengan alasan ingin mengikuti Money Management yang telah ditentukan. Keduanya sah-sah saja, mengingat pentingnya memasang Stop Loss saat entry kembali pada strategi trading yang digunakan.

Dalam kaitannya dengan Inside Bar, rupanya ada banyak trader yang memasang Stop Loss terlalu dekat dengan candle induk, padahal untuk entry, trader juga menggunakan Mother Bar sebagai acuan. Pemasangan level Stop Loss yang terlalu dekat dengan titik entry sangat tidak disarankan, karena potensi "terusir" dari pasar dengan segera juga semakin besar.

menentukan Stop Loss

(Baca Juga: Beberapa Cara Menentukan Stop Loss)

Sebaliknya menurut Nial, level Stop Loss dapat ditentukan dengan bantuan indikator Average True Range (ATR) atau level-level kunci dalam trading. Jika Anda menggunakan bantuan indikator ATR, maka pastikan bahwa level Stop Loss Anda lebih besar daripada angka yang ditunjuk oleh indikator ATR. Selain melalui ATR, level Stop Loss juga bisa ditentukan dari level-level penting dalam trading, yaitu Support, Resistance, maupun level psikologis.

 

Kesimpulan

Apabila Anda merupakan seorang trader yang menggunakan strategi Price Action, maka hindari 3 kesalahan berikut saat trading dengan Inside Bar:

  1. Jangan trading Inside Bar pada timeframe rendah atau kecil. Akan lebih baik jika Inside Bar ditradingkan dalam chart Daily.
  2. Jangan menggunakan Inside Bar untuk strategi Counter Trend. Inside Bar akan sangat sesuai bila digunakan untuk Trend Following.
  3. Jangan memasang Stop Loss terlalu dekat dengan level entry (candle induk). Sebaliknya, level Stop Loss di-set lebih besar daripada angka yang ditunjuk oleh indikator ATR.

 

Selain kerap melakukan kesalahaan saat trading Inside Bar, beberapa trader terutama yang masih newbie alias trader pemula, tak jarang pula melakukan kesalahan yang cukup fatal. Jika Anda tertarik untuk mengetahui apa saja kesalahan-kesalahan tersebut serta cara mengatasinya, silahkan bertolak ke halaman artikel mengenai "5 Kesalahan Trader Pemula Paling Fatal".

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.