4 Pedoman Agar Untung 10 Kali Lipat Ala Dana Allen

Bisakah kita mendapatkan untung 10 kali lipat dari aktivitas trading? Menurut pengalaman Dana Allen, bisa. Saham dan aset finansial lain yang harganya masih rendah, memiliki peluang kenaikan besar yang berpotensi memberikan untung 10 kali lipat atau lebih, jika kita tahu cara memilihnya.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Dana Allen adalah seorang trader saham, komoditas, dan options yang berulangkali sukses setelah membeli aset-aset yang harganya sedang rontok, hingga mengantongi keuntungan hingga 10 kali lipat atau lebih dari investasi awalnya. Salah satunya, ia sukses karena telah membeli kontrak options tembaga pada harga USD70 ketika harganya hanya USD50 per ton, dan kemudian ternyata harga komoditas tembaga naik menjadi USD85. Menjelang tahun baru 2006, ia juga membeli saham PTSC pada harga 0.08, yang kemudian ternyata melonjak hingga 2.10 pada bulan Maret.

Pada sebuah wawancara dengan Kathy Lien dan Boris Schlossberg yang dimuat dalam buku "Millionaire Traders: How Everyday People Are Beating Wall Street At Its Own Game", Dana Allen mengungkap beberapa pedoman yang digunakannya dalam aktivitas trading sehari-hari sehingga berhasil panen besar seperti itu berulang kali.

Millionaire Traders

 

1. Incar Aset Finansial yang Sedang Jenuh Jual

Dana Allen suka mencari aset-aset keuangan yang harganya sedang sangat murah (oversold secara ekstrim) dengan meneladani petunjuk John Templeton yang berjuluk "Pemilih Saham Global Terbaik Abad Ini". Bahkan, ketika pasar runtuh pada tahun 2001, ia memborong saham-saham yang berharga USD1 sebanyak mungkin dari NYSE dan NASDAQ. Hasilnya sangat menguntungkan setelah pasar pulih kembali. Namun, itu tidak lantas berarti Dana asal membeli sembarang saham murah saja.

Salah satu aturan paling penting yang dianut Dana adalah hanya membeli surat berharga dari perusahaan-perusahaan yang tidak menanggung utang besar. Alasannya, perusahaan yang menanggung utang tetap bisa kolaps walaupun bisnis mereka bagus, khususnya jika nantinya mereka terpaksa mengalihkan cash flow untuk membayar utang.

 

2. Perhatikan Bias Harga Aset Finansial Dalam Jangka Panjang

Dana Allen mengamati bahwa dalam dua abad terakhir, saham-saham di AS memberikan imbal hasil rata-rata 7 persen. Meskipun terjadi koreksi besar dari waktu ke waktu, tetapi saham merupakan satu-satunya aset finansial yang menunjukkan tren naik dalam jangka panjang. Oleh karenanya, ia menyimpulkan bahwa "buying dips" (membeli saat harga rendah) lebih baik ketimbang "selling rallies" (menjual saat harga naik) di pasar saham. Ini juga sebabnya mengapa Dana lebih suka long position ketimbang short position.

Anda dapat mencontoh Dana dengan mengamati tren jangka panjang pada aset keuangan yang Anda perdagangkan, kemudian membuka posisi dengan arah yang sesuai dengan tren itu saja.

 

3. Atur Penutupan Posisi Trading Berdasarkan Waktu dan Harga

Umumnya orang mematok penutupan posisi hanya berdasarkan acuan harga tertentu (Price Stop), yang artinya trade akan ditutup hanya jika harga sudah mencapai level tertentu (Target Profit dan Stop Loss). Namun, Dana menyarankan agar mengatur penutupan posisi berdasarkan acuan waktu tertentu (Time Stop) juga. Contohnya, menghentikan semua trade pada akhir perdagangan harian, apabila harga belum mencapai targetnya hingga penutupan pasar.

Alasannya, harga aset yang sedang jatuh semestinya beranjak naik dari level rendah seiring dengan masuknya "bargain hunter" untuk memborong aset tersebut. Apabila kenaikan tak terwujud dalam kurun waktu tertentu, maka pelaku pasar kemungkinan menilai harga belum cukup rendah, dan penurunan harga lebih lanjut bisa saja terjadi. Dengan demikian, kombinasi Price Stop dan Time Stop dapat membantu trader dalam meminimalkan risiko.

 

4. Cari Kesenjangan Antara Kondisi Fundamental Dan Harga

Banyak trader mengincar divergen berdasarkan kondisi teknikal ketika indikator menunjuk ke arah yang berbeda dengan pergerakan harga. Namun, Dana Allen lebih suka trading divergen berdasarkan basis fundamental. Salah satu setup trading favoritnya adalah ketika laporan keuangan perusahaan menunjukkan pendapatan besar, tetapi sahamnya dilanda aksi jual karena ada profit-taking. Strategi ini menarik karena begitu aksi profit-taking berakhir, saham tersebut akan menampilkan profil ideal bagi investor jangka panjang yang mencari saham-saham dengan kondisi fundamental kuat.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.