5 Cara Mudah Menentukan Trailing Stop

Salah satu efek menggunakan trailing stop bagi pemula adalah terkena sindrom TTSD. Untuk menghindarinya, 5 cara menentukan trailing stop berikut bisa dijadikan solusi.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pernahkah Anda mendengar tentang trailing stop? Jika ya, sudahkah Anda memanfaatkannya? Dikenal sebagai pengunci profit, istilah trailing stop tidak hanya mengacu pada tool MT4 yang bisa memindahkan stop loss secara otomatis. Dalam pembahasan ini, trailing stop juga mendefinisikan metode pemindahan stop loss secara manual.

Meski berfungsi mengamankan profit, penggunaan trailing stop masih memicu pro kontra dan menjadi bahan perdebatan. Mengapa demikian? Pertama, trailing stop hanya efektif di pasar trending. Jika dipaksakan di kondisi sideways, trailing stop malah bisa meningkatkan risiko terkena stop loss lebih cepat. Kedua, menentukan trailing stop tidak bisa dilakukan secara asal, karena sekalipun sudah diterapkan di pasar trending, trailing stop bisa terpicu lebih cepat oleh pergerakan korektif yang volatil.

Apakah sebaiknya trailing stop diatur per 10 poin, 15 poin, 20 poin, atau menunggu konfirmasi penerusan tren dari sinyal indikator? Persoalan inilah yang kemudian menyebabkan sindrom TTSD atau The Trailing Stop Dilemma. Nah, 5 cara menentukan trailing stop berikut ini hadir untuk menawarkan solusi mudah dalam menghindari sindrom TTSD:

5 cara mudah menentukan trailing stop


1. Memanfaatkan Titik Swing

Cara menggunakan trailing stop ini adalah yang paling sederhana karena bisa dilakukan dengan mudah, bahkan tanpa bantuan indikator apapun. Prinsipnya melanjutkan pemanfaatan trailing stop di pasar trending, dimana stop loss sebaiknya digeser ketika pergerakan harga sudah mengkonfirmasi penerusan trend.

Dalam hal ini, Anda bisa menggunakan titik swing yang menjadi turning point dari gelombang-gelombang koreksi. Berikut adalah contoh pengamatan titik swing pada downtrend harga:

Menentukan trailing stop menurut titik swing (downtrend)

Klik untuk memperbesar gambar

Pada chart di atas, terlihat bahwa meskipun penurunan harga menunjukkan downtrend yang signifikan, terdapat beberapa koreksi yang berakhir setelah high harga gagal menembus level high dari swing sebelumnya. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai posisi penempatan trailing stop. Rekomendasinya, tempatkan trailing stop beberapa pips di atas titik swing tersebut.

Sedangkan untuk uptrend, Anda bisa mencari titik swing pada low harga. Cara ini dilakukan untuk memastikan jika penerusan uptrend sudah terkonfirmasi oleh low harga yang lebih tinggi dari low sebelumnya. Dalam menempatkan trailing stop, sebaiknya ambil beberapa pips di bawah titik swing.

Menentukan trailing stop menurut titik swing (uptrend)

Klik untuk memperbesar gambar


2. Mengandalkan Moving Average

Menentukan trailing stop dengan indikator Moving Average (MA) ide dasarnya tidak jauh berbeda dengan mencari titik swing. Hanya saja, metode penggunaan MA lebih selektif karena hanya mengambil titik swing yang menguji garis indikator.

Dengan demikian, sinyal penerusan trend akan lebih terkonfirmasi. Jenis dan parameter MA dalam hal ini bisa disesuaikan dengan preferensi masing-masing trader. Berikut ini contoh pemanfaatan Simple Moving Average periode 55 di time frame harian EUR/USD untuk menentukan trailing stop:

Menentukan trailing stop dengan moving average

Klik untuk memperbesar gambar


3. Membaca Sinyal Parabolic SAR

Satu lagi indikator trend yang bisa dimanfaatkan untuk menentukan trailing stop adalah Parabolic SAR. Sinyal indikator ini memang dikenal bermanfaat untuk menentukan poin entry dan exit karena bisa menandai perubahan arah trend. Akan tetapi, tidak banyak trader yang tahu jika titik-titik Parabolic SAR ternyata juga bisa difungsikan untuk menentukan trailing stop.

Caranya, cukup gunakan sinyal indikator sebagai panduan menentukan trailing stop ideal. Karena titik Parabolic SAR terbentuk setelah harga tertutup, sinyal tersebut dapat menjadi konfirmator penerusan trend yang bisa diandalkan (selama titik Parabolic SAR masih berada di posisi yang sama dengan arah entry Anda).

Menentukan trailing stop dengan parabolic sar


Dalam skenario trend harga yang bergerak kencang, indikator Parabolic SAR bisa difungsikan seperti Moving Average. Ketika harga menyelesaikan koreksi dan kembali ke trend utama, titik Parabolic SAR akan berpindah ke posisi semula. Poin inilah yang bisa digunakan sebagai rekomendasi trailing stop. Pada contoh downtrend di bawah ini, ikuti titik Parabolic SAR yang kembali berpindah ke atas.

Menentukan trailing stop dengan parabolic sar 2

Klik untuk memperbesar gambar


4. Menggunakan ATR

ATR (Average True Range) adalah indikator volatilitas yang secara jelas bisa menunjukkan nilai perubahan harga dari waktu ke waktu. Jika Anda termasuk salah satu trader yang ingin fleksibel dan bisa masuk di semua kondisi pasar, maka penggunaan indikator ATR untuk menentukan stop loss sangat disarankan.

Mengapa demikian? Pada dasarnya, aturan penempatan stop loss bisa berubah sesuai volatilitas harga. Ketika volatilitas sedang tinggi, sangat berbahaya untuk menempatkan stop loss dengan jarak yang terlalu sempit dari level entry. Namun ketika volatilitas harga sedang rendah, stop loss bisa diposisikan lebih dekat dengan level entry.

ATR bisa menunjukkan rekomendasi stop loss dari value-nya. Katakanlah value ATR saat ini adalah 0.0037, maka Anda bisa mempertimbangkan jarak stop loss di kisaran 37 pip. Namun ketika nilai ATR meningkat jadi 0.0100, tentu sangat tidak aman jika stop loss dibiarkan berjarak 37 pips dari level entry.

Menentukan trailing stop dengan ATR

Klik untuk memperbesar gambar

Nah, acuan di atas juga bisa dimanfaatkan sebagai standar menentukan trailing stop. Salah satu alasan yang membuat trader meragukan trailing stop adalah risiko terkena stop loss lebih cepat. Di kala uptrend misalnya, harga bisa terkoreksi sementara sebelum kembali ke trend utama. Jika volatilitas sedang tinggi, range koreksi tersebut bisa lebih lebar dari kondisi normal. Supaya trailing stop tidak terpicu saat harga terkoreksi, Anda bisa menggunakan ATR untuk mengatur jarak trailing stop sesuai volatilitas terkini.

Ketika harga melanjutkan trend dan Anda ingin mengunci profit dengan mengaktifkan trailing stop, perhatikan dulu berapa value ATR saat ini. Jika masih konsisten seperti saat Anda membuka posisi, maka trailing stop bisa dipindahkan sesuai jarak stop loss sebelumnya. Namun apabila terjadi perubahan signifikan pada value ATR, sebaiknya pertimbangkan untuk mengatur jarak trailing stop sesuai kisaran nilai ATR terbaru.

Metode penentuan trailing stop di metode pertama hingga keempat dilakukan secara manual. Pergeseran stop loss dengan cara-cara di atas merupakan langkah reaktif yang ditentukan setelah ada sinyal indikator, atau sesudah harga menyelesaikan koreksi dan kembali ke trend utama.

Jika Anda ingin mendapatkan tips menggunakan trailing stop otomatis, mari berlanjut ke metode berikutnya.


5. Berpatokan Pada Manajemen Risiko

Menentukan trailing stop dengan cara ini bisa dikatakan sebagai yang paling mudah dan sederhana. Prinsipnya tidak rumit, cukup pindahkan stop loss ke level breakeven saat harga sudah mencapai target keuntungan pertama. Ketika harga masih melanjutkan trend dan mencapai target kedua, stop loss bisa digeser lagi ke target pertama. Dengan demikian, Anda bisa mengunci keuntungan atau paling tidak mengamankan posisi dari kerugian (jika breakeven) saat harga tiba-tiba berbalik arah.

Metode ini bisa digunakan dengan trailing stop otomatis. Katakanlah target keuntungan Anda adalah 30 pip dari level entry, maka Anda bisa mengatur trailing stop dengan jarak 30 poin di MetaTrader.

Chart di bawah ini menunjukkan contoh penggunaan trailing stop berdasarkan aturan manajemen risiko:

Menentukan trailing stop dengan manajemen risiko

Klik untuk memperbesar gambar


Cara Terbaik Menentukan Trailing Stop

Menentukan trailing stop bisa didasarkan pada 3 pilihan: strategi, volatilitas, atau manajemen risiko. Jika mengacu pada strategi, Anda perlu melihat konfirmasi penerusan trend. Sedangkan apabila sangat memperhatikan volatilitas, Anda dapat menggunakan indikator pengukur volatilitas seperti ATR.

Sebaliknya, Anda tak perlu mengamati sinyal penerusan ataupun volatilitas ketika berpedoman pada manajemen risiko, karena metode ini lebih bersifat defensif dan mengutamakan perlindungan terhadap risiko di atas segalanya. Hal ini terbukti dari tujuan metode yang menargetkan pencapaian breakeven sebagai skenario terburuk. Yang perlu Anda perhatikan, trailing stop otomatis hanya bekerja saat platform trading online. Jadi apabila MT4 ditutup dan tidak dioperasikan, trailing stop akan menjadi non-aktif dan tidak dapat menjalankan fungsinya.

 

Tahukah Anda? Trailing stop ternyata merupakan salah satu instrumen kunci dalam strategi piramida. Untuk menyimak ulasan lengkap mengenai hal tersebut, silahkan berkunjung ke: Mengupas Penggandaan Profit Dengan Strategi Piramida.

Alumni Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya yang sekarang menjadi pengisi konten artikel di seputarforex.com. Aktif menulis tentang informasi umum mengenai forex, juga terinspirasi untuk mengulas profil dan kisah sukses trader wanita.


Wongdeso
Hmmm... Baru ngeh kalau trailing stop otomatis itu harus online. Eh misalnya kalau internetnya tiba-tiba putus katakanlah cuma 1 menit itu gimana ya? apa trailing stop otomatisnya masih jalan?