iklan

5 Jenis Komoditas Paling Likuid Di Pasar Berjangka

Likuiditas tak hanya jadi pertimbangan vital trader forex, melainkan juga trader komoditas. Berikut 5 jenis komoditas paling likuid di pasar berjangka yang bisa Anda jadikan rujukan.

iklan

iklan

Likuiditas kerap menjadi pertimbangan trader saat hendak memilih instrumen, utamanya trader forex. Bagi mereka, mencari pasangan mata uang dengan likuiditas tinggi secara tidak langsung dapat menghemat biaya transaksi, mengingat spread pair tersebut cenderung kecil. Namun tahukah Anda? Aset-aset dengan likuiditas tinggi rupanya tak hanya diminati oleh trader forex, melainkan trader komoditas pun demikian. Artikel berikut ini akan mengulas apa saja ciri berikut jenis-jenis komoditas paling likuid yang banyak diperdagangkan di pasar komoditas berjangka.

Jenis-jenis Komoditas Paling Likuid

 

Ciri-Ciri Komoditas Paling Likuid

Likuiditas menggambarkan sejauh mana suatu aset bisa cepat dibeli atau dijual di pasar tanpa mempengaruhi nilai aset tersebut. Dalam pasar yang likuiditasnya tinggi, suatu aset yang ditawarkan penjual akan cepat mendapatkan pembeli, begitu pun sebaliknya. Kondisi likuiditas ini bukan hanya berbeda-beda untuk setiap jenis aset di pasar komoditas berjangka, melainkan juga bisa berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Jika trader forex mencari pasangan mata uang paling likuid berdasarkan intensitas transaksi, volume trading, serta spread yang dihasilkan, lain halnya dengan trader komoditas. Bagi mereka, suatu komoditas dapat dikatakan likuid apabila banyak diperdagangkan di pasar komoditas berjangka, karena tingginya permintaan (demand) di masyarakat. Mengutip situs Finansialku, ada beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai tolak ukur komoditas dikatakan likuid, antara lain:

Ciri-ciri Komoditas Paling Likuid

  • Harus dapat diperjualbelikan secara fisik atau berdasarkan pasar tunai.
  • Memiliki jumlah penjual dan pembeli serta hedger, spekulator, dan investor dalam jumlah besar.
  • Transaksi harus dilakukan secara terbuka dan transparan tanpa tindakan diskriminatif.
  • Terdapat keterkaitan yang jelas antara produk turunan dan produk komoditas fisik.
  • Ada mekanisme pertukaran yang jelas antara komoditas tunai dan produk turunannya.
  • Harus ada titik temu antara harga tunai dan harga-harga yang merefleksikan harga masa depan pada instrumen kontrak berjangka.

Saat ini, ada banyak sekali jenis komoditas yang diperdagangkan di pasar komoditas, yang dibagi menjadi hard commodity dan soft commodity. Hard commodity merujuk pada aset komoditas yang diambil dari alam melalui aktivitas pertambangan atau ekstraksi, seperti minyak, emas, dan komoditas tambang lainnya. Sementara soft commodity digunakan untuk menyebut berbagai jenis komoditas dari sektor agrikultur atau peternakan, seperti jagung, gandum, kopi, gula, daging, dan sebagainya.

Namun dalam kaitannya dengan konsep likuid alias paling banyak diperdagangkan, ternyata tidak semua jenis komoditas tersebut tergolong komoditas paling likuid. Berdasarkan Investopedia, ada 5 jenis komoditas paling likuid yang diperdagangkan di pasar berjangka. Apa sajakah itu?

 

5 Jenis Komoditas Paling Likuid

Jenis-jenis komoditas paling likuid berikut ini diperoleh berdasarkan laporan dari Chicago Mercantile Exchange (CME). Berdasarkan laporan terakhir pada kuartal kedua 2018 silam, 5 jenis komoditas paling likuid di pasar komoditas  tersebut antara lain:

 

1. Crude Oil

Komoditas paling likuid yang pertama berasal dari sektor pertambangan, yakni crude oil atau minyak bumi. Crude oil merupakan zat alami yang bisa ditemukan di dalam formasi-formasi batu di bumi. Untuk mengekstraksi nilai maksimum dari crude oil, maka zat ini perlu dimurnikan menjadi produk olahan seperti Bahan Bakar Minyak (BBM); bensin, solar, serta minyak tanah.

Crude Oil

(Baca juga: Kaleidoskop Minyak Dunia Dalam 1 Abad Terakhir)

Sejak awal 2016, pergerakan harga minyak terus bergejolak. Setelah ambruk ke level terendah sekitar $30 per barel di bulan Februari, bangkit hingga 20 persen lalu anjlok lagi, harga minyak kini berada di kisaran $50-55 per barel. Padahal, awal 2018 silam, harga minyak sempat menyentuh level $63.87 per barel.

Terjadinya fluktuasi harga minyak yang cukup ekstrem ini bukan tanpa alasan. Adanya beragam faktor fundamental disinyalir menjadi katalis utama pada harga minyak, misalnya peran negara-negara eksportir minyak (OPEC), situasi negara produsen minyak, serta pengaruh supply and demand akan minyak global. Meskipun demikian, outlook jangka panjang dari si emas hitam ini masih menjanjikan, sehingga CME pun menyatakan Crude Oil sebagai salah satu komoditas paling likuid.

 

2. Jagung

Komoditas paling likuid selanjutnya adalah jagung. Di Indonesia, jagung menjadi salah satu jenis komoditas penting karena dibutuhkan sebagai bahan pangan utama masyarakat selain padi. Selain itu, jagung juga digunakan sebagai bahan bakar alternatif, seperti etanol. Ketika permintaan bahan bakar alternatif meningkat, harga jagung bahkan bisa lebih tinggi.

Jagung menjadi komoditas paling likuid

Karena sifatnya sebagai bahan pangan sekaligus pengganti bahan bakar alternatif, tak heran jika jagung tergolong sebagai komoditas paling likuid di pasar komoditas. Di samping itu, jagung juga turut menjadi salah satu jenis komoditas penggerak harga di pasar, sehingga fluktuasi harganya pun dapat berpengaruh bagi produsen, distributor, hingga konsumen. Saat artikel ini ditulis pada akhir 2019, jagung tengah diperdagangkan di harga $369.88 per bushel (1 bushel setara dengan 25 kg).

 

3. Gas Alam

Gas alam adalah bahan bakar fosil yang terbentuk dari tumbuhan mati yang terperangkap di antara endapan batuan jauh di bawah permukaan bumi. Komponen utamanya adalah metana, yaitu senyawa kimia dengan satu atom karbon dan empat atom hidrogen. Selain metana, gas alam juga mengandung beberapa cairan gas hidrokarbon dan gas non-hidrokarbon.

Dengan kandungan metana serta beberapa jenis gas hidrokarbon dan non-hidrokarbon tersebut, gas alam banyak dimanfaatkan di Amerika Serikat utamanya sebagai tenaga listrik (36 persen), bahan baku untuk produksi zat-zat kimia, pupuk, serta hidrogen (34 persen), juga sebagai material pada beberapa perabotan rumah tangga (27 persen) serta bahan bakar minyak (3 persen).

Dengan demikian, tentu tak mengherankan bila gas alam menjadi salah satu komoditas paling likuid di pasar berjangka, mengingat tingginya permintaan di berbagai sektor industri AS.

Komoditas gas alam

Pada 2016 silam, gas alam sempat mencapai puncak kejayaannya dan tercatat mengalami kenaikan lebih dari 60 persen di bursa New York Mercantile Exchange (NYMEX). Selain itu, harga Heating Oil, sejenis produk turunan petroleum yang digunakan sebagai bahan bakar pemanas ruangan, juga makin mahal; disusul oleh Gasoil, salah satu jenis gas alam hasil distilasi. Saat ini, harga gas alam mencapai $2.92 per Million BTU (British Thermal Unit).

 

4. Kedelai

Kedelai merupakan salah satu komoditas yang berasal dari sektor pertanian. Sejak pertama kali ditanam di China pada tahun 1100 SM silam, kedelai mulai banyak dibudidayakan hampir di seluruh dunia. Pada 1920-an, perusahan manufaktur A.E. Staley mulai memproduksi kedelai yang sudah diolah, yakni dalam bentuk minyak kedelai mentah dan tepung kedelai. Kini, kedelai bahkan menjadi salah satu aset komoditas yang banyak diminati masyarakat Asia, utamanya sebagai bahan pangan untuk diet karena tinggi akan kandungan protein.

Komoditas kedelai

Selain sebagai bahan baku makanan, kedelai juga banyak diolah menjadi minyak kedelai (biasanya berupa margarine atau mayonnaise), makanan untuk hewan, material untuk produk-produk ramah lingkungan (pengganti kayu, pelapis rumah, tinta dan krayon kedelai, atau busa pelapis mobil), serta sebagai bahan bakar alternatif. Karena banyak digunakan sebagai bahan baku di berbagai sektor industri, maka tak heran jika kedelai dikatakan sebagai salah satu komoditas paling likuid. Per November 2019 ini, harga kedelai mencapai USD852.75 per bushel.

 

5. Gandum

Komoditas paling likuid terakhir berasal dari sektor pertanian, tepatnya gandum. Selama berabad-abad, gandum telah menjadi salah satu tanaman pangan terpenting yang dibudidayakan di seluruh dunia. Bahkan, gandum juga menempati urutan kedua sebagai biji-bijian paling banyak dikonsumsi di dunia. Kemudahan cara menanam gandum di banyak iklim berbeda, plus tingginya permintaan konsumen akan gandum sebagai makanan, menjadi keistimewaan tersendiri mengapa komoditas satu ini layak dibudidayakan.

Gandum, komoditas paling likuid

Gandum mengandung beberapa vitamin dan mineral penting termasuk vitamin B, kalsium, zat besi dan protein, sehingga banyak sekali produk makanan yang memerlukan gandum sebagai bahan baku utama. Gandum juga banyak diolah menjadi gluten, untuk selanjutnya digunakan sebagai pembungkus kapsul obat serta pelapis kertas, pengganti bahan bakar alternatif (bioetanol) -meski tak sebanyak jagung-, serta pakan ternak. Kini harga gandum diketahui mencapai $563 per bushel.

 

Sebelum Trading Komoditas, Perhatikan Pula Faktor Ini

Kelima jenis komoditas di atas dikategorikan sebagai komoditas paling likuid karena tingginya kebutuhan di berbagai macam sektor, mulai dari industri pangan, farmasi, rumah tangga, hingga bahan bakar. Di samping faktor permintaan (demand), sebaiknya perhatikan pula apa saja faktor fundamental yang mungkin mempengaruhi fluktuasi harga komoditas di atas, misalnya situasi politik dan ekonomi negara-negara produsen, hingga perubahan cuaca atau bencana alam. Adapun faktor demand yang mungkin mendominasi likuiditas komoditas di atas dapat juga berubah sewaktu-waktu sebagai reaksi dari adanya isu fundamental.

 

Tingginya kebutuhan akan minyak sebagai bahan bakar kendaraan (BBM) lantas menimbulkan kekhawatiran di kalangan para investor mengenai ketersediaan komoditas ini di masa depan. Namun, 10 negara berikut ternyata masih memiliki jumlah cadangan minyak yang cukup besar. Mana sajakah negara yang dimaksud? Mari simak ulasannya di "10 Negara Dengan Cadangan Minyak Terbesar Di Dunia".

291004

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone