Advertisement

iklan

5 Tren Perlambatan Ekonomi Global Dalam 10 Tahun Ke Depan

Hasil riset yang dilakukan oleh Bank of America Merrill Lynch Global Research menunjukkan beberapa tren perlambatan ekonomi global dalam satu dekade ke depan.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Peristiwa ekonomi menjadi faktor penting dalam pasar trading. Sebagian besar pergerakan harga dipengaruhi oleh event-event ekonomi krusial, baik yang akan, sudah maupun sedang terjadi. Berdasarkan laporan yang baru-baru ini dirilis oleh Bank of America Merrill Lynch (BoFAML) Global Research, peristiwa dalam 10 tahun terakhir ini telah mencatatkan sejarah.

Banyak peristiwa ekonomi global telah terjadi, yang menggerakkan kondisi pasar modal. Salah satu contohnya adalah negosiasi dagang AS-China. Sebagaimana diketahui, perang dagang AS-China masih terus berlanjut hingga saat ini. Setiap perkembangan, baik itu positif ataupun negatif, memberikan sentimen kepada perilaku investor.

Selanjutnya, hasil riset menunjukkan bahwa 10 tahun ke depan akan menjadi "Peak Decade" dengan beberapa tren besar yang akan mencapai titik pembalikan. Tim peneliti menguraikannya dalam 5 tren perlambatan ekonomi global dalam satu dekade ke depan. Apa saja?

 

1. Resesi Global

Megatren pertama yang diprediksi kuat akan mengisi dalam dekade selanjutnya adalah resesi global. Tanda-tanda tren perlambatan perekonomian global ini sudah terlihat pada peristiwa-peristiwa yang telah terjadi beberapa tahun terakhir. Beberapa responden dari survei BoFAML mengungkapkan bahwa ekonomi global saat berada pada level "harap-harap cemas" atau tahap akhir dari siklusnya.

resesi global

Bahkan, beberapa analis memperkirakan para pembuat kebijakan mungkin tidak dapat melakukan apa-apa untuk menghadapi fenomena resesi yang akan datang. Salah satunya terungkap oleh Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi, seperti yang dilansir oleh CNBC.

"Saya pikir cukup jelas bahwa kita akan menghadapi ekonomi yang jauh lebih lemah. Kemungkinan resesi ekonomi akan sangat tinggi, membuat sangat tidak nyaman," kata Zandi.

Meski terdengar pesimistis, analis lainnya berpendapat resesi ekonomi global masih dapat diminimalisir dampaknya. Ahli ekonomi dari Cornell University Eswar Prasad mengungkapkan bahwa sektor belanja konsumen sejauh ini telah mendukung pertumbuhan ekonomi di beberapa negara. Namun, dukungan dari sektor belanja konsumen itu harus disempurnakan dengan serangkaian kebijakan dari pemerintah. Kebijakan moneter maupun fiskal yang dapat memacu kepercayaan bisnis dan konsumen. Dengan begitu, investasi ikut tergerak meningkat.

Selanjutnya, dalam laporan World Economic Outlook, IMF memprediksi bahwa ekonomi global 2019 akan tumbuh sebesar 3.0%, dan meningkat menjadi 3.4% pada 2020 mendatang. Namun, angka forecast itu lebih rendah dibandingkan proyeksi yang dilakukan oleh IMF pada Juli, yaitu 3.2% (untuk tahun 2019) dan 3.5% (pada tahun 2020).

 

2. Perubahan Iklim

Populasi dunia yang kian meningkat akan membebani ketersediaan sumber daya di bumi. Saat ini, jumlah menusia sudah mendekati angka 1 miliar jiwa. Tentunya, jumlah itu akan terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun ke depan. Pertumbuhan manusia ini menjadi salah satu faktor percepatan laju pemanasan global.

"Pada 2030, perubahan iklim akan mendorong lebih dari 100 juta orang di negara berkembang, jatuh di garis kemiskinan," tulis dari laporan survei tersebut.

Percaya atau tidak, perubahan iklim dapat memberikan pengaruh terhadap perekonomian global. Tidak hanya terhadap ekosistem makhluk hidup, namun pemanasan global juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Salah satu tolak ukurnya dapat dilihat dari nilai Gross Domestic Product (GDP), yaitu jumlah nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu periode di negara. GDP menjadi salah satu takaran untuk menilai kondisi ekonomi suatu negara.

perubahan iklim

Bahkan, pada tahun 2100 mendatang, peneliti memproyeksi GDP dunia akan mengalami penurunan sekitar 23%. Tren perlambatan ekonomi global ini diakibatkan oleh pemanasan global yang mengganggu hasil produksi penting di beberapa negara. Tak terkecuali di negara adidaya, seperti AS.

 

3. Teknologi Robot Dan Artificial Intelligence

Adalah tren besar lainnya yang diprediksi memberikan dampak signifikan pada perekonomian global, khususnya sektor lapangan kerja. Perkembangan teknologi robot dan artificial intelligence (AI) dapat mengurangi kebutuhan tenaga manusia pada aktivitas industri. Mengutip laporan World Economic Forum 2018, hanya 59% pekerjaan dalam 12 industri yang berbeda, masih membutuhkan tenaga manusia.

robot menggantikan tenaga manusia

Tetapi, jumlah tersebut diproyeksi terus mengalami penurunan. Pada tahun 2035, tenaga manusia hanya dibutuhkan 50% saja. Separuh lainnya, industri lebih memilih penggunaan teknologi robot dan automasi. Artificial Intelligence juga diprediksi mampu menyetarai kemampuan manusia pada 2029.

 

4. Peningkatan Kapitalisme Moral

Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan nilai saham mereka, yang disesuaikan dengan perubahan kondisi di pasar. Untuk menarik perhatian investor, perusahaan berupaya mengoptimalkan kinerja dan manajemen keuangan. Selain bertujuan meningkatkan profit, hal tersebut juga dapat menumbuhkan kepercayaan investor untuk menanam modal di perusahaan tersebut.

Seiring perkembangan zaman, tuntutan yang harus dihadapi oleh perusahaan kian besar. Inovasi perusahaan menjadi kebutuhan wajib agar tidak tergerus oleh zaman. Karena itu, perusahaan diminta untuk melibatkan komponen eksternal dalam menentukan strategi. Komponen eksternal yang dimaksud, seperti kepedulian perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Hal tersebut juga dikenal dengan implementasi strategi Environment, Social, and Governance (ESG). Pada awalnya, ESG hanya digunakan investor untuk menentukan perusahaan yang tepat dalam berinvestasi.

strategi esg

Ternyata, ESG saat ini mendapatkan pengakuan yang lebih besar dari pemerintah dan regulator. Tidak heran apabila semakin banyak perusahaan di AS dan Eropa yang sudah menerapkan strategi ESG. Jika nantinya, sebuah perusahaan tidak mampu mengikuti perkembangan tersebut, maka secara otomatis akan tersingkir dari rantai pasar multinasional. Dalam hasil riset Bank of America Merrill Lynch Global Research, menyebutkan bahwa strategi ESG diperkirakan akan mampu menghasilkan aset senilai USD20 triliun selama 20 tahun ke depan.

 

5. Bengkaknya Biaya Kerugian Akibat Cybercrime

Tren perlambatan ekonomi global yang ke lima, dipicu dari akses masyarakat di dunia semakin berkembang pesat. Riset ini memprediksikan terdapat 3 miliar orang yang sudah mendapatkan akses online pada total 500 miliar perangkat pada 2030.

Hanya butuh waktu lima tahun saja, satu orang dengan orang lain dapat terhubung hanya dalam waktu rata-rata 18 detik saja. Nilai ini tentu saja menunjukkan peningkatan tajam, apabila dibandingkan pada kondisi saat ini, yaitu membutuhkan waktu rata-rata 6.5 menit. Hal ini berarti juga rata-rata interaksi antara manusia dan software adalah 4,800 kali per hari.

kerugian cybercrime

Seiring dengan pesatnya perkembangan konektivitas masyarakat, peluang terjadinya kejahatan siber (cybercrime) juga semakin besar. Laporan riset menyebutkan biaya kerugian akibat cybercrime akan mencapai 7.0% dari total GDP global pada 2021. Angka tersebut mengalami peningkatan tajam jika dibandingkan biaya pada tahun 2017, yaitu mencapai USD600 miliar atau 0.8% dari GDP global.

 

Penjelasan di atas dapat diringkas dalam infografis di bawah ini.

tren perlambatan ekonomi global

Selain memahami tren-tren apa saja yang akan berdampak pada perlambatan ekonomi global, trader juga perlu mengetahui indikator-indikator ekonomi yang memberikan pengaruh terhadap pergerakan harga di pasar modal.

291267

Sudah terjun di dunia jurnalis sejak 2013. Aktif menulis di media cetak, online, dan website pribadi dengan berbagai macam topik. Selain itu, juga trading saham sejak 2018.

Fran
Yg di bagian perubahan iklim global, jumlah penduduk mendekati 1 miliar, setahu saya sdh melewati 5 miliar skr...