Advertisement

iklan

7 Alasan Kenapa Bitcoin Turun Drastis Di Tahun 2018

Meskipun sempat melambung tinggi pada akhir 2017, harga Bitcoin mengalami penurunan drastis pada tahun 2018. Apa yang terjadi? Ikuti ulasannya pada artikel di bawah ini.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Memasuki awal tahun 2018, Bitcoin terus jatuh dari titik tertinggi 20,000 US Dollar hingga level terendah 5,750 US Dollar. Ada banyak alasan mengapa nilai Bitcoin dan mata uang kripto lainnya dapat naik turun, tetapi salah satu faktor yang paling dominan adalah penawaran dan permintaan pasar. Pada kesempatan kali ini, kita akan menguraikan 7 alasan kenapa Bitcoin turun drastis di tahun 2018.

 

Alasan kenapa Bitcoin turun drastis

 

 

1. Tekanan Regulasi

Regulasi dari berbagai negara memiliki dampak terbesar pada harga Bitcoin dan kripto lainnya. Beberapa negara telah menerapkan beberapa peraturan atau telah mendiskusikan rencana untuk membatasi penggunaan mata uang kripto di wilayah mereka. Berikut ini beberapa negara yang menunjukkan sikap kontra terhadap Bitcoin:

  • Korea Selatan
    Korea Selatan telah menerapkan beberapa peraturan dan sedang mempertimbangkan beberapa peraturan tambahan. Pemerintah Korea Selatan juga telah mengumumkan bahwa pengguna Bitcoin akan didenda, jika mereka tidak mengkonversi dari akun virtual anonim ke akun asli yang telah lolos standar KYC (Know Your Customer).
  • China
    Seperti yang dilansir Reuters pada Januari 2018, pihak berwenang di China melarang perdagangan terpusat mata uang kripto serta individu dan bisnis yang menyediakan layanan terkait. Tidak hanya Bitcoin, China juga melarang aktivitas ICO atau Initial Coin Offerings, membatasi penambangan Bitcoin, serta menutup perdagangan kripto dan bursa-bursanya.
  • India
    Pada April 2018, RBI (Reserve Bank of India) telah melarang seluruh lembaga keuangan di negeri tersebut untuk terlibat dengan mata uang kripto. Dalam ultimatum ini, semua entitas di bawah regulasi pemerintah diberi batas waktu untuk memutuskan hubungan dengan bisnis mata uang kripto dalam bentuk apapun.

    Selama 2 bulan terakhir, gejolak pemblokiran Bitcoin di India terus berlanjut. Meskipun Mahkamah Agung di India telah mengadakan sidang pengadilan tentang legalitas perdagangan Bitcoin di negara tersebut pada tanggal 20 Juli 2018 , tapi permintaan Bitcoin di India telanjur merosot drastis. Sebelum pengesahan legalitas Bitcoin dari Bank Sentral India tercapai, bursa mata uang kripto di India belum bisa bergerak secara leluasa.

 

2. Tingginya Volatilitas

Goldman Sachs memiliki grafik yang menunjukkan volatilitas harian Bitcoin versus investasi lain seperti WTI, Gold, S&P 500, dan beberapa instrumen lainnya.

 

Volatilitas jadi alasan Bitcoin tidak diminati

 

Dari grafik di atas, Bitcoin terbukti jauh lebih tidak stabil daripada aset lainnya. Hal ini memang bagus untuk trader (selama mereka tahu apa yang mereka lakukan), tetapi sulit bagi investor jangka panjang. Seiring waktu berjalan, banyak investor yang mulai paham dengan risiko investasi Bitcoin. Volatilitas yang terlalu dinamis memang dapat menghasilkan profit tinggi, tapi begitu juga dengan risiko yang mengiringinya.

 

3. Persaingan Dengan Altcoin

Ada lebih dari 1,600 Altcoin yang terdaftar di coinmarketcap[dot]com, dan lebih dari setengahnya memiliki kapitalisasi pasar di bawah 10 juta US Dollar. Tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai Altcoin baru memiliki fungsi yang lebih mumpuni daripada Bitcoin. Sebagai contoh:

  • Bitcoin Cash mampu memberikan Skalabilitas hingga 32 MB.
  • Ripple dan Stellar menawarkan pembayaran lintas batas secara instan.
  • EOS menawarkan kemampuan transfer lebih dari 1.5 juta transaksi per detik, dan hampir tanpa biaya.

Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh Altcoin, permintaan terhadap kripto semakin melebar dan terdistribusi ke berbagai koin alternatif. Kemunculan para pesaing inilah yang menjadi salah satu penyebab nilai Bitcoin turun dari awal tahun 2018.

 

4. ICO (Initial Coin Offerings)

Peningkatan pesat dalam harga Bitcoin telah menyebabkan ratusan ICO atau Initial Coin Offerings yang diluncurkan dalam beberapa bulan terakhir. Contohnya, Dentacoin yang diluncurkan pada Agustus tahun lalu untuk ruang lingkup industri gigi, mengalami kemerosotan drastis dari 2 miliar US Dollar ke 600 juta US Dollar hanya dalam beberapa hari.

Contoh tersebut adalah untuk koin baru yang  sudah legal dan masih berjalan, jadi bayangkan bagaimana gejolaknya di token baru ICO yang belum meyakinkan. Ada berbagai oknum yang menjadikan ICO sebagai kedok penipuan. SEC telah memperingatkan tentang penipuan ICO, agar para investor menjauhi investasi baru yang belum benar-benar terbukti legal.

 

kontroversi ICO membuat harga bitcoin turun drastis di 2018

(Baca juga: Kontroversi Seputar Initial Coin Offering)

 

IFCERT (Platform Teknologi Analisis Resiko Keuangan Internet Nasional) China mengungkapkan bahwa dari 1,450 ICO yang dilakukan secara global antara bulan Januari–Mei 2018, 421 di antaranya terbukti penipuan. Berbagai ICO bodong yang melarikan dana para investornya lambat laun dapat mengurangi minat terhadap mata uang kripto secara keseluruhan, termasuk Bitcoin.

 

5. Peretasan Dan Pencurian

Kasus peretasan disertai pencurian Bitcoin yang paling terkenal dan terbesar adalah Mt. Gox, sebuah bursa Bitcoin di Jepang. Kasus tersebut menyebabkan lebih dari 70% Bitcoin yang dimiliki Mt. Gox diretas pada Februari 2014 dan 850,000 Bitcoin dicuri. Saat itu, hasil curian tersebut dihargai 450 juta US Dollar, sekitar 10 miliar US Dollar dengan kurs Bitcoin sekarang.

Akhir Desember 2017, kejadian serupa menimpa Youbit, bursa Bitcoin di Korea Selatan. Peretasan dan pencurian itu berhasil menjarah 4,000 Bitcoin, atau 17% dari aset Youbit yang bernilai sekitar 48 juta US Dollar. Sebuah artikel Reuters mengatakan bahwa semua aset pelanggan akan mengalami penurunan pengembalian dana sebesar 25%.

Januari 2018 juga menjadi awal yang buruk bagi salah satu pertukaran dan bursa kripto di Jepang, Coincheck. Bursa tersebut mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah menghentikan penjualan dan penarikan untuk instrumen kripto NEM (XEM), setelah hacker mencuri koin XEM senilai 58 milyar Yen. Jika dirupiahkan, maka kerugian yang dialami adalah senilai 7.1 Triliun Rupiah.

 

Banyaknya kontroversi menjadi alasan Bitcoin turun drastis

(baca juga: Kontroversi Bitcoin Yang Perlu Anda Tahu)

 

20 Juni 2018, Bithumb mengumumkan penangguhan sementara untuk deposito karena ada perubahan dalam wallet layanan pertukaran mata uang kripto mereka. Meskipun perubahan dalam sistem wallet exchange bertujuan untuk meningkatkan keamanan, tapi yang terjadi pada Bithumb justru bumerang, yaitu peretasan kripto yang tidak terduga.

Hanya 12 menit setelah Bithumb menangguhkan sistem deposit mereka, bursa penukaran kripto ini mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan semua layanan deposit dan penarikan, karena lebih dari 30 juta US Dollar telah diretas dari wallet mereka.

Sebenarnya masih banyak bursa dan pertukaran yang telah mengalami insiden peretasan dan pencurian selama 6 bulan terakhir. Meskipun ini tidak terikat dengan keamanan Bitcoin dan Blockchain secara keseluruhan, tapi kerugian yang tidak diduga semacam ini tentu membuat para investor lain berpikir berkali-kali untuk terjun ke investasi mata uang kripto.

 

6. Media Besar Ikut Memblokir Bitcoin

Dalam rentang waktu antara Februari-Juni 2018, berbagai media besar termasuk Google, Facebook, Instagram, Twitter, Baidu, dan Weibo China telah memblokade iklan terkait mata uang kripto, termasuk ICO, Bursa, serta pertambangan kripto. Hampir seluruh mata uang kripto terpopuler mengalami penurunan 20-70 persen, karena kepercayaan masyarakat luas berkurang drastis menyusul penolakan dari berbagai media raksasa.

 

7. Penipuan dan Malware Penambangan

Sejak Bitcoin mendapatkan popularitas tertingginya pada akhir Desember 2017, ada konsep baru yang disebut cloud mining, yang artinya Anda tidak perlu membeli rig pertambangan fisik, melainkan menyewa kekuatan komputasi dari perusahaan yang berbeda, dan dibayar sesuai dengan seberapa banyak kekuatan yang Anda miliki.

Pada awalnya, ide ini terdengar sangat bagus karena Anda tidak perlu repot membeli peralatan mahal, menyimpannya, mendinginkannya, dll. Namun, ketika dilakukan perhitungan, ternyata tidak ada situs penambangan cloud yang menguntungkan dalam jangka panjang. Mereka yang tampaknya menguntungkan biasanya adalah penipu yang bahkan tidak memiliki peralatan penambangan, melainkan hanya menerapkan skema Ponzi yang rumit.

Selain itu, penyebaran Malware berbasis pertambangan tersembunyi telah tersebar dan menginfeksi jutaan komputer di berbagai negara. Malware tersebut mampu berjalan secara diam-diam, tanpa disadari oleh pengguna komputer. Malware tersebut pada dasarnya menggunakan daya komputasi komputer lain untuk menambang kripto seperi Monero dan Zcash, tanpa diketahui oleh pemilik perangkat tersebut.

 

Agar terhindar dari hal-hal merugikan seperti penipuan dan peretasan, sebaiknya persenjatai diri Anda dengan beberapa langkah pencegahan. Simak ulasannya dalam artikel 5 Cara Menghindari Scam Bitcoin.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.