OctaFx

iklan

7 Strategi Trailing Stop Terbaik Untuk Trading

288603

Salah satu fasilitas yang bisa dimanfaatkan dalam platform trading adalah Trailing Stop. Lantas, cara apa saja yang tepat digunakan sebagai strategi Trailing Stop?

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Bagaimana jadinya jika ternyata harga bergerak melawan analisa Anda, sementara jumlah keuntungan yang didapat belum sempat "diamankan"? Nah, guna menghindari kondisi seperti ini, penting kiranya untuk menggunakan fasilitas Trailing Stop pada platform trading.

Secara sederhana, Trailing Stop didefinisikan sebagai perintah penutupan order trading forex yang sifatnya tidak statis, dan seringkali disebut juga sebagai Stop Loss dinamis. Fungsi dari fasilitas ini adalah agar profit yang sempat diperoleh dapat "terkunci", andai kata harga tiba-tiba berubah arah dan berpotensi mengikis keuntungan yang sebelumnya sudah terkumpul.

Fungsi Trailing Stop

Meskipun secara sederhana berfungsi mengamankan profit yang sudah diperoleh, nyatanya ada beberapa kondisi di mana penggunaan Trailing Stop ini menuai banyak pertentangan. Hal ini karena Trailing Stop dapat meningkatkan risiko terkena SL lebih cepat pada kondisi pasar ranging.

Untuk itu, perlu digunakan beberapa strategi yang tepat sasaran, agar pemasangan Trailing Stop dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh trader. Menurut Hugh Kimura dari tradingheroes[dot]com, ada 7 strategi Trailing Stop yang efektif untuk memanen profit:

 

1. R Trailing Exit

Strategi Trailing Stop yang satu ini adalah cara paling umum digunakan oleh para trader. Trailing Stop diletakkan secara bertahap pada level-level tertentu, misalnya +100, +200, dan seterusnya. Secara lebih jelas, perhatikan ilustrasi berikut:

Anda entry posisi SELL pada pair EUR/USD di level 1.11800 dengan Stop Loss sebesar 100 poin di 1.11900, dan mengaktifkan Trailing Stop pada jarak yang sama. Jika kemudian harga bergerak turun ke level 1.11700, maka SL akan berada di level 1.11800. Begitu pula bila harga turun hingga 1.11500, maka level SL akan berada berada di level 1.11600.

Apabila nanti harga tiba-tiba berbalik ke atas dan menyentuh level 1.11900, Anda tak akan menuai rugi, karena Trailing Stop sudah berhasil mengunci profit sebesar 200 poin atau 20.0 pip. Nggak jadi rugi bandar dong ya...

Nah, berdasarkan ilustrasi di atas, maka penggunaan Trailing Stop dapat membantu menghindari Loss andaikan harga tiba-tiba berbalik menyerang. Namun, ada beberapa kondisi di mana pemasangan Trailing Stop ini tidak disarankan, misalnya pada pair-pair dengan tingkat volatilitas tinggi. Hal itu karena selain menawarkan keuntungan yang besar, pair-pair tersebut juga memiliki risiko kerugian yang tinggi pula.

pair forex

(Kunjungi Juga: Tabel Pemantau Volatilitas Forex)

 

2. PSAR Trailing Stop

Indikator Parabolic SAR pertama kali diperkenalkan oleh Welles Wilder pada tahun 1978. PSAR adalah salah satu indikator teknikal yang digunakan untuk menunjukkan arah tren. Penggunaan indikator ini ditandai dengan adanya titik-titik pada chart, di mana titik-titik tersebut menandai kondisi tren yang sedang terbentuk.

Selain fungsi di atas, indikator PSAR juga bisa digunakan sebagai strategi Trailing Stop yang bisa diunggulkan. Mengingat fungsinya sebagai indikator tren, pemasangan Trailing Stop bersamaan dengan indikator PSAR akan sangat menguntungkan saat kondisi pasar sedang trending.

Caranya, cukup gunakan titik-titik yang ditunjuk oleh indikator PSAR sebagai panduan menentukan Trailing Stop ideal. Saat pasar sedang Uptrend, maka level Trailing Stop dapat diletakkan sesuai dengan titik-titik PSAR (di bawah candle). Sebaliknya, bila harga sedang Downtrend, maka titik Trailing Stop berada di atas candle.

Contoh pemasangan Trailing Stop bersamaan dengan indikator PSAR dapat dilihat pada chart berikut:

PSAR-Trailing-Stop

 

3. X-Bar Trailing Exit

Strategi Trailing Stop ketiga yang bisa diterapkan adalah menggunakan titik-titik Highest High dan Lowest Low dari beberapa candle. Keunggulan penggunaan strategi ini adalah, Trailing Stop akan bergerak secara otomatis mengikuti pergerakan harga, dengan jarak sebanyak X-Bar terhadap harga saat ini.

Sayangnya, pemasangan Trailing Stop dengan strategi ini boleh jadi menciptakan Stop Loss dengan jarak yang cukup ketat terhadap titik entry. Hal ini bisa saja membuat Anda lebih cepat tersingkir dari pasar, bahkan ketika belum memanen profit yang cukup memuaskan. Oleh karena itu, penggunaan strategi Trailing Stop satu ini tidak disarankan untuk trader jangka panjang.

Dalam strategi ini, X mengacu pada banyaknya candle yang dijadikan acuan. Misalnya Anda menetapkan susunan 3 candle sebelum exit posisi, maka contoh penerapan Trailing Stop-nya dapat dilihat di chart berikut ini:

X-Bar Trailing Stop

Bagaimana jika yang diambil adalah posisi BUY? Maka tinggal tentukan saja Stop Loss awal dan acuan Trailing Stop-nya dari Lowest Low pada 3 candle sebelum harga saat ini.

 

4. Support Resistance Trailing Stop

Level-level penting seperti Support dan Resistance adalah titik yang hampir tak pernah alpa dari chart trader. Selain bermanfaat untuk menentukan batas-batas pergerakan harga saat ini, level S/R juga bisa digunakan untuk menandai level entry maupun exit, termasuk Trailing Stop.

Pemasangan Trailing Stop berdasarkan level S/R ini sebenarnya bisa menguntungkan, bisa juga merugikan. Pasalnya, dalam kondisi harga trending, kedua level tersebut dapat berubah peran manakala harga melakukan Breakout. Jika harga bergerak menembus Support, maka level tersebut akan berubah menjadi Resistance, begitupun sebaliknya. Namun dalam kasus pemasangan Trailing Stop, berubahnya S/R justru bisa dimanfaatkan untuk mendapat level acuan Exit yang ideal.

Berikut adalah contoh strategi Trailing Stop berdasarkan level-level Support dan Resistance:

Support Resistance Trailing Stop

 

5. Bar Plus Trailing Stop

Strategi pemasangan Trailing Stop satu ini hampir mirip dengan X-Bar Trailing Stop, yakni sama-sama menggunakan acuan candle. Bedanya, Trailing Stop di sini dipasang pada candle yang baru, dengan menyertakan jumlah pips tertentu. Agar pemasangan Trailing Stop lebih terukur, Anda dapat memperoleh besaran pips yang ideal dengan menggunakan indikator ATR.

ATR (Average True Range) adalah indikator volatilitas yang secara jelas bisa menunjukkan nilai perubahan harga dari waktu ke waktu. ATR ini sangat cocok digunakan untuk menentukan Stop Loss, karena bersifat dinamis sehingga dapat digunakan hampir di semua kondisi pasar. Adapun strategi Trailing Stop dengan indikator ATR adalah dengan menggunakan nilai (value) yang ditunjuknya secara utuh, atau bisa juga hanya 50%-nya. Perhatikan chart berikut ini:

ATR Trailing Stop

Pada chart di atas, entry posisi BUY dilakukan pada level 0.69888. Harga kemudian bergerak naik hingga berada di kisaran level 0.71200, dengan nilai Low pada candle sebelumnya berada di level 0.71087. Nilai ATR yang ditunjuk adalah 0.0034, sehingga 50% dari nilai ini ialah 0.0017. Untuk menentukan level Trailing Stop, maka dapat digunakan level 0.71087 - 0.0017 = 0.70917.

 

6. Moving Average Trailing Exit

Cara lain untuk menentukan Trailing Stop adalah menggunakan Moving Average. Indikator satu ini banyak digunakan oleh trader karena mudah dan sederhana. Adapun jenis indikator MA yang banyak dipakai sebagai pelengkap strategi Trailing Stop adalah Exponential Moving Average berperiode 20 (EMA-20).

Sama dengan strategi Trailing Stop dengan Parabolic SAR, Trailing Stop yang ditentukan dengan bantuan indikator MA dapat secara otomatis menyesuaikan diri terhadap perubahan harga. Namun, risiko posisi tertutup lebih cepat juga menjadi kelemahan penggunaan strategi satu ini. Kuncinya, gunakan strategi Trailing Stop ini hanya ketika pasar sedang trending dan tidak diliputi dalam suasana volatilitas tinggi.

Untuk menerapkan strategi Trailing Stop dengan MA, waspadai ketika harga baru saja kembali ke trend utama, setelah gagal crossing terhadap garis MA. Lalu perhatikan candle terakhir yang terbentuk sebelum candle baru, untuk menentukan jarak Trailing Stop. Berikut adalah contoh aplikasinya:

Moving Average Trailing Stop

 

7. 1R Breakeven

Strategi Trailing Stop terakhir yang bisa diterapkan adalah 1R Breakeven, alias memasang Trailing Stop tepat dengan posisi entry. Dapat dikatakan juga apabila strategi ini menggunakan perbandingan Risk Reward sebesar 1:1, sehingga besarnya profit sama dengan besarnya Loss. Misalnya:

R1 Trailing Stop

(Baca juga: Apa Itu Breakeven Dalam Forex?)

Anda melakukan entry SELL pada level 0.68787, dengan Stop Loss di 0.69787 yang berjarak 100 poin dari level entry. Saat harga bergerak turun ke level 0.68687, maka Trailing Stop perlu digeser tepat ke level 0.68787.

Cara ini sekilas mirip dengan contoh strategi Trailing Stop paling sederhana pada penjelasan "R Trailing Exit". Yang membedakan strategi ini dari teknik sebelumnya adalah, sekalipun nantinya harga berlanjut turun hingga 200 poin atau bahkan 300 poin, Stop Loss tak disesuaikan lagi untuk mengikuti pergerakan tersebut. Karena yang dicari di sini adalah Breakeven sebagai hasil skenario terburuk, maka Stop Loss perlu dibiarkan tetap di level entry apapun yang terjadi.

Strategi Trailing Stop seperti ini dapat memberikan ruang luas bagi pergerakan harga, sehingga cocok digunakan saat volatilitas harga sedang tinggi. Namun sisi negatifnya, apabila pembalikan harga benar-benar memicu Stop Loss, maka tak ada keuntungan yang didapatkan sama sekali. Ini merupakan konsekuensi yang perlu siap ditanggung apabila Anda memutuskan untuk trading di pasar volatile dan menerapkan strategi Trailing Stop 1R Breakeven.

 

Selain ketujuh strategi Trailing Stop di atas, masih ada kumpulan teknik lain yang bisa Anda jadikan pilihan untuk memasang Trailing Stop di kondisi paling ideal. Strategi-strategi alternatif itu bisa diketahui di 5 Cara Mudah Menentukan Trailing Stop.

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.