Advertisement

iklan

8 Indikator Teknikal Untuk Mengetahui Psikologi Pasar

Penulis

+ -

Indikator teknikal dapat digunakan untuk mengetahui psikologi pasar. Berikut 8 indikator yang bisa diaplikasikan untuk mempermudah aktivitas trading Anda.

iklan

iklan

Psikologi pasar memang susah untuk ditebak, namun beberapa indikator yang terpercaya ternyata dapat membantu Anda memperkirakan arah harga atau perubahan momentum. Kali ini, kita akan melihat beberapa indikator teknikal yang digerakkan oleh psikologi market. Apa saja indikator tersebut?

indikator psikologi pasar

 

MACD

Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) adalah indikator teknikal yang mengukur pergeseran psikologi massa dari bullish ke bearish ataupun sebaliknya. Pengembangan teori dasar MACD berhasil menemukan MACD-histogram, sebuah alat untuk menentukan perbedaan dari psikologi massa jangka panjang dan psikologi massa jangka pendek. Pengukuran ini melacak perbedaan antara garis MACD cepat (psikologi massa jangka pendek) dan garis sinyal lambat (psikologi massa jangka lebih panjang).

 

Average Directional Index (ADX)

Indikator ADX dikembangkan oleh J. Welles Wilder, Jr. sebagai cara valid untuk mengidentifikasi arah dan kekuatan tren. Garis arah (directional lines) dibentuk untuk menentukan apakah tren sedang naik (bullish) atau turun (bearish). Ketika garis arah berada di atas garis negatif, hal ini menandakan buyer menguat atau sinyal bullish muncul, begitupun sebaliknya.

Nilai garis ADX naik ketika garis directional (+DI dan -DI) mempunyai selisih yang besar. Ketika ADX naik, investasi atau posisi profit akan menguat dan posisi yang loss otomatis melemah. Dengan demikian, tren akan menjadi berlanjut.

 

Momentum dan Rate of Change (RoC)

Indikator momentum ialah salah satu indikator volatilitas untuk mengukur perubahan sentimen massa dari optimis atau pesimis dengan cara membandingkan harga konsensus hari ini dengan hari-hari sebelumnya. Momentum dan RoC secara spesifik mengukur adanya peluang pembalikan harga.

Ketika harga naik sedangkan momentum atau RoC turun, maka ada peluang harga akan turun. Jika harga membentuk harga tertinggi baru (new high) namun indikator momentum dan RoC malah membentuk angka terendah yang baru, hal ini menunjukkan sinyal untuk sell.

Sebaliknya, jika harga membentuk harga terendah baru (new low) namun indikator momentum dan RoC malam membentuk angka tertinggi baru, hal ini mengindikasikan sinyal untuk buy.

Baca Juga: 3 Cara Menggunakan Indikator Momentum

 

Smoothed Rate of Change

Smoothed Rate of Change membandingkan Exponensial Moving Average atau EMA (konsensus rata-rata) saat ini terhadap konsensus rata-rata di masa lampau. Secara sederhana, Smoothed Rate of Change adalah versi penyempurnaan dari indikator RoC. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kesalahan RoC dalam menentukan sentimen market.

 

Williams %R (Wm%R)

Williams %R secara fokus mengukur penutupan harga dengan membandingkan harga penutupan hari kemarin dengan range konsensus harga penutupan. Jika dalam suatu hari, buyer mendorong harga sampai ke range atas, Wm%R akan memberikan sinyal buy. Sedangkan apabila seller berhasil mendorong harga hingga ke range bawah, maka Wm%R menunjukkan sinyal sell.

 

Stochastic Oscillator

Mirip dengan Wm%R, indikator Stochastic mengukur perbandingan harga penutupan terhadap range harga tertentu. Jika buyer mendorong harga naik pada hari tersebut namun gagal menutup mendekati batas atas range, pembacaan Stochastic akan turun dan menunjukkan sinyal sell. Sebaliknya, apabila seller mendorong harga turun namun gagal menutup mendekati batas bawah range, pembacaan Stochastic mulai naik dan menunjukkan sinyal buy.

 

Relative Strength Index (RSI)

RSI juga mengukur psikologi market dengan cara yang hampir mirip dengan W%R. RSI membaca psikologi market berdasarkan rumus yang hasilnya mempunyai range dari 0 sampai 100.

Level atas RSI menggunakan angka 70, sedangkan level bawah menggunakan angka 30. Nilai RSI di atas 70 disebut jenuh beli (overbought) sedangkan nilai RSI dibawah 30 disebut jenuh jual (oversold).

Baca Juga: Arti Overbought Dan Oversold Dalam Trading

 

Volume

Total volume saham yang diperdagangkan bisa menjadi cara jitu untuk mengetahui psikologi market. Volume pada dasarnya bisa digunakan untuk membaca emosi atau mood dari investor.

Tren yang bertahan lama biasanya terjadi ketika emosi pasar sedang kecil. Ketika volume berada di tengah-tengah dan antara seller dan buyer tidak mengalami lonjakan tiba-tiba, tren dapat diasumsikan akan terus berlanjut sampai kondisi pasar berubah.

Baca Juga: Indikator Volume Pada Platform Metatrader

 

Memadukan Indikator Teknikal dan Psikologi Pasar

Analisa teknikal melihat pada grafik harga untuk menemukan pola yang menunjukkan tren dan pembalikan (reversal). Para analis teknikal meyakini bahwa pola ini adalah hasil dari psikologi market.

Sebuah grafik dengan harga bisa diartikan sebagai presentasi emosi di pasar, seperti ketakutan (fear), rakus (greed), optimisme, pesimisme, dan perilaku manusia. Grafik harga menggambarkan bagaimana pelaku pasar bereaksi terhadap ekspektasi di masa depan.

 

Kesimpulan

Dari artikel ini bisa dijelaskan bahwa MACD menggambarkan perubahan konsensus antara bullish dan bearish. ADX menggunakan garis directional untuk menunjukkan apakan tren bullsih atau bearish, termasuk indikator ADX.

Di sisi lain, Momentum dan RoC mengilustrasikan sentimen dan peluang adanya top atau bottom yang terbentuk pada harga saat ini berbanding konsensus harga sebelumnya. Smoothed Rate of Change memperlihatkan selisih antara konsensus rata-rata saat ini terhadap konsensus rata-rata sebelumnya.

William %R menentukan harga penutupan dibandingkan range harga penutupan terakhir. Stochastic mengukur perbedaan antara harga penutupan terhadap range harga sebelumnya, sedangkan RSI melihat pada range harga dalam tujuh atau sembilan hari.

Di sisi lain, total volume yang terlihat di market menunjukkan keadaan emosi dari para pelaku pasar. Volume yang tinggi menunjukkan pelaku pasar sedang aktif (volatilitas tinggi) begitupun sebaliknya.

Volume juga membantu mengkonfirmasi tren dan mengidentifikasi level Support dan Resisten. Sebagai contoh, jika harga turun ke level resisten dan volume meningkat tanpa ada pergerakan harga yang kuat, hal ini menunjukkan konsolidasi atau market sedang dalam keraguan.

 

Tak hanya berguna mengetahui psikologi pasar, indikator-indikator di atas sebenarnya memiliki kemampuan beragam, seperti indikator RSI yang kerap digunakan oleh day trader untuk meraup profit. Bagaimana caranya? Simak di artikel berjudul 3 Cara Memanfaatkan Indikator RSI Untuk Day Trading berikut ini.

297928
Penulis

Sudah aktif dalam dunia trading sejak 2012 dan masih terus belajar untuk menjadi lebih baik. Awal mula trading dengan menggunakan EA, dan akhirnya pada 2014 fokus trading manual dengan terus riset pada metode trading. Saat ini, saya merupakan seorang Discretionary Trader yang menggunakan Trend Following dengan metode breakout.