Akankah Kapitalisme Berakhir

72954

Akankah negara berganti menjadi pasar dunia, lalu semua orang akan merasa bahagia? Komentar salah satu ekonom Amerika pendukung utama pasar besar Milton Friedman. Namun beberapa tahun terakhir ini, realita memperlihatkan kepada kita malah sebaliknya. Pasar justru membuat sengsara banyak orang didunia. Pada saat yang sama, justru negaralah yang menjadi penolong saat pasar tak mampu menolong

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Anti Kapitalisme - twps2 - pendulangforexAkankah negara berganti menjadi pasar dunia, lalu semua orang akan merasa bahagia? Komentar salah satu ekonom Amerika pendukung utama pasar besar Milton Friedman. Namun beberapa tahun terakhir ini, realita memperlihatkan kepada kita malah sebaliknya.

Pasar justru membuat sengsara banyak orang didunia. Pada saat yang sama, justru negaralah yang menjadi penolong saat pasar tak mampu menolong dirinya sendiri. Lalu apa yang terjadi di negara Amerika dan beberapa negara Eropa belakangan ini telah menjadi contoh nyata. Ketika krisis keuangan terjadi, pemerintahlah yang menolong perusahaan keluar dari krisis. Pasar yang telah diagung-agungkan itu malah membuat rakyat banyak yang dirugikan. Sebagian besar orang Amerika pun mengekspresikan rasa kekecewaannya itu dengan melakukan aksi demo yang teramat provokatif hingga Menduduki Wall Street atau Occupy Wall Street (OWS).

Wall Street merupakan kawasan finansial yang terdapat di New York, dimana bursa saham terbesar di dunia New York Stock Exchange dan sejumlah lembaga keuangan raksasa seperti Goldman Sachs Group dan Morgan Stanley berkantor. Beberapa perusahaan keuangan raksasa seperti JP Morgan dan Citigroup meskipun sudah tidak lagi berkantor di kawasan tersebut namun masih dikategorikan sebagai perusahaan Wall Street. Wall Street yang kemudian menjadi simbol kejayaan kapitalisme.

Para demonstran Occupy Wall Street yang telah dimulai sejak tanggal 17 September 2011 dan selama beberapa pekan kemudian meluas hingga keberbagai penjuru dunia, menandakan bahwa bertumbuhnya kesadaran dan aspirasi kolektif bahwa globalisasi, pasar bebas dan sistem ekonomi kapitalisme didunia saat ini dibangun diatas pelembagaan kerakusan atau ketamakan.

Akan tetapi para pendukung Occupy Wall Street tampaknya lupa, bahwa semiskin-miskinnya mereka, masih jauh lebih kaya dibandingkan dengan sebagian besar penduduk dunia dibelahan lainnya. Bukankah mereka telah mencapai kemakmuran sosial ekonomi akibat dari sistem kapitalisme yang telah mereka anut? Sehingga, meskipun dikecam, namun kapitalisme tetap dianggap sebagai ideologi yang terbaik untuk saat ini. Dan orang-orang Amerika tidak akan sudi untuk menggantikannya dengan sistem yang lain. Sehingga berpendapat tidak ada ideologi lain selain kapitalisme.

Ketimpangan
Keunggulan ideologi kapitalisme, mengutip ocehan Obama 20 Februari 2009, adalah " Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched ". Kebebasan yang luar biasa untuk mengakumulasi kekayaan material ini telah melahirkan abad keserakahan (Martin Jacques, 2004), sehingga melahirkan kultur baru seolah-olah keserakahan adalah anugerah (selfishness as a virtue).

Benar, bahwa kebebasan, individualisme dan keserakahan adalah paradigma utama dari kapitalisme. Keserakahan dan individualisme merupakan antitesis bagi etika berbagi (ethics of share and care) yang menjadi landasan kokoh terhadap ikatan sosial suatu masyarakat. Globalisasi keuangan telah menimbulkan fenomena yang sangat kontras berlawanan, yaitu pasar finansial yang superaktif disatu pihak (dipasar bursa), dengan sektor ekonomi riil yang cenderung stagnan pada pihak lain. Ketimpangan serta ketidakadilan tersebut telah terjadi, baik pada tingkat global maupun tingkat nasional. Pergerakan harga komoditas, surat berharga, nilai mata uang, dan pasar properti ditentukan oleh permainan para spekulan dipusat-pusat keuangan dunia. Dimana terdapat mafia, oligarki, ataupun ubur-ubur yang memiliki kekuatan untuk mengatur fluktuasi harga dan arus investasi global. Kekayaan ditingkat dunia maupun tingkat nasional terakumulasi pada segelintir kaum elite.

Ketimpangan serta ketidakadilan tersebut telah terjadi, baik pada tingkat global maupun tingkat nasional. Pergerakan harga komoditas, surat berharga, nilai mata uang, dan pasar properti ditentukan oleh permainan para spekulan dipusat-pusat keuangan dunia. Dimana terdapat mafia, oligarki, ataupun ubur-ubur yang memiliki kekuatan untuk mengatur fluktuasi harga dan arus investasi global. Kekayaan ditingkat dunia maupun tingkat nasional terakumulasi pada segelintir kaum elite. Kapitalisme memang seakan tidak pernah ada matinya, meskipun telah berkali-kali dilanda oleh krisis. Krisis ekonomi kapitalis ini sejak awal hingga sekarang telah terjadi, katakanlah, misalnya krisis ekonomi 1930, 1960, 1980, 1999, 2001 dan terakhir 2008 dengan berbagai pemicu, besaran dan dampaknya.

Sitem kapitalis itu sendiri sepertinya akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang lama dan akan terus berulang apabila sifat dasarnya, filosofinya tidak diperbaiki. Sifat dasar kapitalisme memang dari awalnya sudah tidak "seimbang", tidak adil. Karena visi dan misinya hanya mengutamakan bagi "pemiliki modal". Pemilik modal sebagai motor penggerak, inisiator, leader, dan otomatis juga sebagai penerima terbanyak dari suatu kegiatan ekonomi. Pihak lain seperti tenaga kerja dan profesional harus berada dibawah naungannya. Wall Street beserta pasar-pasar bursa didunia lainnya merupakan cerminan bagaimana sebuah sistem finansial kapitalisme yang hanya menguntungkan bagi segelintir orang dan merugikan rakyat serta pemerintah.

Keuntungan yang didapat dari sektor finansial memang teramat menggiurkan. Berbekal analisa dan spekulasi, para investor dapat melipatgandakan keuntungan tanpa perlu banyak mengeluarkan keringat. Sehingga pada akibatnya, terjadi pertambahan kapital hingga kedalam tingkatan hampir tak terukur (sebutlah data misalnya, yang mengatakan akumulasi modal dari elit kapitalis dunia yang nilainya lebih dari 10 kali PDB dunia, 60 kali PDB Amerika, 1.000 kali PDB Indonesia), dimana telah menciptakan sebuah kebutuhan absurd dimana nilai kekayaan tidak lagi berdasarkan pada nilai riilnya, melainkan dengan persepsi abstrak yang dikenakan padanya. Inilah hasil dari yang bekerja diberbagai bursa dan pasar derivatif, yang jika sedikit saja terguncang maka akan berdampak pula terhadap puluhan atau bahkan ratusan juta penduduk disuatu negara.

Melihat Sejarah
Kapitalisme memang telah berkali-kali mengalami krisis, dan berkali-kali pula ia mampu mencari jalan keluarnya. Sebagaimana yang telah dinyatakan oleh para filsuf kapitalisme seperti Von Hayek dan Milton Friedman, keunggulan kapitalisme terletak pada kebebasan yang memungkinkan ekspansi talenta dan kapasitas untuk menemukan pengalaman dan jalan keluar yang baru. Sejumlah varian baru dari sistem ekonomi pasar yang belakangan ini populer, seperti sistem ekonomi pasar sosial, neososialisme, sistem ekonomi pasar terencana, akan memperkaya evolusi kelembagaan dari sistem kapitalisme.

Negara-negara Eropa Barat dan Skandinavia yang merupakan negara makmur, sistem kapitalisme justru dijalankan mirip dengan sosialisme, dimana setiap warga negara mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan bersama, kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan kesinambungan akan sumber daya alam. Walaupun kapitalisme banyak dikecam sebagai sistem dan ideologi yang liberal dan individualis, namun ideologi ini terus berkembang dan dianggap sebagai pemenang dalam kancah perang dingin selepas sosialisme-komunisme gagal total. Dimana untuk saat ini sistem kapitalisme nyaris dianut oleh seluruh negara didunia dalam era perdagangan global.

Sebagai ideologi yang tak tergantikan, maka sebagian dari para pihak pengusungnya menganggap kapitalisme sebagai "altar suci" baru. Apabila ia mati maka yang lainnya akan mati. Jika ia tumbang maka akan terjadi efek domino yang menyebabkan tumbangnya perekonomian dunia secara global. Kapitalisme ialah puncak dunia dan sebagai ruh dari penggerak perekonomian global. Dan pada tingkat ini telah terjadi kesombongan yang amat mencemaskan. Yaitu adalah ketika kemampuan material manusia sudah sampai pada tingkatan dimana ia dapat menentukan apapun yang ingin ia dapatkan. Ia ingin juga menentukan nasib, takdir, masa depan, bahkan menaklukan waktu. Pada saat itu, sebenarnya, godaan iblis telah bekerja dengan sangat baik. Ketika kapitalisme dianggap tak tergantikan, pada saat ini pula Tuhan "telah mati" tak lagi secara filosofis, melainkan defintif. Di puncak kejayaan manusia, di puncak kapitalisme.

Namun mereka lupa akan membaca sejarah. Bahwa peradaban yang paling superior dimuka bumi sekalipun akan berlalu dihempas oleh sang waktu. Esok lusa kapitalisme pun akan berlalu, digantikan oleh ideologi yang baru. Namun bukan untuk saat ini.

Bayu mengenal dunia investasi saat masih studi di perguruan tinggi, kemudian berlanjut menjadi penulis mengenai berbagai jenis investasi dan strategi-strategi trading di Seputarforex. Bayu meyakini bahwa trading bukanlah mesin jackpot, dan kita harus terus belajar agar bisa menjadi seorang trader sukses.

Budi Pamulang
Terus piye? kita2 kan cuma rakyat biasa, terus jelas dari sistem kapitalisme tadi yg berkuasa adalah pmilik modal terbesar. Kita2 mah retailer cuma dapet remah2 rotinya aja (itupun kalo kebagian)... Mau pake sistem sosialisme murni juga udah tahu sendiri hasilnya di negara belahan lain kan... ya gitulah