Alternatif Investasi

62033

Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan investasi, tibalah saatnya melakukan investasi. Pertanyaan yang muncul kemana kita akan melakukan ivestasi tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengetahui alternatif-alternatif investasi. Secara garis besar, lahan investasi secara umum dapat dibagi dua, yaitu Real Asset Investment and Financial Asset Investment. Real asset

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan investasi, tibalah saatnya melakukan investasi. Pertanyaan yang muncul kemana kita akan melakukan ivestasi tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengetahui alternatif-alternatif investasi.

Alternatif Investasi - team wp2 - www.seputarforex.com



Secara garis besar, lahan investasi secara umum dapat dibagi dua, yaitu Real Asset Investment and Financial Asset Investment.

Real asset investment
adalah komitmen mengikatkan aset pada sektor real. Seperti diketahui, istilah sektor real sering digunakan untuk menunjukkan sektor diluar keuangan, seperti perdagangan, industri, pertanian dan lain sebagainya. Dengan demikian, investasi pada sektor real adalah komitmen mengikatkan aset di luar sektor keuangan.

Sebagai contoh dari real asset investment, misalnya membeli ruko untuk berdagang tekstil atau barang lainnya, membangun pabrik, membeli apartemen kemudian disewakan, membeli lukisan untuk dijual kembali dan masih banyak lagi.

Ciri-ciri investasi di sektor real ini adalah perantara tidak mutlak. diperlukan dan informasi bisa didapat secara langsung dari lapangan, karena obyek investasinya bisa dilihat secara nyata, misalnya mutu bangunan ruko yang kita beli, dapat kita lihat langsung dari tampilan bangunan-bahan bangunannya baik, warnanya cocok, ukurannya tepat dan lain sebagainya.

Sedangkan Financial Asset Investment (investasi disektor keuangan) atau sering juga disebut portfolio investment (investasi portofolio) adalah komitmen untuk mengikatkan aset pada surat-surat berharga (securities), yang diterbitkan oleh penerbitnya. Penerbit surat berharga ini beragam,mulai dari individu, perusahaan hingga pemerintah. Demikian pula dengan jenisnya, sangat beragam, mulai dari yang sederhana seperti utang piutang antar pribadi hingga produk derivative (turunan) yang rumit, seperti future. Sebagai contoh investasi pada sektor keuangan ini, misalnya, kita menabung uang di bank, membeli saham, obligasi atau reksadana.

Ciri-ciri investasi di sektor keuangan yang membedakannya, dengan investasi di sektor real adalah dalam melakukan investasi perantara mutlak diperlukan, kemudian informasi hanya bisa didapat dari prospektus, laporan tahuhan atau proposal. Karena manajemen investasi menyajikan teori-teori tentang Portofolio, maka konsentrasi kita akan kita curahkan pada investasi di sektor keuangan ini.

Selain memiliki ciri-ciri tersebut, investasi keuangan juga lebih banyak melibatkan Profesi, yang untuk bisa menyandang profesi tersebut diperlukan ujian standar profesi. Ini sangat wajar, karena bisnis di industri keuangan ini lebih mengandalkan kepercayaan, sehingga untuk melegitimasi kepercayaan tersebut diperlukan standar tertentu.

Kepercayaan ,menjadi sangat penting karena “komoditi” yang menjadi obyek transaksi adalah "barang" tak berwujud, yaitu hanya berupa kertas yang memuat pernyataan bahwa pemilik kertas tersebut memiliki hak tagih/bayar kepada penerbitnya. Bahkan dalam sistem perdagangan tanpa warkat (scriptless trading), atas saham-saham di BEJ (Bursa Efek Jakarta) investor sudah tidak lagi melihat wujud saham secara fisik, melainkan hanya laporan perusahaan pialang mengenai perubahan jumlah saham dan nilainya, tak ubahnya seperti kita menerima laporan rekening koran dari bank setiap bulan (Widoatmodjo, 2004).

Bayu mengenal dunia investasi saat masih studi di perguruan tinggi, kemudian berlanjut menjadi penulis mengenai berbagai jenis investasi dan strategi-strategi trading di Seputarforex. Bayu meyakini bahwa trading bukanlah mesin jackpot, dan kita harus terus belajar agar bisa menjadi seorang trader sukses.

Surjono
nice share.. btw klo misal investasi di forex yang ada broker - broker nya di forex lokal itu reccomended ga yaah? kmaren ada temen nawarin investasi di forex dengan sistem pembagian keuntungan 80% buat saya, 20% dia.. dari cara ngomongnya seh emg sepertinya expert di bidang forex.
Mulyono Bm
wahhh liat tawaran investasi begitu nilainya jangan cuma dari cara ngomong aja. kurang reliable tuh kalo orang udah pinter ngomong aja bisa dianggap expert. lha orang2 marketing yg pinter ngomong, juga expert dong kalo begitu? trus juga perlu diperhatiin investasi forexnya dimana? apa brokernya udh bs dipercaya atau blm?

setau sy kl kt mau inves ke trader expert dgn sistem bg hasil sprt itu, kita jg musti tau portofolio tradingnya sprt apa. dia tradinya bagaimana, rate profit dn lossnya sprt apa, n bagaimana performa keseluruhanny slm ini. kl d broker luar ada sistem pamm bwt fasilitas sprt itu. langsung ada monitor tradernya jd transparan sekali penilaianya.

jd kalo mau inves k trader, jangan percaya omongannya doang, tp minta jg buktinya. trus liat2 dulu mau diajakin investasi kemana, jgn2 investasinya bodong... kan skrg juga makin bnyk bermunculan investasi macam itu yg mngatasnamakan forex...
Reziki Amal
patut diinget juga kalo sektor real itu tidak se-liquid sektor finansial. Jadi meskipun sektor real punya keunggulan atas kepemilikan aset secara fisik namun ada resiko jika harga bisa berubah drastis dari harga penawaran versus permintaan. Misalnya jika kita beli rumah, saat kita beli harganya mungkin bisa naik tajam jika kita menginvestasikannya hingga beberapa tahun kedepan karena spekulan dsb. Namun saat kita ingin mencairkannya karena keperluan mendadak, kita akan kesulitan menemukan pembeli yang rela mengeluarkan uang sesuai harga penawaran kita. Bisa jadi karenanya kita harus menurunkan harga rumah tadi supaya ada pembeli yg tertarik. Berbeda dengan aset finansial, seperti misalnya obligasi dan saham, likuiditasnya jauh lebih tinggi daripada sektor real. Kita bisa dengan mudah memperjual-belikan aset finansial tersebut di bursa.
Hans
tapi menurut saya sih dari segi sekuritas finansial, orang Indonesia terutama, entah karena kurangnya transparansi atau akses dari lembaga finansial dsb... selalu jauh lebih memilih investasi sektor real daripada sektor finansial pada bursa regional (domestik).
Reziki Amal
kalo opini saya sih itu benernya bisa berubah seiring waktu, toh orang Indonesia sendiri juga sudah mulai banyak yang melek kesadaran tentang kemandirian finansial kan? Lagipula karena era media terbuka seperti sekarang (internet, dll) toh pasti lembaga finansial bisa lebih mudah memperkenalkan produk2 mereka ke pasar regional. Saya sih optimis2 aja sih, selama outlook ekonomi Indonesia "relatif" (gonjang-ganjing dikit ga apalah) stabil.