Andrew Mitchem, Mantan Peternak Sapi Yang Sukses Sebagai Trader Forex

Bermula dari mendengar iklan kursus di radio, Andrew Mitchem belajar forex secara otodidak hingga kini mencapai kesuksesan meski tak berlatar belakang ekonomi.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Andrew Mitchem mulai trading sejak tahun 2003-2004, dan telah mengembangkan strategi trading pada semua pasangan mata uang. Kini, Andrew telah memberikan pelatihan kepada orang-orang di lebih dari 58 negara di seluruh dunia melalui lembaga kursus yang didirikannya.

Saat baru mengawali karir di dunia trading, Andrew Mitchem mengaku kehilangan banyak uang karena trade yang buruk, membaca e-book yang tidak bermanfaat, dan membeli robot trading yang menjanjikan return tinggi. Katanya, "Berjam-jam saya berada di depan layar komputer, mencoba banyak indikator, masuk ke berbagai forum online, dengan harapan bisa menemukan sistem yang bisa menyelamatkan saya. Saya tidak memiliki latar pendidikan ini, dan saya trading tanpa rencana, dan tanpa metode trading yang logis."

Jadi, bagaimana pengalamannya hingga berhasil menjadi trader forex sukses?

Andrew Mitchem

 

Bermula Dari Iklan Kursus Forex Di Radio

Andrew Mitchem termasuk trader otodidak. Trader yang lahir di London ini mengakui tak memilki latar belakang pendidikan ekonomi pasar, juga bukan keturunan seorang trader. Ia hanyalah keturunan dari seorang peternak sapi perah dan sehari-harinya ikut membantu orang tuanya.

Tahun 1997, ia menjadi warga Selandia Baru karena tertarik dengan keindahan negeri ini, dan mengembangkan usaha perternakan sapi perah di tempat tinggal barunya. Suatu saat, usaha perternakan sapi perahnya mengalami goncangan, ia terlilit hutang dan harus menanggung banyak biaya. Ditambah dengan istri dan anaknya yang mengalami sakit keras, maka ia harus menjual sebagian kekayaan perternakannya. Hal ini yang membuatnya berpikir bagaimana mendapatkan penghasilan tambahan untuk biaya kesehariannya.

Suatu pagi, ketika sedang memerah susu sapi, ia mendengar iklan di stasiun radio tentang kursus forex. Saat itu, ia belum mengenal forex dan tidak pernah mendengar tentang hal ini. Namun, menjelang akhir karirnya sebagai peternak, Andrew Mitchem memutuskan untuk mengikuti kursus. Biayanya lebih dari 5,000 Dolar Selandia Baru, yang saat itu termasuk jumlah uang yang sangat besar.

Dari sinilah ia terdorong untuk terjun dalam trading forex. Pembicaraan yang disampaikan oleh Trainer membuatnya terpikat pada trading forex. Ia mendapat motivasi untuk mempelajari forex lebih lanjut, sekalipun pada saat yang sama ia mengkuti kursus seperti kursus bisnis, kursus properti dan kursus waralaba. Diantara semua kursus yang diikutinya, kursus Forex lah yang benar-benar membuatnya ketagihan.

Andrew tak ingin berlama-lama di akun demo (suatu hal yang kemudian belakangan disesalinya), sehingga ia memutuskan untuk deposit dana sebesar USD10,000 di broker AS atas saran trainer kursus. Trading riil pertamanya adalah pada Non-Farm Payroll, dengan impian mendapat 200-300 pips. Saat itu, Ia menghasilkan USD1200 dalam hitungan 10-20 detik.

Andrew gemetar bisa mendapat keuntungan 12 persen untuk pertama kali open posisi. Namun, seperti kebanyakan trader baru, Andrew harus menelan kerugian yang lebih besar daripada keuntungan pada hari-hari berikutnya. Pada saat yang sama, ia browsing secara online, mengumpulkan beragam sistem dan indikator, mencoba untuk mendapatkan keuntungan kembali.

Tampaknya Andrew Mitchem yakin dengan pepatah "kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda". Walaupun sempat merugi, tetapi ia tetap menekuni trading, karena fasilitas leverage yang menjadi daya tarik baginya. Menurut Andrew Mitchem, jika digunakan dengan bijak dan benar, leverage dapat menjadi alat yang luar biasa. Namun, leverage juga merupakan pedang bermata dua dan dapat menghancurkan jika digunakan tanpa pengetahuan yang baik.

Perlahan-lahan, ia belajar mengenai bagaimana menyusun metode trading, merencanakannya secara matang dan melaksanakan trading forex berdasarkan manajemen risiko yang baik hingga berhasil mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Berdasarkan pengalamannya itu, Andrew Mitchem mendirikan lembaga kursus The Forex Trading Coach. Lembaga ini telah diikuti oleh banyak orang dari 58+ negara dengan kantor di 51a Poplar Lane, Hamilton, 3284 New Zealand. Ia juga melayani tanya jawab melalui website lembaga kursusnya, serta menyajikan analisa dan tutorial dalam bentuk artikel, audio-video, maupun podcast secara gratis.

 

Bagaimana Cara Trading Andrew Mitchem?

Menurutnya, ia akan bersabar dan hanya mengambil trade dengan setup dan Risk/Reward Ratio yang baik. Jika memang belum ada peluang yang menarik, maka ia takkan membuka posisi trading sama sekali.

Grafik Daily menjadi kerangka waktu favorit baginya, karena paling dapat diandalkan. Dengan timeframe ini, ia hanya membutuhkan sedikit analisa, hanya beberapa menit setiap hari untuk memindai setiap pasangan mata uang, dan mencari peluang perdagangan yang ideal. Ia juga mengembangkan indikator sendiri untuk mencari pola Candle dengan akurasi tinggi, bersama dengan area overbought/oversold dan area support/resistance.

Candlestick merupakan bagian terpenting dari sistem tradingnya. Menurut Andrew Mitchem, pola candle bisa memberi tahu dimana sentimen pasar saat ini, sehingga memungkinkan trader untuk entry lebih cepat dibandingkan indikator apapun.

Selain itu, Andrew menggunakan Fibonacci Retracements dan Extension dengan cara unik untuk membantu masuk dan keluar dari posisi trading. Tren Bullish dan Bearish di timeframe mingguan dan harian pun dipantau, karena ia memilih untuk membuka posisi trading yang searah dengan tren jangka panjang.

Biasanya, Andrew memantau 20 pasangan mata uang pada grafik Daily. Ia bisa menemukan 3-4 setup trading yang bagus pada setiap pasangan mata uang per bulannya. Rasio Risk/Reward yang digunakannya sekitar 1:3, sehingga artinya ia merisikokan 0.5% akun pada tiap trade dengan target keuntungan 1.5%.

Mulai terjun di dunia trading akhir tahun 2009. Pertama kali belajar konsep Money Management dari seorang trader Jepang, kemudian berlanjut otodidak. Strategi trading berpatokan pada level Support dan Resistance (Supply and Demand), dengan dasar High Low yang pernah terjadi, ditunjang range market yang sedang berlangsung dan pembatasan risiko.


Nanda Pramutama
terima kasih pak, artikel andrw mitchem ini memberikan semangat baru bagi saya. mudah-mudahan saya bisa mengikuti.