Apa Itu Fragile Five

Krisis yang terjadi di sejumlah negara berkembang pada tahun 2018 kembali memunculkan istilah Fragile Five. Indonesia pun termasuk di dalamnya. Apa itu Fragile Five?

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Istilah Fragile Five kembali mengemuka dalam berbagai berita ekonomi, sehubungan dengan penguatan Dolar AS yang menggila di tahun 2018 ini. Indonesia masuk sebagai salah satu negara Fragile Five dengan kurs Rupiah yang terpukul jatuh, hampir ke level Rp15,000 per USD seperti krisis moneter tahun 1998. Jadi, apa itu Fragile Five?

 

Pengertian Fragile Five

Fragile Five adalah istilah yang ditemukan oleh analis keuangan Morgan Stanley pada tahun 2013. Istilah tersebut ditujukan untuk lima negara berkembang yang dinilai terlalu bergantung pada investasi asing--yang sebetulnya sulit untuk dijadikan andalan--untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mereka.

Negara Fragile Five

Anggota asli Fragile Five adalah Brazil, India, Indonesia, Afrika Selatan, dan Turki. Dalam kondisi tertentu, anggota Fragile Five dapat berubah. Pada tahun 2014, Indonesia sempat dikabarkan "terbebas" dari kategori Fragile Five. Namun pada Desember 2016, Indonesia masuk kembali bersama dengan Kolombia, Meksiko, Afrika Selatan, dan Turki.

 

 

Pada bulan November 2017, badan pemeringkat kredit S&P Global mendaftar Turki, Argentina, Pakistan Mesir, dan Qatar sebagai negara Fragile Five versi mereka. Alasannya. kelima negara tersebut terpengaruh oleh kebijakan moneter ketat negara-negara maju. Akan tetapi, pada bulan September 2018 ini, Fragile Five kembali terdiri dari anggota asli versi Morgan Stanley, gegara melemahnya sentimen investor. Brazil, India, Indonesia, Afrika Selatan, dan Turki, akhirnya kembali menderita risiko yang ditimbulkan dari keluarnya arus modal.

Adapun 6 faktor yang menjadi standar penilaian Morgan Stanley untuk mengategorikan sebuah negara berkembang menjadi Fragile Five adalah sebagai berikut:

  • Kondisi neraca berjalan.
  • Rasio cadangan devisa terhadap utang luar negeri.
  • Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah.
  • Utang dalam Dolar AS.
  • Inflasi.
  • Selisih suku bunga riil.

 

Awal Mula Fragile Five

Penamaan Fragile Five bermula di tengah pemulihan ekonomi global pasca krisis ekonomi 2008. Di akhir tahun 2013, Federal Reserve AS (The Fed) mulai melakukan pengurangan stimulus atau yang dikenal dengan Tapering The Fed. Negara-negara maju seperti AS, ketika itu memang sudah menjalani masa pemulihan, sehingga para investor kembali berani mengubah asetnya ke dalam bentuk Dolar AS.

Awal Mula Negara Fragile Five

Akibatnya, mata uang negara-negara berkembang terjual habis. Arus modal keluar paling besar berasal dari Brazil, India, Indonesia, Afrika Selatan, dan Turki. Mata uang masing-masing negara tersebut, yakni Real Brazil, Rupe India, Rupiah Indonesia, Rand Afrika Selatan, dan Lira Turki mengalami pelemahan signifikan. Hal ini membuat negara-negara itu kesulitan mendanai neraca yang defisit. Kurangnya investasi juga membuat Fragile Five tak mungkin membiayai proyek-proyek pertumbuhan mereka. Buntutnya, perlambatan yang terjadi di masing-masing negara itu membuat ekonomi mereka semakin rentan.

 

India Sempat Keluar Namun Kembali Lagi

Di tahun 2015, sebagian besar pasar negara berkembang mengalami kemerosotan. Ironisnya, mereka masih terus bergantung pada investasi asing demi menutup defisit neraca berjalan. Beruntung, India menjadi negara yang paling cepat pulih dari kemerosotan tersebut; Rupe makin stabil, inflasi surut, dan defisit fiskalnya terkendali. Akhirnya, India sukses menjadi negara tujuan investasi yang jauh lebih baik dibanding 4 negara Fragile Five lainnya.

Dari situ, anggota Fragile Five berkurang satu. Saat mata uang keempat negara sisanya menjadi mata uang berperforma terburuk pada bulan Agustus 2013 dan 2015, India justru benar-benar lepas dari sebutan "Fragile". Saham dan performa mata uang India bahkan melampaui negara-negara maju.

Akan tetapi, keluarnya India dari jajaran Fragile Five rupanya hanya berlangsung sekitar satu setengah tahun. Tahun 2017, ekonomi India terpuruk sehingga ia kembali lagi "ke pelukan" empat rekannya. Susunan Fragile Five kembali ke awal.

 

Kondisi Negara Dan Mata Uang Fragile Five Di Tahun 2018

Di awal September 2018, mata uang negara-negara Fragile Five mengalami krisis nilai tukar terhadap Dolar AS. Penguatan Dolar AS terjadi karena kenaikan suku bunga The Fed yang terbilang cukup agresif. Akibatnya, ekonomi semua negara berkembang berada dalam mode waspada, dan Fragile Five pun kembali diterpa masalah yang serupa dengan kendala di tahun 2013. Belum ada yang dapat menjamin sampai kapan persisnya apresiasi Dolar AS akan mendominasi, sehingga negara-negara yang termasuk dalam Fragile Five terpaksa harus menghadapi cobaan lagi untuk beberapa waktu ke depan.

Mata Uang Negara Fragile Five

Yang jelas, kerapuhan yang kembali dialami oleh Fragile Five tahun ini telah mencuri perhatian para investor dan analis. Defisit neraca berjalan negara-negara tersebut melebar sehingga menyusutkan Produk Domestik Bruto sejak tahun 2013. Mata uang-mata uang negara berkembang pun terdepresiasi. Sejumlah bank sentral, termasuk Bank Indonesia, berupaya keras untuk menghindarkan negara dari kemungkinan terburuk. Mereka juga membangun kredibilitas dengan mengetatkan kebijakan moneter, walaupun harus mengorbankan prospek pertumbuhan.

 

Walaupun tidak masuk ke dalam Fragile Five, negara berkembang Venezuela ternyata mengalami krisis yang lebih memprihatinkan dari Turki, India, Indonesia, Braziil, dan Afrika Selatan. Kisah selengkapnya bisa disimak di artikel Krisis Venezuela: Ketika Secangkir Kopi Berharga 2 Juta.

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.