Apa Itu Komodo Bond Yang Ramai Diperbincangkan BUMN?

Komodo Bond adalah sebutan bagi obligasi berdenominasi Rupiah yang diterbitkan oleh korporasi Indonesia di luar negeri. BUMN mulai ramai mempertimbangkannya karena cenderung menguntungkan dan disukai investor.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Sejak akhir 2017, istilah Komodo Bond mulai ramai bermunculan di media-media seputar investasi. Bermula dari perilisan Komodo Bond oleh Jasa Marga pada Desember 2017, disusul oleh Wijaya Karya pada awal tahun 2018. Baru-baru ini, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan akan ada pelat merah yang menerbitkan Komodo Bond lagi sebelum akhir tahun. Namun, apa itu Komodo Bond? apa keuntungan dan risikonya bagi perusahaan penerbit dan investor? Simak ulasan selengkapnya dalam artikel ini.

 

Pengertian Komodo Bond

 

Pengertian Komodo Bond

Komodo Bond adalah sebutan bagi obligasi berdenominasi Rupiah yang diterbitkan oleh korporasi Indonesia di luar negeri. Perusahaan penerbit Komodo Bond mengkalkulasikan besaran obligasi dan pembayaran dalam Rupiah, sedangkan investor pembelinya akan menerima bunga dan pelunasan dalam bentuk mata uang Dolar AS (USD) sesuai dengan nilai tukar Rupiah-Dolar AS yang berlaku saat pembayaran.

Kabarnya, sebelumnya ada usulan agar obligasi semacam ini disebut Nasi Goreng Bond atau Rendang Bond. Namun, kemudian Presiden Joko Widodo memilih nama Komodo Bond; diambil dari nama hewan khas yang hidup di kawasan Timur Indonesia.

 

Peluncuran Komodo Bond Oleh BUMN

Komodo Bond pertama di dunia diterbitkan oleh Jasa Marga (kode saham JSMR) pada tanggal 13 Desember 2017. Pada saat itu, Jasa Marga mencatatkan Komodo Bond senilai Rp 4 Triliun di London Stock Exchange (LSE). Peluncuran terhitung sukses, dengan permintaan mencapai Rp 15 Triliun. Kemudian pada awal 2018, Wijaya Karya (kode saham WIKA) meluncurkan Komodo Bond di LSE juga, dan lagi-lagi mengalami oversubscribed.

Melihat kesuksesan Jasa Marga dan Wijaya Karya, sejumlah BUMN lain (seperti PLN dan Telkom), mulai tertarik untuk turut merilis Komodo Bond dalam rangka meragamkan sumber dana pembiayaan di tengah rendahnya minat pada obligasi di dalam negeri. Apalagi, obligasi berdenominasi Rupiah dapat mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar bagi perusahaan-perusahaan tersebut.

 

Penerbitan Komodo Bond Di LSE

 

Secara historis, obligasi berdenominasi Rupiah sebenarnya bukan hanya dirilis oleh BUMN. Sejumlah perusahaan asing juga pernah mencatatkan obligasi berdenominasi Rupiah di LSE, yaitu EBRD (European Bank for Reconstruction and Development), Inter-American Development Bank, Barclays, dan HSBC. Selain Komodo Bond, LSE telah berpengalaman pula menangani obligasi berdenominasi Rupee India (Masala Bond), obligasi berdenominasi Yuan China (Renminbi Bond), dan obligasi berdenominasi Soum Uzbekistan (Samarkand Bond) di pasar internasional.

 

Komodo Bond Bagi Investor

Sasaran Komodo Bond adalah investor di luar negeri (investor asing) yang ingin berinvestasi dalam aset berdenominasi Rupiah di pasar finansial mancanegara. Sedangkan bagi investor lokal yang berminat untuk menanamkan dana pada obligasi, maka banyak produk serupa di dalam negeri yang bisa diperoleh melalui perusahaan sekuritas (pialang) atau bank yang melayani jual beli obligasi di Indonesia.

Apakah prospek Komodo Bond lebih bagus atau lebih buruk ketimbang obligasi yang diterbitkan di dalam negeri? Hal ini tergantung outlook masing-masing perusahaan penerbit obligasi dan pertimbangan setiap investor sendiri.

Penerbitan Komodo Bond akan mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar bagi perusahaan penerbit, tetapi risiko ini berpindah ke pihak investor. Guna mengimbangi risiko gonjang-ganjing kurs Rupiah-Dolar AS bagi investor, kupon Komodo Bond cenderung lebih tinggi dibanding obligasi berdenominasi Dolar AS biasa. Menurut Indonesia-Investments, rerata kupon obligasi berdenominasi AS yang diterbitkan korporasi Indonesia biasanya di bawah 7 persen. Namun, Jasa Marga mematok kupon Komodo Bond pada 7.5 persen, sedangkan Wijaya Karya menentukan 7.7 persen.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.