OctaFx

iklan

Apakah Bitcoin Termasuk Mata Uang?

Sejatinya, Bitcoin tidak mungkin menjadi pengganti mata uang reguler (fiat) seperti Poundsterling, Dolar AS, atau Euro.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Tampaknya tahun 2017 ini bisa disebut sebagai Tahun Bitcoin, mengutip nama Cryptocurrency (Mata Uang Kripto) paling populer dan berharga yang beberapa kali telah memecahkan rekor harga tertinggi. Pada tanggal 8 November 2017 lalu, 1 BTC diperdagangkan pada harga sekitar $7,700, sedangkan pada awal tahun, harganya hanya sekitar $ 960. Pertumbuhan ini bisa disebut dengan pertumbuhan "gila" untuk satuan mata uang.

Apalagi, jika kita melihat mata uang negara yang ada, misalnya Poundsterling Inggris (GBP) yang diperdagangkan dengan rival Dolar AS (USD). GBP/USD saat ini diperdagangkan di level 1.3150, sedangkan titik tertinggi yang dapat diraih selama 10 tahun ini adalah level 2.1020. Bahkan mata uang dengan kurs terbesar di dunia tidak mampu untuk mencetak pertumbuhan atau penurunan nilai sebesar 100% dalam kurun waktu 10 tahun.

Di sisi lain, Bitcoin pada tahun ini saja sudah mencetak sekitar 800% pertumbuhan kenaikan, meski ketika awal Bitcoin diciptakan pada tahun 2009 hanya bernilai $0.1. Ini berarti selama 8 tahun belakangan, Bitcoin sudah tumbuh 77,000 kali lipat, atau 7,700,000%. Benar-benar bisa disebut pertumbuhan yang "gila".

Apakah Bitcoin Termasuk Mata Uang

 

Bitcoin memang sempat memperbarui harga tertinggi sepanjang masanya pada awal bulan ini di level harga $ 7,880. Namun, pekan lalu Hard Fork SegWit2x yang dijadwalkan akan berlangsung hari ini (16/November) sempat dibatalkan dan menyebabkan penurunan yang tajam, dari level $7,880 turun menjadi di bawah $5,600 dalam 5 hari saja. Lalu dalam 3 hari berikutnya harga kembali pulih dan diperdagangkan di atas level harga $7,200.

Meskipun melihat semua itu, masih mengherankan bahwa banyak orang masih cenderung menganggap bahwa Bitcoin adalah mata uang, walaupun pada saat ini Bitcoin belum menjadi ancaman terhadap mata uang reguler di dunia. Namun, sejumlah orang tampaknya sudah menyadari bahwa waktu transaksi Bitcoin semakin melambat, inefisiensi energi di pertambangan Bitcoin sering terjadi, serta masalah penskalaan yang semakin memburuk, membuat Bitcoin semakin tidak mungkin untuk menjadi alternatif sejati untuk mata uang reguler dunia seperti GBP (Poundsterling Inggris), USD (Dolar AS) atau EUR (Euro Eropa).

Tidak peduli apakah anda pecinta Bitcoin atau bukan, anda harus mengetahui bahwa Bitcoin bukan lagi sebuah mata uang, tidak lebih dari bahan (media) spekulatif saja.

 

Memahami Mata Uang

Dasar semua mata uang fiat (seperti USD, GBP, EUR) harus memenuhi tiga kriteria utama, yaitu:

  • Harus berfungsi sebagai media tukar (alat pembayaran).
  • Harus menjadi unit moneter.
  • Harus memiliki nilai simpan.

Meskipun Bitcoin memiliki beberapa atribut yang tercantum di atas, namun Bitcoin pasti gagal dalam memenuhi semua kriteria. Mari kita bahas satu-persatu.

 

  • Bitcoin Sebagai Alat Pembayaran

Untuk poin pertama, memang harus diakui bahwa Bitcoin memiliki atribut ini, namun tidak sempurna. Apalagi semakin banyak pedagang yang mulai menerima Bitcoin sebagai media (opsi) pembayaran (Google telah meluncurkan API pembayarannya dengan Bitcoin, Amazon dikabarkan akan segera menerima pembayaran Bitcoin, dan lain-lain).

Jaringan ATM Bitcoin dan jumlah Kartu Pembayaran Bitcoin terus berkembang, semakin membuat kripto ini mirip dengan mata uang fiat yang ada sekarang. Bahkan Australia sudah merintis rencana penutupan Bank Konvensional dan menggantikannya dengan Digital Bank menggunakan Bitcoin. Selain itu, di pelosok negeri Australia sudah banyak dibangun ATM Bitcoin yang berfungsi hampir sama seperti ATM fiat yang ada.

Namun, ini hanya satu sisi baik Bitcoin. Sebenarnya kripto yang paling populer ini memiliki kinerja yang sanngat buruk jika diaplikasikan sebagai media pertukaran. Hal ini pada dasarnya disebabkan oleh volatilitas yang sangat tinggi, sehingga membuatnya merepotkan dan tidak praktis jika harus merincikan barang atau jasa di Bitcoin dengan perubahan harga yang terlalu cepat.

Misalnya, pada pagi hari, Anda bisa membeli Laptop dengan 1 BTC saja, namun karena fluktuasi harian (yang dapat berkisar hingga 30%-40%), pada akhirnya Anda tidak bisa lagi membeli Laptop tersebut dengan harga 1 BTC, karena harganya sudah berubah menjadi 1.4 BTC. Berbeda dengan nilai perspektif pada nilai tukar harian antara EUR dan USD yang hanya rata-rata mencapai 1% dan maksimal 3% saja.

Apakah Bitcoin Termasuk Mata Uang

 

  • Bitcoin Sebagai Unit Moneter

Di bidang ekonomi, unit moneter menunjukkan nominal ukuran unit mata uang yang digunakan untuk mewakili nilai sebenarnya dari barang ekonomi apapun, seperti barang, jasa, aset atau kewajiban, pendapatan serta biaya. Sekali lagi, hanya mengacu pada sisi volatilitas Bitcoin saja, kita dapat memahami bahwa Bitcoin tidak dapat memenuhi kriteria ini.

Hal penting lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah, bahwa tidak ada pemberi pinjaman yang menggunakan Bitcoin sebagai unit yang memperhitungkan hal-hal seperti kredit konsumsi, pinjaman atau hipotek, maupun kartu kredit atau debit dalam mata uang Bitcoin (BTC).

Selain itu, jika anda mengira bisa memperjual belikan Bitcoin tanpa uang fiat saat ini, maka persepsi tersebut salah besar. Transaksi Bitcoin sebenarnya tetap terjadi secara fiat, karena mata uang digital dijual di back-end.

Apakah Bitcoin Termasuk Mata Uang

 

  • Bitcoin Sebagai Nilai Simpan

Jika faktor pertama dan kedua hampir tidak dimiliki oleh Bitcoin, berbeda dengan faktor ketiga yang memang dimiliki dengan sempurna oleh Bitcoin. Hal ini cukup jelas, bahwa Bitcoin muncul sebagai uang Peer-to-Peer digital untuk menantang sistem moneter saat ini. Namun, tujuan utama tersebut selama tahun-tahun belakangan ini seperti dilupakan, apalagi Bitcoin sekarang lebih mirip dengan sejumlah "nilai/investasi alternatif". Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? mari kita bahas secara rinci.

Banyak orang yang membeli atau menyimpan kekayaan mereka pada Bitcoin hanya karena mereka mengharapkan harga naik, setidaknya untuk sementara waktu. Hal ini mengingatkan pada sebuah teori yang menyatakan bahwa orang membeli sesuatu hanya karena mereka berhadap akan ada toleransi yang lebih besar, yang akan membeli aset mereka nanti dengan harga yang lebih tinggi. Meskipun, tetap ada beberapa orang yang menyimpan kekayaan mereka di Bitcoin hanya karena mata uang fiat tidak berfungsi, seperti yang terjadi di Zimbabwe atau Venezuela.

Mungkin dari ketiga faktor di atas, hanya poin ketiga yang dimiliki sempurna oleh Bitcoin, yaitu sebagai sesuatu yang mempunyai nilai simpan atau biasa disebut dengan "aset". Karena pada dasarnya, orang yang membeli Bitcoin tetap mengharapkan beberapa arus pendapatan di masa depan.

 

Kesimpulan

Selain ketiga faktor di atas, banyak sekali masalah terjadi pada Bitcoin, seperti penyelesaian transaksi yang semakin melambat (antrian yang panjang dalam kurun waktu jam sampai dengan hari), biaya transaksi yang semakin tinggi, inefisiensi energi dalam menjalankan jaringan, serta beberapa pertentangan mendasar sering terjadi di dalam komunitas Bitcoin. Semua ini secara jelas menggambarkan bahwa segala jenis mata uang kripto tidak akan benar-benar menjadi mata uang yang sesungguhnya, apalagi bisa bersanding dengan USD, GBP ataupun EUR.

Namun, ini tidak berarti bahwa Bitcoin tidak memiliki masa depan yang baik. Justru sebaliknya, Bitcoin bisa menjadi "Aset Alternatif" yang kuat. Dengan bantuan jaringan yang lebih sempurna, kerangka kripto yang lebih bagus akan meningkatkan minat investor institusi sehingga kekuatan Bitcoin sebagai Aset Alternatif lebih terjaga dalam jangka panjang.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.