Bagaimana Hubungan Kenaikan FED Rate Dengan Harga Minyak Dunia?

265015

Baru tanggal 19 Mei 2016 lalu, harga minyak tergelincir karena meningkatnya optimisme pasar akan naiknya FED rate sebanyak beberapa kali dalam tahun ini. Kenapa bisa begitu?

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Bersama dengan maraknya kembali spekulasi seputar kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (FED rate), harga-harga komoditas seperti emas dan minyak kembali melorot, demikian pula nilai tukar mata uang-mata uang selain dolar AS. Namun, bagaimana sesungguhnya hubungan antara kenaikan FED rate dengan harga minyak dunia?

ilustrasi

 

Reaksi Spontan Sentimen Pasar

Baru tanggal 19 Mei 2016 lalu, harga minyak tergelincir karena meningkatnya optimisme pasar akan naiknya FED rate sebanyak beberapa kali dalam tahun ini. Fenomena serupa dimana reli harga minyak terinterupsi oleh spekulasi kenaikan FED rate juga sudah terjadi berkali-kali sebelumnya. Antisipasi tersebut mendorong para spekulan untuk melepas posisi long pada mata uang-mata uang lain dan komoditas, berganti mencari Dolar.

Sebaliknya, dalam kondisi ketika muncul berita berpengaruh negatif pada Dolar, maka pelaku pasar akan langsung lari melepas mata uang ini. Sebagai gantinya, aset-aset lain, terutama komoditas, akan terdorong naik. Ini berlaku untuk emas sebagai safe haven, dan berlaku juga untuk minyak meskipun bukan termasuk aset safe haven. Bahkan ketika harga minyak memuncak lebih dari $100 per barel dulu, sejumlah pihak menyalahkan kebijakan moneter longgar FED yang selain menetapkan suku bunga rendah dan meluncurkan stimulus besar-besaran (QE) selama beberapa tahun (QE1-QE3 berlangsung mulai November 2008 dan baru dihentikan dalam program tapering mulai Februari 2014).

 Harga Minyak WTI April 1983-April 2014

 

Kecenderungan reaksi spontan semacam itu sulit dihindari di pasar minyak. Apabila Anda termasuk day trader dan tidak biasa memegang suatu posisi hingga jangka waktu lama, maka sebaiknya bersiap-siaplah pada fakta bahwa data-data terkait Amerika Serikat seringkali akan menimbulkan gejolak.

Namun bagi trader atau investor yang sekali mengambil posisi maka bisa dipertahankan hingga beberapa waktu, maka akan membutuhkan analisa lebih lanjut sebelum membuat keputusan trading strategis terkait komoditas minyak berdasarkan peristiwa kenaikan FED rate.

 

Pada Periode Lebih Lama

Dalam hal ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kenaikan suku bunga FED berbeda dengan kenaikan suku bunga acuan suatu bank sentral biasa. Jika yang menaikkan suku bunga adalah Bank Indonesia misalnya, maka hal itu mungkin mempengaruhi permintaan akan BBM di dalam negeri Indonesia, tetapi jelas takkan mengusik harga minyak dunia.

Jadi, bagaimana kenaikan suku bunga Amerika itu bisa mempengaruhi harga minyak? Salah satu alasan teoritis utama adalah karena perdagangan minyak dunia terutama menggunakan mata uang Dolar.

Ketika FED rate naik dan nilai tukar Dolar menguat terhadap mata uang-mata uang lainnya, maka komoditas minyak menjadi berharga lebih mahal ketimbang sebelumnya, dan ini akan berdampak negatif pada permintaan minyak dunia. Dari segi penggunaan BBM mungkin takkan berpengaruh karena minyak merupakan bahan bakar vital dunia, tetapi komponen dalam permintaan minyak dunia bukan hanya permintaan untuk kebutuhan sekarang saja. Ada pula permintaan untuk mengisi tangki-tangki persediaan.

Apabila nilai Dolar terlalu kuat hingga mengakibatkan harga minyak menjadi terlalu mahal ketika dibayar dengan mata uang lain, maka negara-negara selain AS akan menahan diri dari menimbun persediaan. Sebaliknya, ketika FED rate rendah dan Dolar murah, maka dapat diasumsikan akan lebih menguntungkan bagi negara-negara itu untuk menimbun persediaan. 

Pusat Minyak Cushing, AS

Namun, ada pula hal kedua yang perlu diperhatikan disini: Amerika Serikat merupakan salah satu negara produsen sekaligus konsumen minyak terbesar. Karenanya, jika kenaikan suku bunganya berpengaruh signifikan pada perilaku konsumen dan produsen, maka tentu akan nampak pula dampaknya pada permintaan dan atau penawaran minyak. Apalagi, sejauh ini Amerika Serikat merupakan satu-satunya negara darimana data persediaan dan produksi minyak menyeluruh tersedia secara konstan dalam periode pendek (laporan pekanan API, EIA, dan Baker Hughes). Laporan-laporan lain umumnya bulanan atau justru kuartalan dan tahunan. Dengan demikian, perubahan kecil dalam data-data terkait minyak AS akan berimbas lebih kuat pada pasar minyak ketimbang dari negara lain.

Kenaikan suku bunga Amerika dengan sendirinya meningkatkan biaya belanja modal bagi perusahaan-perusahaan minyak AS dan mengurangi jumlah uang beredar di masyarakat. Dalam situasi ini, secara teoretis akan terjadi korelasi terbalik dimana ketika FED rate naik maka suplai dan permintaan minyak berpotensi berkurang. Keseimbangan antara penawaran dan permintaan di AS ini nantinya akan turut menentukan apakah kenaikan FED rate berimbas bullish atau bearish bagi minyak.

Mobil Listrik

Ketiga, tak bisa dilupakan pula ada banyak hal lain yang bisa secara terduga maupun tiba-tiba mempengaruhi harga minyak, bukan hanya kenaikan FED rate saja. Peperangan atau konflik bersenjata yang berakibat pada terinterupsinya jalur distribusi minyak penting, umpamanya, bisa mendorong harga naik. Di sisi lain, penemuan sumber energi baru, meningkatnya penggunaan bahan bakar terbarukan, dan perkembangan kendaraan tak berbahan bakar minyak, akan menggerakkan harga minyak ke level yang lebih rendah karena proyeksi permintaan minyak bakal turun.

 

Kesimpulan

Akhir kata, apa yang bisa kita simpulkan disini? Secara teoritis, boleh jadi harga minyak dengan FED rate bisa dihubungkan. Tetapi hubungan itu tidak bisa didefinisikan dengan mudah dan sederhana. Apakah hubungannya searah atau berkebalikan akan sangat bergantung pada situasi-situasi lain yang terjadi di saat yang sama. Kadang-kadang situasi-situasi itu saling berhubungan satu sama lain, dan kadang bisa menimbulkan pengaruh secara mandiri. Satu hal yang pasti: hubungan kenaikan FED rate dengan harga minyak tidak lepas dari proyeksi penawaran dan permintaan minyak dunia di masa depan serta sentimen pelaku pasar.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.