Advertisement

iklan

Belajar Dari Kisah Kerugian Trading Alexis Stenfors

Penulis

+ -

Meski tak setenar Nick Leeson, pengalaman Alexis Stenfors sebagai rogue trader bisa menjadi pembelajaran berharga bagi para trader. Seperti apa kisahnya?

iklan

iklan

Mungkin nama Alexis Stenfors tidak setenar nama Nick Leeson, seorang rogue trader atau trader nakal yang sempat dijadikan sebuah film pada tahun 1999. Meski demikian, apa yang dialami oleh Stenfors hingga dilabeli sebagai rogue trader merupakan hal menarik untuk diketahui.

Dalam dunia trading, istilah rogue trader hanya disematkan bagi trader yang melakukan transaksi secara ilegal, melanggar peraturan, secara sembunyi-sembunyi, dan tanpa sepengetahuan perusahaan atau pemilik dana, tetapi merugi. Namun, jika ternyata trader tersebut menang atau menguntungkan pemilik dana, maka dia tidak akan disebut rogue trader.

 

Biografi Singkat Alexis Stenfors

Lahir dan dibesarkan di Finlandia, Stenfors memiliki ketertarikan pada dunia perbankan serta pasar keuangan sejak usia dini. Ketika masih kecil, Stenfors suka mengumpulkan sedikit mata uang asing lalu mencatat posisi nilai tukarnya di buku khusus. Kesukaannya di bidang ekonomi membuat Alexis Stenfors melanjutkan pendidikan di Stockholm School of Economics. Setelah lulus dari sana, ia mulai bekerja sebagai trader bank di ibukota Swedia, sebelum akhirnya pindah ke London.

Alexis Stenfors

Setelah pindah ke London, Alexis Stenfors memulai karir sebagai trader bank di Citibank, lalu lanjut ke Crédit Agricole, dan kemudian terakhir di Bank Merrill Lynch, salah satu anak perusahaan investasi milik Bank of America. Di sana, ia bekerja sebagai trader bank dengan memperdagangkan tujuh jenis instrumen menggunakan lima mata uang berbeda, hingga terjadilah krisis finansial tahun 2008.

Baca Juga: Kisah Michael Burry, Trader Yang Memprediksi Krisis Finansial 2008

 

Awal Mula Terjadi Perdagangan Nakal

Tak lama setelah runtuhnya Lehman Brothers pada krisis finansial tahun 2008, Stenfors berkeyakinan bahwa sistem keuangan global masih akan mengalami guncangan terbesarnya lagi. Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak akibat pasar global jatuh, Stenford mulai mengalami kelelahan psikologis dan fisik. Namun dia merasa tidak bisa mengundurkan diri karena semakin banyak masalah yang dihadapi oleh banknya.

"Bank Merrill Lynch telah kehilangan banyak uang, tetapi beberapa dari kami justru semakin didorong (atau membiarkan diri kami didorong) lebih keras untuk menebus kerugian yang tampaknya terjadi di divisi lain," kata Stenfors.

Tekanan eksternal dan internal ini menyebabkan Stenfors mengambil lebih banyak risiko saat berdagang, dan mempublikasi apa yang dia sebut sebagai penilaian "optimis" dari beberapa posisi perdagangannya. Diperburuk dengan meningkatnya ketidakpastian dan volatilitas di pasar, penilaian tersebut terbukti salah dan menimbulkan kerugian besar.

Selang beberapa minggu, posisi trading yang dilakukan oleh Alexis Stenfors ternyata semakin membuat bank Merrill Lynch merugi hingga $456 juta. Pada saat itulah dia mengambil tindakan putus asa, dengan sengaja memasukkan harga palsu untuk posisinya sekitar $100 juta.

Saat sedang liburan di India bersama istrinya pada tahun 2009, Stenfors mengakui tindakan tersebut pada atasannya. Dia dipecat tak lama setelah kembali dari liburan. Reputasinya dicabik-cabik oleh pers, dan ia dilarang trading selama lima tahun. Pengakuannya itu juga memicu proses investigasi FSA selama setahun, sehingga Bank Merrill Lynch dikenakan denda sebesar €2.75 juta oleh regulator di Irlandia karena tidak mengawasi Stenfors dengan benar.

Baca Juga: 7 Skandal Kerugian Trader Bank Yang Berujung Bencana

 

Barometer Of Fear: Kronologi Lengkap Sang Rogue Trader

Alexis Stenfors memilih untuk mencoba memahami pengalamannya dalam trading dengan menyelesaikan PhD di bidang ekonomi. Saat ini, Stenfors tengah bekerja sebagai dosen senior jurusan Ekonomi dan Finansial di University of Portsmouth, Inggris.

Meski kasusnya telah selesai, predikat Stenfors sebagai rogue trader tetap terus dia terima. Selanjutnya, Stenfors menulis buku berjudul "Barometer of Fear: An Insider’s Account of Rogue Trading and the Greatest Banking Scandal in History", untuk menceritakan seluruh kronologi dari sudut pandang pribadinya.

Buku itu mungkin ditulis sebagai upaya mendapatkan kembali reputasinya, tetapi Alexis Stenfors secara bertahap belajar untuk menerima bahwa dia akan selalu dicap sebagai rogue trader. Dalam buku tersebut, Stenfors berterus terang tentang dirinya dan pengalamannya selama berkarier.

Meski demikian, bukunya juga penuh dengan pengetahuan keuangan dan anekdot tentang dunia perdagangan, termasuk catatan tentang teknis "Swedish T-bills" atau "cross currency basis swaps".

Setelah lebih dari delapan tahun, satu buku, gelar PhD, dan psikoterapi yang panjang, Alexis Stenfors masih tidak tahu mengapa dia melakukan tindakan nakal tersebut. Memang dia mengatakan bahwa dirinya berada di bawah tekanan yang banyak dan besar untuk membuat profit besar, namun Alexis Stenfors juga tidak membenarkan tindakannya.

"Tidak peduli seberapa keras saya didorong, itu tidak membenarkan kesalahan yang saya buat. Hal yang benar untuk dilakukan di sini adalah memberontak melawan bank dan berkata, 'tidak, saya tidak ingin melakukan ini.' Saya seharusnya berkata seperti itu," tulis Alexis Stenfors di bukunya.

Secara tegas, Alexis Stenfors menyatakan bahwa tindakan tersebut melanggar pedoman yang telah ditetapkan Bank Merrill Lynch. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri atas kerugian yang diderita oleh perusahaan.

Baca Juga: Buku Forex Terbaik Karangan Para Trader Sukses

 

Apa Yang Bisa Dipelajari?

Dari kejadian yang dialami oleh Alexis Stenfors di atas, Anda bisa melihat seberapa besar pengaruh keadaan psikologis seorang trader terhadap keputusannya ketika trading. Ada dua faktor penyebab kejadian ini, bahkan sebenarnya juga paling sering dialami oleh para trader, yaitu perasaan tertekan dan denial (penyangkalan).

Ketika Stenfors merasakan tekanan besar dari perusahaan, ia tidak bisa melakukan analisa dan perhitungan manajemen risiko dengan tepat. Hal ini berpengaruh pada keputusannya dalam mengambil posisi trading yang salah dan sembrono, hanya berdasarkan perasaan optimis, Alexis Stenfors yakin bahwa keputusan tersebut tepat hingga sampai akhir posisi tersebut justru membuat kerugian besar.

Penyangkalan bahwa keputusan dan penilaiannya salah, membuat Alexis Stenfors tidak tegas untuk membatasi kerugiaannya. Alih-alih langsung mengakui kesalahannya tersebut, Stenfors justru malah memanipulasi data tradingnya agar tidak perusahaan tidak mengetahui kerugiaan yang dialami.

Ada beberapa kemungkinan mengapa Alexis Stenfors menyangkal kesalahannya di awal, bisa karena dia takut kehilangan pekerjaan atau bisa juga masih merasa sanggup membalikkan keadaan menjadi keuntungan.

Namun terlepas dari itu semua, apa yang dilakukan oleh Stenfors bisa menjadi pembelajaran bagi para trader agar berhenti trading ketika keadaan psikologis memang sedang tidak memungkinkan. Selain itu, selalu ingat bahwa tidak ada yang bisa memprediksi kondisi pasar, maka selalu perhitungkan dan terapkan manajemen risiko dengan benar untuk membatasi kerugian.

 

Apabila Anda masih bingung bagaimana cara manajemen risiko yang benar, Chris Weston punya 4 kiat yang bisa dicoba dan diterapkan. Apa saja itu? Simak selengkapnya di artikel berikut ini.

298475
Penulis

Lulusan Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Menggeluti dunia penulisan sejak bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa tahun 2009. Mulai tertarik dengan dunia forex dan kripto, setelah lulus kuliah hingga sekarang sembari trading.