Advertisement

iklan

Belajar Forex Dari Sistem Trading Terburuk

62969

Di suatu forum trader, ada seorang member yang memberikan pengumuman berbunyi: Dicari EA yang dijamin selalu loss. Wah, buat apa cari sistem trading terburuk seperti itu?

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Baru-baru ini di suatu forum trader, ada seorang member yang memberikan pengumuman yang menurut saya agak aneh. Bunyinya, "Dicari EA yang dijamin selalu loss". Lho, buat apa cari Expert Advisor yang dijamin loss?

Ternyata, dia berharap bisa menggunakan sinyal dari EA tersebut sebagai sinyal terbalik. Entah bagaimana cara dia mencari atau memanfaatkan EA yang dijamin selalu loss itu dan saya takkan mengulasnya di sini. Namun, melihat pengumuman tersebut membuat saya berpikir, memang ada baiknya kita mengetahui hal terburuk supaya kita bisa mengetahui di mana letak kesalahan atau kelemahannya, agar kelak bisa menghindarinya.

Nah, sehubungan dengan sistem trading, saya pernah membaca tentang satu metode yang dikatakan sebagai sistem trading terburuk yang pernah ada. Memang sih, sistem trading tersebut memiliki rekor terburuk ketika digunakan sistem trading di pasar saham. Namun, tak ada salahnya kita coba lihat, siapa tahu kita bisa ambil pelajaran dari sistem trading terburuk tersebut.

Belajar Dari Sistem Terburuk

 

Sistem Trading Terburuk

Metode yang disebut-sebut sebagai sistem trading terburuk tersebut dikenal dengan istilah Average Down. Inti dari strategi ini adalah, trader melakukan aksi buy di saat tren sedang turun (harga bergerak berlawanan dengan keinginan trader), dan aksi buy ini dilakukan berulang-ulang selama tren terus menerus turun. Tujuan asalnya adalah mencari harga terendah dan mencoba menurunkan harga rata-rata saham yang sudah dibeli tersebut, sehingga apabila nantinya harga mulai naik, kita bisa menjual dengan keuntungan yang lebih tinggi.

Contohnya, katakanlah harga per lembar saham saat itu USD50 dan kita membeli sebanyak 1 lot. Harga kemudian turun menjadi USD40 per lembar. Bukannya melakukan Cut Loss, kita justru melakukan pembelian lagi sebanyak 1 lot pula, sehingga harga rata-rata 2 lot saham yang kita miliki adalah USD45. Jika harga ternyata masih turun lagi, kita kembali melakukan aksi beli kembali dengan tujuan untuk makin mengurangi harga rata-rata saham yang sudah kita miliki. Demikian seterusnya.

Nah, sudahkah terbayang bagaimana seandainya harga terus turun dan tak juga berbalik naik, padahal persediaan dana trader terbatas? Wah… menurut saya, itu sih sama saja dengan membuang uang.

Terbayangkah bila kita melakukan strategi yang sama di pasar forex? Mungkin Anda berpendapat, melawan trend seperti itu bisa saja kita lakukan apabila Money Management kita kuat.

Saya tak bermaksud mengatakan kalau melawan tren itu salah. Toh, kata para master, tak ada posisi yang "salah" dalam trading. Tapi… mari kita berpikir secara rasional saja. Buat apa "menyia-nyiakan" margin kita untuk mengulang posisi yang masih floating (jauh) negatif? Bukankan akan lebih menguntungkan secara rasional untuk menggunakan margin di posisi yang searah dengan trend saja!? Walaupun seandainya tren memang kemudian berubah arah dan floating negatif tersebut akhirnya ter-closed positif, bukankah kita tetap rugi waktu!?

 

Poin-poin yang Dapat Dipelajari Trader

Dalam ilmu ekonomi, apalagi bila berhubungan dengan investasi, kita harus selalu menghitung biaya kesempatan alias Opportunity Cost. Makna Opportunity Cost adalah kerugian karena kita tak memanfaatkan suatu alternatif bagus lantaran memilih alternatif lain pada waktu yang sama.

Jadi, seandainya kita memelihara posisi floating minus tersebut selama seminggu, kita seharusnya berpikir bahwa kita telah menyia-nyiakan modal trading kita selama seminggu tersebut, karena masih terpakai untuk menjaga posisi floating yang entah kapan akan berakhir. Akibatnya, kita jadi kehilangan kesempatan menggunakan modal tersebut untuk melakukan open position lain yang kemungkinan bisa menghasilkan profit lebih cepat dan atau lebih banyak.

Oke, jadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sistem trading terburuk ini? Kalau boleh saya simpulkan di sini, ada empat hal:

  1. Jangan trading dengan menentang tren.
  2. Jangan terlalu percaya diri dan keras kepala mempertahankan pendapat, padahal pasar kemungkinan sudah memberikan sinyal berbeda.
  3. Jangan ragu untuk melakukan Cut Loss atau mengeksekusi Stop Loss, alias meng-"amputasi" posisi merugi sebelum kerugian makin membengkak.
  4. Saat dihadapkan pada banyak sinyal trading pada tempo bersamaan, pilihlah yang potensi profit dan risikonya paling proporsional. Jangan sampai kita harus menanggung Opportunity Cost karena salah mengeksplorasi peluang yang profitabilitasnya paling buruk dan risikonya paling tinggi.  

Mmm, trus apalagi yah? Mungkin Anda bisa menambahkan?

Awalnya, Greenpips merupakan ibu rumah tangga biasa. Namun, kemudian mengenal forex di perguruan tinggi, dan setelah itu memutuskan membuat tesis mengenai Expert Advisor. Paling suka menggunakan Fibonacci dalam trading.


Muhammad Paijo
tetap konsisten sama strategi yang sudah dipakai. jangan sampai sebelumnya sudah punya strategi yang profitable terus tiba-tiba ganti strategi jadi averaging cuman gara-gara tertarik sama kemungkinan profitnya. intinya boleh percaya diri, tapi maksudnya percaya diri sama strateginya sendiri, dan nggak gampang terpengaruh sama iming-iming strategi yang laen kalau punya sendiri udah profitable.
Dimas Lutfian
Kalau ada averaging down artinya ada averaging up, apa beda averaging up dn down? Kenapa yg lebih merugikan averaging down?
Noor Fajrian
Jika averaging down order buy dibuka saat harga sedang tren bearish, maka averaging up membuka order buy saat tren bearish sudah mencapai level terendahnya, dengan harapan bahwa order buy tersebut akan searah dengan tren berikutnya yaitu bullish. Mungkin ini jadinya hampir sama dengan strategi counter trend, dimana kesulitannya terletak pada analisa level terendah dari tren bearish itu. Bisa jadi trader menggunakan oscillator untuk mencari level oversold, atau dengan indikator lain. Yang jelas ketika order dilakukan dengan alasan yang lebih realistis pasti dinilai lebih menguntungkan daripada strategi satunya, yaitu averaging down, yang lebih tidak masuk akal untuk diterapkan karena jelas-jelas tau bahwa harga akan terus turun tapi malah membuka order buy.
Noel Herdi S
msk bgt ada jg tips2 trdng averaging down yg bnr tuh gmn biar ttp trksn masuk akal. gitu2 averaging down kn jg trmsk strategi trdng, wlpun keliatanx dangerous gt tp ada cara2x trsndirilah.

kyk yg smpt dbhs disini dijlsn klo averaging down msh aman klo orderx 1 ato 2 kl aja, tp kl udh gitu hrg msh trs turun itu yg br bhy. trus bs jg diatur spy order g smpe 3x, dn ada batasan2 lot n posisi yg jls kudu diatur dgn bnr2 teliti.

dr kerumitanx itu jls nih bkn bwt trdr nubi. tp klo udh pro dn analisax dah mateng knp ga?
Brian Margono
To noel: Balik lagi ke pendapat master greenpips:
Buat apa "menyia-nyiakan" margin kita untuk mengulang posisi yang masih terfloating (jauh) negatif? Bukankan akan lebih menguntungkan secara rasional untuk menggunakan margin di posisi yang searah dengan trend saja?

kesimpulannya: buat apa cari cara yang susah dan cenderung bikin rugi banyak, kalo ada cara yang lebih mudah dan profitable? atau buat apa susah payah melawan tren? kalo dengan mengikuti tren saja juga bisa untung? daripada bersikeras buy di saat downtrend, dan profitnya baru didapat pas trennya berbalik, apa nggak lebih baik sejak awal sell di downtrend itu? paling nggak sudah bisa langsung dapet profit, nggak perlu berkorban waktu dan emosi dulu buat ngumpulin profit. iya kalo berhasil terkumpul, kalo belum profit tapi kena mc duluan gimana?
Rudy Ind
Mbak Greenpips, kalau mengacu pada cara diatas, itu apa bedanya dengan trading secara trial ya mbak? Setidaknya berapa persen ya mbak, dana yang harus dikeluarkan buat trial semacam ini?  Kalau mau trial, apa tidak sebaiknya pakai akun demo saja mbak, biar aman? ditunggu balasannya mbak Greenpips