Benci Broker Bandar? Cek Dulu 3 Salah Kaprah Ini

290067

Banyak anggapan trader terkait broker bandar itu sebenarnya kurang tepat atau bahkan agak menyesatkan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Broker bandar sering jadi bahan umpatan trader. Stop loss hunter, manipulasi harga, makan duit haram, segala macam stigma negatif melekat pada istilah broker bandar. Namun, banyak anggapan yang beredar di kalangan trader terkait broker bandar itu sebenarnya kurang tepat atau bahkan agak menyesatkan. Berikut ini tiga fakta penting tentang broker bandar yang perlu diperhatikan oleh trader.

 

1. Broker Bandar = Market Maker?

Istilah "Market Maker" sering diterjemahkan sebagai "Broker Bandar" oleh trader Indonesia. Namun, penulis merasa kurang tepat.

Market Maker adalah pihak-pihak yang bertindak sebagai penjual ataupun pembeli (counterparty) bagi order trader. Dalam hal ini, bank-bank besar itu merupakan Market Maker kawakan. Tak perlu jauh-jauh, mari kita bahas salah satu contoh transaksi penukaran valas di perbankan lokal yang mirip dengan praktek Market Maker:

Si Fulan membutuhkan Dolar AS untuk berwisata ke negeri Paman Sam. Ia membawa Rupiah ke bank BCA untuk ditukarkan dengan Dolar AS. Dalam hal ini, bank BCA bertindak sebagai penjual Dolar AS dan pembeli Rupiah. Sebulan kemudian, si Fulan pulang ke Indonesia dan ingin menukarkan sisa Dolar-nya menjadi Rupiah. Ia pun membawanya ke bank BCA lagi, di mana mereka bertindak sebagai pembeli Dolar AS dan penjual Rupiah. Di sini, bank BCA mendapatkan keuntungan dari selisih kurs jual dan kurs beli USD/IDR.

Hal serupa dilakukan pula oleh pihak-pihak yang dikenal sebagai liquidity provider (penyedia likuiditas) dan Prime Broker dalam dunia trading forex. Tentu saja, skalanya jauh lebih masif via sistem perdagangan digital yang canggih. Namun, mereka tidak melakukan penyelewengan kelas kroco yang kerap dituduhkan terhadap broker bandar. Banyak broker forex ritel yang telah mengantongi lisensi dari NFA/CFTC AS, FCA Inggris, dan sederet regulator bergengsi lain juga menggunakan model Market Maker.

Istilah "Broker Bandar" berkonotasi kasino, merujuk pada broker-broker yang sengaja mencari keuntungan dari kekalahan trader. Dalam konteks ini, istilah "Broker Bandar" lebih tepat dilekatkan pada broker tak teregulasi dan broker offshore. Market Maker bisa juga teregulasi dan wajib mengikuti standar yang ditentukan oleh regulator forex negaranya. Namun, broker tak teregulasi dan broker offshore dibingkai oleh kerangka aturan yang lebih longgar, sehingga bonafiditas tergantung pada itikad masing-masing. Ada broker offshore yang bonafide, tetapi ada juga yang meragukan.

Salah Kaprah Tentang Broker Bandar

 

2. Broker Bandar Pasti Menilep Uang Trader?

Beberapa waktu lalu, ada trader yang mengajukan pertanyaan kepada Seputarforex.com: Jika broker bandar, broker tak teregulasi, dan broker-broker offshore itu buruk, kenapa banyak trader forex yang tetap saja bergabung dengan mereka?

Nah, di sinilah letak kesalahpahaman selanjutnya tentang broker bandar. Faktanya, trader forex memilih broker sesuai kebutuhan, bukan sesuai prestise. Dalam konteks ini, broker bandar memiliki keunggulan tersendiri.

Jika trader membutuhkan keamanan dana, maka tentu ia akan mendaftar ke broker forex yang memiliki lisensi terbaik dan kredibilitas tinggi. Jika trader membutuhkan ketajaman eksekusi dan spread minimal, maka tentu ia akan bergabung dengan broker ECN. Namun, bagaimana jika trader cuma punya modal pas-pasan, sehingga membutuhkan broker yang memiliki standar leverage tinggi, lot minimum, dan syarat deposit rendah? Atau barangkali trader mengincar bonus, rebate, atau malah modal gratisan? Tentu saja broker bandar, broker tak teregulasi, dan broker-broker offshore itu jadi pilihan utama.

Tahukah Anda, broker OANDA yang terkenal di AS, Inggris, dan Kanada itu juga menggunakan model Market Maker? Ya, sebagai pionir lot nano di jagad trading forex, mereka tanpa malu-malu mendeklarasikan dirinya sebagai Market Maker. Toh, broker ECN tak bisa menyediakan lot nano. Namun, kita tentu tak dapat menyamakan status broker teregulasi AS ini dengan penipu seperti MFX Broker, walaupun model eksekusinya sama-sama langsung menjadi counterparty terhadap order trader.

 

3. Broker Bandar Lebih Buruk Daripada Broker ECN?

Dari berbagai uraian di atas, tentu Anda bisa memahami bahwa tak semua broker bandar itu buruk. Secara sepintas, kita dapat menentukan kualitas broker forex berdasarkan status regulasinya. Semakin ketat regulatornya, maka kredibilitas broker makin baik. Akan tetapi, pengelompokan jenis broker berdasarkan kategori Market Maker, STP, atau ECN, tidak dapat dipergunakan sebagai standar kualitas.

Mayoritas broker forex saat ini menerapkan sistem hybrid dengan menyediakan akun Market Maker, STP, dan ECN sekaligus. Kalaupun mereka menerapkan model STP/ECN, maka Prime Broker atau penyedia likuiditasnya itu Market Maker. Secara kasar, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa semua broker forex itu pada dasarnya "broker bandar" (dalam arti Market Maker). Jadi, kita tak bisa menentukan kualitas broker berdasarkan acuan ini.

Apabila Anda tak mau jadi korban scam, maka hindari saja broker tak teregulasi. Berdasarkan pengalaman penulis, semua broker tak teregulasi itu terindikasi scam. Cepat atau lambat, trader yang bergabung dengan mereka bakal kehilangan uang. Kecuali jika Anda berhasil profit, lalu keluar cepat sebelum umur sang broker habis.

Bagaimana dengan broker offshore? Dapat diperkirakan sekitar 50 persen broker offshore cukup bonafide, tetapi 50 persen sisanya sama saja dengan broker tak teregulasi. Di sisi lain, broker teregulasi memang lebih kredibel, tetapi tetap ada saja yang mencari dan memanfaatkan celah regulasi. Sebaiknya, periksalah rekam jejak broker forex sebelum bergabung. Cek testimoni dan pengalaman trader lain, pastikan broker tak terlibat dalam kasus gagal withdraw dan sejenisnya.

Aisha telah melanglang buana di dunia perbrokeran selama nyaris 10 tahun sebagai Copywriter. Saat ini aktif sebagai trader sekaligus penulis paruh waktu di Seputarforex, secara khusus membahas topik-topik seputar broker dan layanan trading terkini.


Imam Wardoyo
Sy 2 hari pertama bln sept transaksi bisa meraih profit 150 % tp setelah itu sampe sekrg tdk pernah profit. Apakah mungkin transaksi d mt4 bisa disetting oleh broker ?
Aisha
Wah, banyak sekali penyebab mengapa profitabilitas itu naik-turun. Ini belum tentu ulah broker.

Pertama, jika masih pemula, maka bisa jadi untung di awal itu karena "beginners luck". Agar bisa profit konsisten, Anda perlu tahu kenapa dua hari pertama itu bisa untung. Apakah indikatornya bagus? atau risk management-nya benar? atau open posisi pakai insting?

Kedua, profitabilitas memburuk bisa juga karena sistem trading kurang adaptif terhadap perubahan situasi pasar. Untuk memastikan, coba periksa lagi jurnal trading Anda. Kadangkala, ada trader yang bersikeras menggunakan indikator yang sama terus-terusan, padahal mungkin indikator itu hanya cocok untuk kondisi trending (sekedar contoh saja). Akibatnya, ketika kondisi pasar berubah sideways, gagal profit.

Intinya, coba cek dulu jurnal trading Anda dan pemahaman mengenai kondisi pasar.

Broker memang bisa memodifikasi setting MT4. Namun, mereka tidak mungkin memelototi setiap trader dan sengaja membuat setiap orang kalah. Butuh sumber daya terlalu besar untuk melakukannya, sehingga besar cost daripada hasil. Jika Anda tetap curiga, coba bandingkan pergerakan harga di MT4 broker dengan platform trading lain. Misalnya platform Tradingview.com, cTrader, atau lainnya.
Nobita Suseko
@Aisha jika boleh saya beri pendapat, broker bandar itu beda dengan bank BC* yg tukarkan uang. Bank BC* tukarkan uang sesuai dengan kurs yg disepakati bersama, sedangkan broker bandar memang broker ini berpedoman dengan market langsung, tapi karena broker bandar ini yg pegang kendali bisa aja harga digorengnya keatas dan kebawah kita tau sendirilah bandar itu kan tukang goreng. Ini yg kita takutkan sebagai trader, kami mau loss tapi kami mau loss secara terhormat, kami mau perintah buy dan sell yg kami ajukan langsung diteruskan ke pasar bukan berhenti di level bandar.

Bandar mana sih mau rugi, menurut teman-teman apa mungkin bandar mau main jujur, pastilah segala cara digunakan supaya trader loss tujuannya supaya para trader deposit lagi, bandar bisa dapat duit lagi, logikanya jika kita trading di level broker bandar, logika sederhananya pasti uang nasabah diputar disitu-situ juga. Misalnya ada perusahaan judi kasino di las vegas, apa mungkin bandar judi ini putar uangnya ke seluruh dunia? Pastilah uangnya berputar di perusahaannya saja.

Perusahaan judi kasino ini pun pastinya butuh uang untuk gaji pegawai dan keuntungan perusahaan, langkah yg dilakukannya bagaimana supaya orang berminat, caranya buat promo yg gila-gilaan dan gak masuk akal, setelah uang nasabah masuk disitulah permainan bandar itu berjalan, ada yg menang pasti yg kalah sangat banyak, seperti itu perputaran uang di bandar. Beda dengan broker yg langsung teruskan transaksi ke market, transaksi itu jelas dan broker ini dapat fee keuntungan dari perbedaan harga ataupun biaya jasa yg dipotong langsung, jadi broker ini gak peduli mau trader itu win atau loss, pokoknya biaya jasa mereka terbayarkan, ini yg saya sebut kami mau sebenarnya loss kalah, kami sadar loss dan win adalah bagian dari hidup, tapi kami mau loss secara terhormat.

Mungkin pendapat orang beda-beda, tapi menurut saya kolom komentar dipakai untuk segala jenis komentar bukan komentar yg baik-baik saja kan. Satu lagi pesan yg mau saya sampaikan trading forex atau emas itu bukan judi, karena trading forex adalah perdagangan mata uang secara online, semua ada dasarnya bukan tebak-tebakan, di trading forex ada analisa fundamental, teknikal, semua berdasarkan analisa, kalau judi itu kita pasang taruhan berapa maka nasib keberuntungan yg buat penjudi untung atau mungkin trik curang. Tapi di trading adalah perdagangan dunia, semua jelas hitam diatas putih, transaksinya ada uangnya juga ada, forex ataupun emas yg diperdagangkan juga ada. Kesimpulannya trading forex atau emas memang berdagang sama seperti kegiatan jual beli di pasar tradisional.

Tentang leverage judi? Leverage itu kayak kita jadi pengecer beras di pasar, tiba-tiba ada langganan kita datang minta beras 500kg, tapi di toko kita gak ada beras segitu banyak. Kita teleponlah grosir toke besarnya, minta kirimkan 500kg beras kita pinjam modal toke grosir beras ini, jika 500kg beras ini jadi dibeli maka keuntungannya kita dapatkan dengan harga eceran sedangkan toke grosir beras ini juga dapat keuntungan, seperti itu prinsipnya kita pinjam modal broker jadi kita sama-sama untung, pinjam uang broker juga gak pakai bunga, broker ini dapat keuntungan dari pembelian uang tadi dalam bentuk fee dalam lot.

Jadi kalau orang bilang trading forex itu judi haram, menurut saya trading forex adalah perdagangan, maka itu jika mau berdagang maka berdaganglah di tempat yg jujur, jangan di broker bandar, sekali lagi saya katakan kami mau loss, kami sadar pasti ada loss, tapi seandainya loss biarlah loss itu terjadi secara terhormat bukan diakali bandar. Terima kasih atas kesempatannya memberi komentar.
Aisha
Terima kasih untuk pendapatnya.

Pada dasarnya kita sependapat kok. Seperti yang saya ungkapkan di artikel, model bank BC* itu mirip Market Maker. Dan Market Maker tidak bisa diartikan sebagai "Broker Bandar". Intinya di situ saja.

Broker Bandar memang model rekayasa ala kasino, karena mereka mengincar untung dari kekalahan trader (berbeda dengan Market Maker yang dapat balas jasa dari spread kurs jual-kurs beli saja). Ini tidak lantas berarti trading forex itu judi. Saya sendiri nggak setuju kalau dikatakan trading forex itu berjudi atau haram. Banyak faktor yang mendukung status trading forex sebagai jual beli biasa (baca juga: Fatwa Trading Forex Haram).

Poin terakhir, tapi paling penting: untuk memastikan broker tidak melakukan rekayasa, saya menyarankan sebaiknya fokus pada soal status regulasi broker daripada soal apakah si broker itu market maker/STP/ECN. Broker yang tidak teregulasi itu bisa seenaknya klaim ECN sekalipun, karena tak ada yang memantau dan mendisiplinkan. Broker teregulasi harus mengikuti aturan yang berlaku, sehingga kredibilitas klaim lebih baik.
Djoko
Broker Investasikan untuk beli robot canggih (auto pilot) sbgai tool pengendali perdagangan ini yang bikin trader kuwalahan & bikin penasaran..bagaimana caranya bisa kalahin kerja robot ini
Aisha
Wah, ini kesalahpahaman umum sebetulnya. Broker memang menggunakan sistem otomatis untuk melayani order trader (kan broker juga tak mungkin memantau satu-satu setiap transaksi trader, apalagi yang main scalping). Namun, "robot" itu tidak semestinya mengakibatkan trader merugi. Broker forex yang bonafide tetap banyak kok.