Advertisement

iklan

Berinvestasi Melalui ORI

Belakangan istilah ORI akrab ditelinga kita. Mungkin masalah ini tidak mengherankan, karena saat ini Pemerintah Republik Indonesia dengan dibantu puluhan bank berikut perusahaan sekuritas tengah getol-getolnya memasarkan Obligasi Negara Ritel atau yang biasa disebut sebagai ORI. Untuk itu berbagai papan reklame yang biasanya didominasi produk perbankan, untuk sementara waktu harus rela diganti

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

ORI - twps2 - StarFishBelakangan istilah ORI akrab ditelinga kita. Mungkin masalah ini tidak mengherankan, karena saat ini Pemerintah Republik Indonesia dengan dibantu puluhan bank berikut perusahaan sekuritas tengah getol-getolnya memasarkan Obligasi Negara Ritel atau yang biasa disebut sebagai ORI. Untuk itu berbagai papan reklame yang biasanya didominasi produk perbankan, untuk sementara waktu harus rela diganti untuk mensukseskan program penjualan ORI.

Sejak pemerintah menerbitkan ORI dengan seri 001 pada tahun 2006, dimana penerbitan Obligasi Negara Indonesia (ORI) tersebut laris manis. Minat masyarakat dalam membeli ORI selalu membludak dari tahun ke-tahun, sehingga pemerintah belakangan ini sampai merasa perlu untuk membatasi maksimum pembelian agar kepemilikan ORI tersebut tidak jatuh ketangan segelintir orang saja. Contoh pembatasan yang ditetapkan pemerintah pada penerbitan ORI 008 ialah dengan membatasi pembelian yang mana maksimumnya setiap investor tidak boleh membeli melebihi Rp 3 miliar.

Mengapa ORI yang merupakan satu diantara jenis instrumen investasi obligasi bisa sedemikian menarik? Apakah yang dimaksud dengan obligasi? dan Bagaimana cara memaksimalkan investasi kita di ORI maupun obligasi? Hal-hal tersebut yang akan menjadi fokus utama dalam artikel ini.

Sebagai Alat Penggalangan Dana Dan Instrumen Investasi
Penerbitan obligasi merupakan salah satu diantara pilihan bagi pemerintah maupun perusahaan swasta dalam melakukan penggalangan dana dari masyarakat luas melalui pasar modal. Sebagai contoh, Pemerintah RI menerbitkan Obligasi Negara Ritail (ORI) untuk menghimpun dana dari masyarakat agar dapat membiayai sebagian dari defisit anggaran belanja pemerintah. Contoh lain, Perusahaan Listrik Negara (PLN) dapat memperoleh dana untuk membangun pembangkit listrik baru, pembangunan jalur distribusi listrik baru dari penerbitan obligasi yang dijual kepada investor. Untuk berbagai tujuan tersebut, maka pemerintah RI atau perusahaan swasta kemudian menerbitkan sertifikat obligasi sebagai “tanda bukti berhutang” kepada investor yang membeli obligasi dengan sejumlah nilai tertentu, jangka waktu tertentu, dengan imbalan tingkat bunga (kupon), tertentu.

Karena bersifat hutang, maka pada akhir periode pinjaman atau tanggal jatuh tempo, penerbit obligasi berkewajiban mengembalikan seluruh hutangnya kepada investor. Sementara bunga obligasi (kupon), yang merupakan imbalan bagi investor atas dana yang dipinjamkan, biasanya dibayarkan secara berkala dan dalam jumlah tetap sepanjang periode pinjaman berlangsung. Oleh karena itu instrumen obligasi sering disebut juga dengan instrumen investasi yang memberikan pendapatan tetap bagi para investor (Fixed Income).

Sebagai contoh dari penjualan ORI dengan No. Seri 008 Tabel ORI 008 - twps2 - StarFish

Keuntungan yang diharapkan oleh para investor dari investasi yang berupa obligasi adalah sebuah peluang dalam mendapatkan tingkat pengembalian (imbal hasil/pendapatan), yang lebih tinggi dari deposito dan adanya rasa aman dari kemungkinan kehilangan dana investasi akibat kebangkrutan. Khususnya obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, kemungkinan kebangkrutan dapat dikatakan hampir tidak ada, sehingga sering digolongkan sebagai instrumen investasi yang tidak memiliki risiko kebangkrutan (Risk Free).

Manfaat lain dari obligasi bagi para investor ialah adanya jenis pilihan dalam berinvestasi selain saham. Prinsip manajemen risiko yang menekankan untuk “Tidak menaruh seluruh telur dalam satu keranjang” bukan lagi monopoli dari seorang manajer investasi yang mengelola dana yang berjumlah sangat besar. Dengan adanya obligasi sebagai alat investasi, investor ritailpun dapat mulai membagi dananya untuk diinvestasikan kedalam beberapa “keranjang” yang berbeda. Dengan demikian, apabila “keranjang saham” sedang jatuh dan telur didalamnya pecah, maka masih ada “keranjang obligasi” yang masih aman, dan demikian pula sebaliknya. Sebagai informasi sebelum adanya instrumen Obligasi Ritail Indonesia, sebagian besar obligasi hanya dibeli dan dijual oleh perusahaan maupun institusi keuangan besar.

Memungkinkan Masyarakat Berinvestasi Obligasi
Mengapa obligasi hingga saat ini dapat dikatakan relatif masih belum populer dikalangan para investor ritail Indonesia dibanding saudaranya yang bernama saham ? Salah satu penyebab utamanya ialah, karena transaksi obligasi pada umumnya tidak dilakukan di Bursa Efek. Melainkan kebanyakan obligasi ditransaksikan diluar bursa (over the counter), antara dua belah pihak yang bersepakat untuk melakukan transaksi jual dan beli. Berbeda dengan saham yang hampir selalu ditransaksikan dibursa, investor dengan mudah melakukan transaksi jual beli saham maupun untuk mendapatkan informasi harga mutakhir. Dengan tidak ditransaksikannya obligasi dibursa, transaksi obligasi dilakukan secara terpencar-pencar oleh para pelakunya. Konsekuensinya para investor mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi mengenai masing-masing transaksi serta informasi harga jual dan beli dari setiap seri obligasi.

Selain karena transaksi obligasi dilakukan secara over the counter, penyebab lain dari kurang memasyarakatnya obligasi adalah nilai minimum transaksi obligasi yang sangat besar sehingga menyulitkan para investor ritail dalam membeli obligasi. Sebagai gambaran, nilai transaksi yang umum terjadi dipasar sekunder obligasi adalah Rp 10 miliar untuk setiap transaksi, bandingkan dengan investasi disaham dimana investor mempunyai banyak pilihan apakah akan bertransaksi dengan nilai puluhan ribu rupiah hingga puluhan jutaan rupiah saja untuk satu lot saham. Sebagai contoh, untuk dapat membeli saham perusahaan mentereng sekelas PT Bakrie Brothers Tbk. pada tanggal 17 Oktober 2011 seorang investor ritel cukup merogoh kocek sebesar Rp 51,- per lembar saham, atau Rp 25.500,- untuk mendapatkan 1 lot atau 500 lembar saham.

Tidak mengherankan, apabila instrumen obligasi selama ini hanya dapat dinikmati oleh kalangan investor institusional seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, bank, dan lembaga keuangan lainnya. Peluang investor ritail dengan daya beli yang terbatas menjadi sangat kecil untuk dapat menginvestasikan dananya dalam bentuk obligasi. Keberadaan ORI merupakan solusi ampuh dalam menjembatani kesulitan yang dihadapi oleh investor ritail ini. Obligasi yang biasanya dijual dalam partai besar, melalui ORI obligasi tersebut dipecah-pecah dan dapat dijual secara eceran (ritail), sehingga mudah terjangkau oleh para investor ritail.

Memaksimalkan Pendapatan Dari Obligasi
Setelah Investor memegang obligasi yang diperoleh dari pembelian dipasar primer (Penawaran Publik/IPO), atau pasar sekunder (Bursa Efek atau Over the Counter), maka investor mempunyai dua pilihan strategi agar dapat memaksimalkan pendapatan dari obligasi tersebut.

1. Menyimpan obligasi hingga tanggal jatuh tempo (Hold to Maturity), dimana investor dapat menyimpan obligasi yang telah dibeli, dan menyimpannya hingga mendapatkan pengembalian seluruh dana yang diinvestasikannya pada tanggal jatuh tempo. Strategi ini menjanjikan tingkat pendapatan secara maksimum bagi investor dari obligasi yang dipegangnya, dengan catatan setiap bunga (kupon), yang diterima secara berkala sepanjang periode obligasi tersebut langsung diinvestasikan kembali dengan tingkat bunga yang kurang lebih sama.

Keuntungan lain dari penerapan strategi ini adalah untuk menghindarkan investor dari risiko kerugian akibat naik turunnya harga obligasi pada market.

2. Melakukan Transaksi Jual Beli Obligasi (Trading), Investor juga dapat menjual kembali obligasi tersebut pada saat harga sedang tinggi dan/atau membeli pada saat harga sedang rendah untuk memperoleh keuntungan. Hal ini dimungkinkan karena harga obligasi dipasar dapat mengalami kenaikan dan penurunan seiring dengan perubahan indikator ekonomi dan keuangan di Indonesia maupun dunia.

Apabila obligasi kebanyakan tidak ditransaksikan dibursa, dimanakah investor dapat menjual atau membeli obligasi? Pada umumnya investor dapat menghubungi pihak bank ataupun perusahaan sekuritas untuk kepentingan tersebut. Tetapi khususnya untuk investor pemegang ORI, jual beli dapat dilakukan melalui agen penjual dimana investor pertama kali membeli ORI tersebut.

Disaat harga berapakah investor dapat menjual atau membeli obligasi? Pertanyaan ini wajar muncul karena tidak terdapat penjelasan sebelumnya mengenai kondisi pasar obligasi. Akan tetapi anda tak perlu khawatir, saat ini harga obligasi pada umumnya dan ORI pada khususnya sudah dapat diperoleh dengan mudah.

Apabila sebelumnya investor harus mencari data harga dari berbagai sumber dan menghitung sendiri dalam mendapatkan kisaran harga dari obligasi, maka saat ini anda tidak perlu bersusah payah untuk menghitungnya, karena sudah ada IBPA (Indonesia Bond Pricing Agency). IBPA adalah lembaga independen yang oleh Bapepam-LK selaku regulator pasar modal ditugaskan secara khusus untuk menetapkan dan menerbitkan seluruh harga pasar wajar obligasi termasuk ORI. Harga pasar wajar ORI yang ditetapkan oleh IBPA secara harian dapat diperoleh secara gratis diberbagai koran bisnis terkemuka ataupun dapat diakses melalui website resmi.

Berbekal informasi pada harga pasar wajar obligasi dari IBPA tersebut, maka investor obligasi dapat mengamati perkembangan harga obligasi yang dimilikinya. Dengan demikian transaksi jual dan beli obligasi untuk memperoleh keuntungan dapat dilakukan secara obyektif dengan mempertimbangkan naik turunnya harga obligasi dipasar. Berinvestasi merupakan langkah bijak yang sangat dianjurkan oleh perencana keuangan manapun. Tapi yang perlu diingat adalah investasi selalu dihadapkan pada risiko kerugian. Dengan memasukan obligasi sebagai bagian dari investasi dapat meminimalkan risiko yang dihadapi oleh investor.

Khusus bagi pemegang ORI, selain memperoleh keuntungan dari hasil investasinya, selain itu juga terdapat hal yang paling mulia lainnya yang terkandung didalamnya. Dengan membeli ORI, investor turut serta secara aktif dalam mendukung pemerintah Republik Indonesia dalam membangun bangsa dan negara Indonesia agar tercapai masyarakat yang adil dan makmur.
Jadi, tunggu apalagi ?

Bayu mengenal dunia investasi saat masih studi di perguruan tinggi, kemudian berlanjut menjadi penulis mengenai berbagai jenis investasi dan strategi-strategi trading di Seputarforex. Bayu meyakini bahwa trading bukanlah mesin jackpot, dan kita harus terus belajar agar bisa menjadi seorang trader sukses.


Budi Pamulang
Ini saya sudah periksa IBPA terus ini diapain lagi yah? kalo mau beli atau jualnya gimana? bikin akunnya gimana? koq websitenya kurang jelas yah? apakah itu website legal?
Reziki Amal
bro baca yg bener bro jangan diskim aja, nih ngutip di atas "Pada umumnya investor dapat menghubungi pihak bank ataupun perusahaan sekuritas untuk kepentingan tersebut. Tetapi khususnya untuk investor pemegang ORI, jual beli dapat dilakukan melalui agen penjual dimana investor pertama kali membeli ORI tersebut."
Budi Pamulang
oh sorry gan, terus kita jual beli di Bank mana? prosedurnya ribet ga? Berapa modal yang diperlukan buat beli surat obligasi di ORI atau apalah itu?
Michael Hamdan
Coba aja tanya ke support desk bank tujuan sampeyan, sedia sekuritas untuk jual beli ORI tidak? Kalau ada, ya tinggal tanyakan jumlah minimal pembeliannya. Biasanya kalau ORI sih modalnya relatif kecil, tidak sampai 10 juta juga bisa dapat.