Kisah Rugi Bitcoin Akibat Kejatuhan Harga Di Akhir 2017

285369

Penurunan harga Bitcoin di tahun 2017 lalu menimbulkan banyak korban. Berikut adalah 3 kisah rugi Bitcoin paling menggemparkan akibat insiden tersebut.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Bitcoin telah menjadi tren tersendiri di kalangan investor, karena dianggap mampu 'melahirkan' banyak miliarder instan. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa ada sisi gelap dari Bitcoin, terutama dari penurunan tajam harga sejak bulan Desember 2017 lalu. Diperkirakan, $400 miliar telah berkurang dari total nilai pasar kripto utama sejak Desember 2017, dan ini menyebabkan beberapa investor kehilangan hampir seluruh dana investasi mereka. Dari sekian banyak kerugian yang tercetak di pasar kripto, berikut adalah 3 kisah rugi Bitcoin yang paling ramai dibicarakan:

3 Kisah Rugi Bitcoin menggemparkan

 

1. Sean Russell: Rugi Hingga 96%

Russell jarang bermain di pasar saham dan memiliki sedikit pengalaman investasi, ketika ia menaruh sekitar $120,000 ke dalam investasi Bitcoin pada bulan November 2017. Dia terkejut ketika modal itu berubah menjadi $500,000 hanya dalam waktu satu bulan. "Saya yakin mampu menghasilkan keuntungan $15,600 per hari secara terus menerus di Bitcoin, dan saya tidak menarik investasi saya sedikitpun," kata Russell kala itu.

Harga Bitcoin memang melampaui $20,000 pada bulan Desember, tapi tak lama setelahnya, nilai tukar Bitcoin ambruk. Kini. mata uang kripto tersebut diperdagangkan dengan nilai $6,300 per 1 BTC.

Sean Russell

Russell berusaha untuk mengurangi kerugiannya, dengan mengalihkan investasi (diversifikasi) ke Bitcoin Cash (BCH) dan kripto lainnya, termasuk Ethereum (ETH) dan Ripple (XRP). Namun upaya itu tidak membuahkan hasil. Pengalaman investasi Russell di pasar kripto pun berubah menjadi kisah rugi Bitcoin dengan total Loss mencapai 96% dari modal awalnya.

"(Kerugian) Itu sangat traumatis," kata Russell. "Saya pernah melihat berita tentang miliarder yang bangkrut, dan saya berada pada posisi itu sekarang."

Padahal sebelum memutuskan untuk berinvestasi, Russell menghabiskan waktu bertahun-tahun melacak informasi mengenai Bitcoin dan mempelajari teknologi Blockchain, teknologi yang mendukung mata uang kripto tersebut. Dia mengatakan proses pembelajaran itu seperti memecahkan teka-teki sebuah misteri.

Meskipun rugi besar, Sean Russell mengaku tetap ingin menjadi investor yang berkomitmen dan memiliki mental baja. "Saya harus menjaga pikiran tetap sibuk, karena ketika saya hanya fokus pada kerugian, itu akan menghancurkan saya secara mental dan emosional," ujarnya.

 

Kejatuhan Bitcoin Di Akhir 2017 Memicu Keresahan

Michel Rauchs yang meneliti kripto dan Blockchain di Cambridge Centre for Alternative Finance, mengatakan bahwa kenaikan harga yang mengejutkan pada tahun 2017 menarik gelombang investor yang tidak berpengalaman. "Investor ritel, mahasiswa, ibu rumah tangga, bahkan pensiunan terdorong oleh tren investasi Bitcoin," kata Rauchs. "Mereka terbujuk oleh media yang mengungkapkan bahwa ini adalah kesempatan seumur hidup. Mereka membeli di harga yang sangat mahal dan sekarang mendapatkan kerugian besar."

Insiden anjloknya harga Bitcoin telah membuat para investor dan tokoh berdebat mengenai masa depan mata uang kripto selanjutnya. "Jelas sebuah kegilaan yang telah kita lihat dari volatilitas dalam harga Bitcoin. Ini menyerupai banyak gelembung lain di sektor finansial yang terjadi berulang-ulang dalam sejarah ekonomi kita," kata Benedetto De Martino, seorang ekonom perilaku di University College London.

Bubble Bitcoin

(Baca juga: Kontroversi Tanda-Tanda Bubble Pada Bitcoin)

Minat investor terhadap Bitcoin dan kripto lainnya telah memudar dalam beberapa bulan terakhir. CEO JPMorgan (JPM) Jamie Dimon dan Warren Buffett juga telah memperingatkan para investor untuk menjauhi Bitcoin. Berbagai sentimen negatif tersebut telah menghalangi harga Bitcoin untuk naik kembali. Ini jelas menjadi suatu pukulan besar terhadap optimisme pelaku pasar Bitcoin. "Pasar memiliki siklus dan masih ada banyak peluang bagi investor canggih," kata Benjamin Dives, CEO platform perdagangan kripto, London Block Exchange.


2. Pete Roberts: Loss Lebih Dari 5 Kali Lipat Modal Awalnya

Pete Roberts dari Nottingham, Inggris, adalah salah satu dari banyak pengambil risiko yang menginvestasikan tabungan mereka di pasar kripto, ketika harga mencapai puncaknya pada Desember 2017. Sekarang, $23,000 yang dia investasikan dalam beberapa token digital hanya bernilai sekitar $4,000.

Pete Roberts

"Saya terlalu terjebak dalam rasa takut kehilangan dan mencoba membuat uang dengan cepat. Kerugiannya cukup banyak sehingga membuat saya hancur secara mental dan finansial," katanya.

 

Tingginya Minat Investor Baru Membuat Pasar Kripto Sulit Pulih

Setelah penurunan besar untuk yang ke sekian kalinya, banyak mata uang kripto telah menghapus semua keuntungan luar biasa yang mereka alami pada tahun 2017. Nilai token digital bahkan jatuh sekitar $600 miliar, sekitar 75 persen dari titik tertinggi di bulan Desember 2017.

Pasar mata uang kripto telah melewati fase boom dan bust. Jadi seharusnya, harga kripto sudah mulai pulih saat ini. Namun, kemerosotan tajam pada akhir tahun 2017 memiliki dampak yang lebih lama pada aset kripto, karena banyaknya jenis investor Bitcoin pendatang baru yang berinvestasi dalam setahun terakhir. Mereka biasanya tidak memiliki rencana investasi yang pasti, dan cenderung mengikuti arus tanpa benar-benar tahu cara menganalisa harga. Aksi seperti ini pada akhirnya hanya akan memperparah volatilitas harga Bitcoin yang sudah sangat tinggi.

Menurut laporan beberapa bursa, jumlah orang yang mulai berinvestasi di pasar kripto selama setahun terakhir memang lebih banyak daripada sembilan tahun sebelumnya. Coinbase, broker mata uang kripto terbesar di Amerika Serikat, melaporkan peningkatan jumlah klien hingga 2 kali lipat, antara Oktober 2017 hingga Maret 2018. Start-up Square yang mengembangkan layanan melalui aplikasi seluler Square Cash, juga mengungkapkan hal serupa.

Bursa Bitcoin

(Baca juga: Bursa Bitcoin Internasional Yang Banyak Dipakai Trader Indonesia)

Hampir semua klien baru di Coinbase dan Square yang membeli kripto dalam waktu 9 bulan terakhir dan mempertahankannya, dipastikan bakal menderita kerugian. Sulit untuk mengetahui berapa banyak investor kripto yang sekarang berada di zona merah, dengan Balance yang jauh berkurang dari investasi awal mereka sebelumnya. Banyak di antara investor yang kehilangan uang dalam beberapa bulan terakhir, merasa putus asa dan memberikan cap buruk terhadap investasi kripto secara keseluruhan.

 

3. Kim Hyon-jeong: Rugi Besar Setelah Mempertaruhkan Segalanya

Kim Hyon-jeong, seorang guru berusia 45 tahun dan seorang ibu rumah tangga yang tinggal di pinggiran Seoul, mengatakan bahwa dia telah menghabiskan sekitar 100 juta Won ($90,000) untuk berinvestasi di pasar kripto pada musim gugur lalu. Dia menarik tabungan dan polis asuransi, juga meminjam dana sebesar $25,000. Sayang, jebloknya harga kripto di akhir 2017 membuat dana Hyon-jeong kandas hingga 90 persen.

"Saya pikir kripto akan menjadi satu-satunya terobosan bagi orang-orang pekerja keras seperti kami," katanya. "Saya pikir, keluarga saya bisa lolos dari kesulitan dan hidup lebih nyaman, tetapi ternyata sebaliknya."

Alih-alih mendapatkan keuntungan untuk membebaskan diri dari kesulitan hidup, ternyata seluruh usaha dan pengambilan risiko yang terlalu berani membuat Kim Hyon-jeong lebih hancur, baik dari sisi keuangan maupun psikologisnya.

 

Meskipun beberapa kisah rugi Bitcoin di atas cukup mengkhawatirkan, investasi Bitcoin sebenarnya bisa mendatangkan keuntungan, jika Anda bisa mengelolanya dengan tepat. Tokoh-tokoh Kripto Terkaya Di Dunia ini telah membuktikannya.

Seorang trader sejak 2012 yang mempunyai hobi menulis. Suka membahas serunya persaingan ekonomi antar negara dengan sebuah tulisan. Aktivitas trading menggunakan Price Action dan rumor fundamental saja. Karena trading itu memang simpel.