OctaFx

iklan

Buy The Rumor, Sell The News: Apa Maksudnya?

289393

Fenomena Buy The Rumor, Sell The News sangat marak di pasar keuangan dan acap kali dihadapi trader forex maupun saham. Ini contoh dan cara memanfaatkannya.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Dalam trading forex, Anda tentu seringkali mendengar istilah "buy the rumor, sell the news" atau "buy the rumor, sell the fact". Keduanya merujuk pada fenomena yang sama, yaitu konsensus mayoritas pelaku pasar untuk membeli suatu aset berdasarkan spekulasi atau rumor tertentu (hingga harganya meningkat), kemudian menjualnya setelah berita yang sesungguhnya dirilis (hingga harganya jadi jatuh).

Fenomena "buy the rumor, sell the news" tidak hanya dihadapi oleh trader forex, melainkan lazim pula terjadi di semua pasar keuangan. Termasuk dalam perdagangan saham, obligasi, dan komoditi berjangka. Sebagian trader mencari peluang untuk memanfaatkannya, tetapi sebagian yang lain justru menjadikannya alasan untuk menjauh dari pasar ketika akan ada rilis berita penting.

buy the rumor sell the news

 

Memanfaatkan Fenomena "Buy The Rumor, Sell The News"

Di bursa saham, trader seringkali merintis aksi beli berdasarkan antisipasi pendapatan perusahaan yang lebih tinggi di masa depan agar dapat meraup pembagian dividen besar. Namun, saham-saham tersebut justru akan langsung dilepas setelah periode cum date/ex date berlalu. Ini termasuk salah satu strategi trading saham berbasis "buy the rumor, sell the news" yang berisiko tinggi, karena harga saham pasca pembagian dividen bisa merosot drastis; tetapi tetap saja banyak orang yang melakukannya (baca juga: Awas Dividen Trap).

Dalam trading forex, pemanfaatan fenomena "buy the rumor, sell the news" sering nampak saat pelaku pasar mengantisipasi perubahan suku bunga. Trader mencari mata uang yang telah undervalued dan atau jenuh jual (oversold). Saat muncul rumor, misalnya bahwa mata uang itu kemungkinan bakal menguat karena kenaikan suku bunga, maka trader akan membelinya hingga nilainya tak lagi undervalue, atau bahkan sudah mencapai ambang overvalue.

Pada momen rilis berita aktual, hanya kejutan yang menyimpang dari ekspektasi saja yang akan mampu mendorong nilai mata uang itu untuk meningkat jauh lebih tinggi lagi. Akibatnya, setelah bank sentral mengumumkan bahwa suku bunga meningkat sesuai ekspektasi, maka para trader (yang sebelumnya memborong mata uang itu) memutuskan untuk ambil untung (Take Profit) massal, sehingga nilai tukar mata uang itu malah jatuh.

buy the rumor sell the news

Kebalikannya dapat terjadi pula dalam bentuk "sell the rumor, buy the news" jika berkaitan dengan spekulasi mengenai pemangkasan suku bunga. Umpama suatu bank sentral diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Sebelum pengumuman, trader terus menerus shorting atas mata uang itu, sehingga posisinya sudah mendekati atau bahkan melampaui ambang undervalue. Setelah bank sentral mengumumkan pemangkasan sebesar 25 basis poin secara resmi, nilai tukarnya malah sontak melonjak, karena para trader memilih untuk ambil untung dari posisi short yang telah dibuka sebelumnya.

Terlepas dari itu, reaksi serupa tak bisa diharapkan akan selalu terjadi setiap kali pengumuman pemangkasan suku bunga. Beberapa contoh konkrit mengenai ragam reaksi pasar seusai pengumuman suku bunga dapat ditilik dalam sejumlah berita yang pernah diulas Seputarforex berikut ini:

 

Dampak Fenomena "Buy The Rumor, Sell The News"

Ada dua implikasi penting dari fenomena "buy the rumor, sell the news" yang perlu diperhatikan oleh trader:

  • Efek sebuah rilis berita ekonomi tak dapat diprediksi secara akurat.

Banyak artikel mengenai fundamental forex atau news trading menyebutkan bahwa "jika berita positif maka mata uang menguat, jika negatif maka mata uang melemah". Namun, realitanya tidak akan pernah sesederhana itu. Lihat saja kedua contoh di atas. Secara teoritis, "jika suku bunga naik maka permintaan atas suatu mata uang meningkat, sehingga nilai tukar menguat" dan "jika suku bunga turun, maka permintaan atas suatu mata uang menurun, sehingga nilai tukar melemah". Namun, realita malah sebaliknya.

Fluktuasi nilai tukar dalam jangka pendek lebih dipengaruhi oleh persepsi sentimen dan minat risiko pasar, ketimbang oleh teori tertentu. Boleh jadi memang nilai tukar akan menguat sehubungan dengan meningkatnya suku bunga acuan, tetapi penguatan mata uang tersebut hanya akan terjadi dalam jangka panjang. Pergerakan nilai tukar mata uang juga semestinya tidak hanya akan dipengaruhi oleh suku bunga saja, melainkan oleh beragam faktor lain (baca juga: 6 Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Mata Uang).

  • Periode seputar rilis berita penting merupakan waktu yang buruk untuk trading.

Kontradiksi antara teori dan realita di atas menciptakan ketidakpastian yang sangat besar dalam periode menjelang rilis berita penting. Tanpa kisi-kisi dari orang dalam (insider), Anda tak akan bisa memprediksi dengan akurat kemana arah pergerakan harga berikutnya. Satu-satunya hal yang pasti dalam trading forex adalah ketidakpastian, tetapi unsur ketidakpastian dalam situasi ini bahkan jauh lebih tinggi ketimbang masa-masa trading normal. Akibatnya, ini termasuk salah satu waktu trading forex paling berbahaya.

Tak ada yang melarang trader untuk ikut mengobok-obok pasar dalam masa-masa tersebut. Namun, daripada terlindas oleh gejolak yang tak menentu, ada baiknya pula menghindari momen seputar rilis berita penting. Tunggulah hingga berita dirilis dan pergerakan harga mulai merunut kembali tren utamanya (retracement) atau membentuk tren baru (reversal), kemudian entry dalam situasi yang lebih kondusif.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.