Cara Exit Yang Obyektif

128702

Cara exit yang pasti benar tidak ada, seperti juga cara entri yang pasti. Jawaban yang logis adalah Anda harus obyektif. Artinya Anda menyesuaikan dengan kondisi pasar dan tidak emosional.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Menentukan kapan harus exit adalah hal yang cukup krusial dalam trading. Anda entri dan harga telah bergerak sesuai prediksi, Anda telah memperoleh profit. Kemudian harga bergerak berbalik arah, dan Anda panik. Mungkin Anda pernah mengalami kejadian seperti itu, atau ketika Anda telah mendapatkan profit dan Anda memutuskan untuk exit, tetapi ternyata pergerakan harga terus melaju sementara Anda telah meninggalkan arena.

Cara Exit Yang
Seperti halnya dalam permainan catur, Anda mesti bisa mengantisipasi keadaan agar tidak salah dalam melangkah. Kejadian seperti itu sangat sering dialami trader forex, baik yang trading dengan cara mechanical ataupun yang discretionary. Lalu apakah hal tersebut merupakan bagian dari trading atau ada cara tertentu agar kita bisa exit dengan benar? Cara exit yang pasti benar tidak ada, seperti juga cara entri yang pasti. Jawaban yang logis adalah Anda harus obyektif. Artinya Anda menyesuaikan dengan kondisi pasar dan tidak emosional. Gunakan cara analisa sesederhana mungkin dan tidak kompleks.

Banyak trader yang mengalami kesulitan dalam menentukan waktu yang tepat untuk exit. Ada yang menganggap sepele dan asal exit (yang penting profit), tetapi ada juga yang melakukan analisa berlebihan hingga sering ragu-ragu ketika hendak keluar dari pasar. Trader yang berpengalaman berpendapat bahwa cara exit bisa membedakan antara seorang pemenang dan pecundang, lebih signifikan dari cara entri. Ada analis yang akurasi prediksinya 80% selalu benar, tetapi ketika ia benar-benar trading tidak bisa menghasilkan profit yang konsisten karena cara exit-nya yang sering kali amburadul.

Mengubah pandangan dan pemahaman exit dalam trading
Mungkin Anda berpikir bahwa exit bisa dilakukan kapan saja, yang penting stop loss tidak kena. Dalam hal ini mungkin Anda bisa profit tetapi telah mengabaikan money management, atau memang Anda tidak menggunakannya. Jika Anda bertahan dengan cara trading seperti ini maka sulit menghasilkan profit yang konsisten dalam jangka panjang, karena dari awal Anda tidak merencanakan perbandingan antara resiko dan perolehan (reward) yang ingin Anda capai.

Anda tidak tahu pasti berapa persen account Anda akan berkurang jika Anda rugi dan berapa persen akan bertambah jika profit. Jadi Anda trading secara acak, kadang bisa profit dan kadang bisa loss dengan tanpa ukuran yang pasti. Gaya trading semacam ini biasanya tidak bertahan lama karena profit yang diperoleh cenderung lebih sedikit dari kerugian yang dialami. Anda lebih fokus untuk menghindari resiko daripada memperoleh profit.

Exit memang bagian yang tidak terpisahkan dalam proses trading, dan ditentukan bersamaan dengan saat entri. Anda seharusnya tidak exit sebelum level target Anda tercapai. Jika target profit belum tercapai berarti permainan belum selesai. Untuk memperoleh profit yang konsisten Anda mesti menentukan target profit yang pasti, dan agar diperoleh hasil yang efektif, Anda bisa menerapkan risk or reward ratio lebih besar dari 1:1, bisa 1:1.5 atau 1:2.

Sebelum menentukan risk or reward, Anda mesti obyektif melihat kondisi pasar dan trend pergerakan harga. Gunakan cara analisa sesuai metode dan strategi trading Anda. Mungkin Anda menggunakan indikator teknikal atau hanya mengacu pada price action untuk memprediksi trend guna menentukan level stop loss dan level exit. Jika ternyata kemungkinan risk or reward ratio terbaik hanya 1:1, maka sebaiknya tidak entri pada pasangan mata uang tersebut. Pilih pasangan lain atau tunggu hingga kondisi pasar benar-benar memungkinkan. Cara exit yang obyektif berarti logis, sesuai dengan kondisi pasar dan tidak emosional. Sebagai contoh untuk menentukan cara exit yang sederhana dan logis Anda bisa baca di sini.

Tentu saja Anda bisa menerapkan berbagai variasi untuk memaksimalkan profit seperti teknik trailing stop, averaging dan lainnya, tetapi penggunaan money management dan cara menentukan exit yang obyektif sangat dianjurkan untuk memperoleh hasil trading yang konsisten.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

M.isa
buat yg masi awal, ga heran kalo suka exit posisi cepet2. krn di forex tu gampang kena loss tapi kl maw profit susahnya minta ampun. maka nya pas liat profit dikit keburu exit dulu takut kalo ada loss lg
Yongki Firmansyah
@m.isa: kalau tradingnya kayak gitu ya berarti nggak pake trading plan namanya. kalau semuanya udah direncanain kan pasti ada perkiraan harga akan bergerak kemana. nggak perlu buru2 close position cuman karena takut harga move ke arah yg lain lagi. Apalagi ada juga mm/manajemen resiko buat ngantisipasi hal2 kyk gitu. mestinya skrg trader udh g perlu kawatir. kalau cara tradingnya kayak gitu sama aja profit di forex dianggep sbg keberuntungan aja, bukannya dari kalkulasi dan trading plan sebelumnya.
M.isa
@yongki: ane kn bilangnya masi awal, trader oemula gt, jd y wajari aja... asal kl uda lama2 bljr bs pk trading plan itu.. nama nya juga proses bljr, pst ada salah2 nya jg
Pujianto
Knp cr ngambil exit posisi yg paling tpt dr risk reward ratio? klo diambil dr level s&r sbnrnya isa jg kan?
Martin S
@ pujianto:
Yang benar memang dari level support (untuk sell) dan resistance (untuk buy), tetapi dianjurkan agar risk/reward rationya lebih besar dari 1:1, misalnya 1:1.5 atau 1:2, agar dalam jangka panjang hasil trading kita bisa profit. Artikel ini lebih fokus pada risk/reward ratio yang besar atau target profit yang lebih tinggi dari stop loss, tetapi cara menentukan level target (exit) yang lazim memang dari level support atau resistance atau dari level-level Fibonacci retracement atau expansion.
Bambang Priyono
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menentukan exit position, tergantung dari metode trading yang Anda gunakan. Kalau memperhatikan risk dan reward rasio, berarti cara penentuan exit positionnya lebih dicermati dari segi manajemen resiko, yang memang ditujukan untuk meminimalisasi loss dan memaksimalkan profit.
Fendi
Misal kita pake sinyal entry untuk menegaskan saat exit..gimana ya gan? Apakah benar kalo gitu? Penjelasannya gini :

- misal kita pakai indi MA dengan setingan, misal 10 dan 20;
- kemudian ada cross dari kedua indi tersebut;
- katakanlah kita open sell;
- kemudian kita close posisi tersebut dengan sinyal dari cross kedua indi tersebut yang memberikan sinyal buy.

Mohon bantuan agan-agan sekalian..terimakasih
Martin S
@ fendi:
Bisa, tetapi dari kebiasaan ada yang harus diperhatikan, yaitu:
- Untuk time frame H1 (1 jam) kebawah sebaiknya gunakan exponential moving average (ema) karena lebih sensitif - Untuk time frame H1 periode yang biasa digunakan 21, 34 dan 55.
- Untuk time frame H4, D1 periode yang biasa digunakan: 55, 89, 144.
- Sebaiknya tambahkan 1 indikator oscillator untuk konfirmasi. Berikut contoh hasil scalping pada EUR/USD H1 dengan menggunakan metode tsb dan profit 45 pip. (dengan indikator ema 21, ema 55 dan stochastic):
Kara
Saya sih biasanya pake fibonaci retracement untuk menentukan exit pointnya, tapi karena fibo itu relatif subyektif swing hi dan lo nya, kadang-kadang TP saya ga kena-kena... eh malah SL, ya begitulah masalahnya. Apakah ada metode lain yang lebih pasti dan meyakinkan dari fibonaci retracement? Trimakasih