Cara Mengelola Margin Dalam Trading Forex

62836

Kunci utama agar aman saat trading adalah dengan menguasai cara mengelola margin yang baik. Namun, bagaimana teknisnya?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seringkali saya ditanya oleh teman-teman yang sedang belajar trading forex, "gimana sih tips trading yang baik?" Wah, terus terang, jawaban untuk pertanyaan ini nggak bisa singkat. Kalo mau diceritakan panjang lebar, bisa-bisa nggak kalah tebalnya dengan novel Harry Potter yang terakhir tuh. Eh, tapi udah dibilang githu juga rata-rata mereka masih memaksa. Katanya, "mosok ditanya githu aja pelit jawab sih". Waduhh, iya deh, daripada dibilang pelit, saya biasanya kasi tips singkat ajah: kalau mau trading forex dengan aman, hal terutama yang harus dilakukan adalah: mengelola Margin dengan sebaik-baiknya.

Pertanyaan biasanya berlanjut lagi nih "gimana tuh maksudnya?" atau "gimana sih cara mengelola Margin yang baik?" Nah kaann, nggak selesai-selesai. Oke deh, saya akan sedikit uraikan mengenai bagaimana cara mengelola Margin yang baik, dan mengapa perkara pengelolaan Margin ini menjadi hal yang menurut saya penting untuk dipahami oleh trader.

Mengenai detail perhitungan Margin, saya pernah membahasnya dalam artikel terdahulu. Silakan Anda baca-baca lagi deh kalau ingin mengetahui dan memahami tentang detail perhitungan Margin. Yang ingin saya kemukakan dalam artikel kali ini berkaitan dengan pengelolaan margin yang baik adalah terutama bagaimana menjaga Used Margin maupun Available Margin sehingga aman dari Margin Call.

Cara Mengelola Margin - ilustrasi

 

Cara Mengelola Margin Bisa Menentukan Untung dan Rugi

Saat awal belajar trading forex, saya pernah diberi sinyal oleh mentor saya: sell GJ di harga sekian dengan TP sekian. Dengan senang hati, saya menuruti sinyal tersebut dan main hantam dengan margin sekitar 40%. Saya pikir, toh kalau ternyata hasilnya loss, kan ada temannya. Saya bilang, "Siip deh, kalo profit, profit bareng yaa… kalau loss juga loss bersama". Wah, ternyata, apa jawaban mentor saya? Beliau bilang, belum tentu kita sama-sama profit atau sama-sama loss, walaupun mengikuti sinyal yang sama.

Saya sempat bingung ketika mendengar jawaban itu, "Lah, kok bisa? Bukannya kita sell di harga yang sama dengan TP di harga yang sama juga? Trus apa bedanya yang bisa bikin kita jadi nggak sama-sama profit atau sama-sama loss?"

Hmm, mau tahu kuncinya? Kunci perbedaannya adalah: perhitungan Margin! Lah, gimana tuh ceritanya? Kok bisa? bisa saja. Lah, mentor saya paling besar menggunakan margin 5% per posisi, sedangkan saya main hantam dengan margin 40% per posisi. Seandainya harga akhirnya mencapai Target Profit (TP), tetapi sebelumnya sempat floating minus dulu, tentunya kekuatan margin saya (dengan used margin 40%) tidak sekuat margin mentor saya (dengan used margin 5%). Bisa jadi, saya terkena Margin Call duluan sebelum harga mencapai TP tadi.

Cara Mengelola Margin - ilustrasi

 

Ketahui Margin Yang Tepat Per-Posisi Trading

Setelah menyimak cerita tadi, boleh jadi Anda bertanya-tanya, berapakah margin yang tepat untuk dikatakan aman?  Mmm… ini tidak sama bagi setiap trader, tergantung gaya trading forex masing-masing. Dari hasil bertanya kesana-sini, saya bisa lihat kecenderungan bahwa pengguna teknik Swing Trading biasanya hanya menggunakan 1-5% margin per posisi dengan target TP sampai ratusan pips. Namun, pengguna strategi lainnya bisa menetapkan aturan berbeda. Trader yang sering melakukan scalping, terkadang menggunakan margin sampai 20-40%, tetapi tentu saja jumlah TP mereka lebih kecil.

Ada satu saran dari seorang rekan trader yang sering bermain long-term mengenai cara menglola margin yang menurut saya bagus juga untuk menjadi patokan: sebaiknya jagalah agar floating negatif selalu lebih kecil daripada Available Margin. Dengan demikian, asalkan kita tak membuka terlalu banyak posisi trading, maka ketahanan margin bakal terjamin.

Selain itu, sebenarnya kunci dalam mengelola margin adalah pengendalian emosi. Kalau kondisi margin kita mepet, sebaiknya tahan diri untuk tidak melakukan open posisi. Jadi bisa dikatakan, melakukan open posisi dalam kondisi margin yang terbatas adalah tindakan nekad yang bakalan membahayakan kelangsungan hidup account kita.

Oke, sampai di sini, saya harap Anda sudah bisa memahami maksud utama yang ingin saya sampaikan. Eh, omong-omong, mungkin Anda penasaran, bagaimana nasib posisi saya yang main hantam 40% margin tadi? Yah… untunglah, di akhir cerita, posisi trading saya ter-closed tanpa sempat terkena Margin Call. Namun, dari contoh kasus "nyontek posisi trading orang lain tanpa ba-bi-bu" itu, saya mendapat pelajaran tentang pentingnya mengelola margin dengan hati-hati.

Oh… iya, ada satu lagi kesimpulan yang saya ambil: seterusnya di lain waktu, kalau ada teman trader yang berbaik hati berbagi sinyal trading, sebelum ikutan nyontek juga, saya akan tanya dulu, "pakai berapa margin nih?". Lah, daripada dia dapat profit, tetapi saya malah dapat Margin Call duluan, kan nggak enak bangeet.

Awalnya, Greenpips merupakan ibu rumah tangga biasa. Namun, kemudian mengenal forex di perguruan tinggi, dan setelah itu memutuskan membuat tesis mengenai Expert Advisor. Paling suka menggunakan Fibonacci dalam trading.


Yusuf Hermawan
Tengs infonya. Sebelum ni saya pikir besar kecil profit itu ditentuin dr target profit
Octarina
Jgn lupain stop loss jg
Fika_asri
klo tu si, biasane tambah bikin profit brkurang
Dion Purba
sl bukanya bikin profit berkurang, yg bisa bikin profit berkurang tuh tp.
sl kalo cepet kena udah bukan bikin profit berkurang lagi, tapi jg bikin rugi terus.
tapi itusih dari cara pandang yg beda, kalo agan g bsa lihat keuntunganya kebanyakan yg masih suka kena slnya itu bisa jadi karna masih salah posisikan sl.
ini ada tekniknya sendiri bro, biar sl g terlalu sempit jg g terlalu lebar paling simpel diliat dari volatilitas harga, kalo lagi tinggi sl jgn terlalu sempit, sebaliknya kl lagi rendah sempit jg gpp.
mau yg lebih lengkap lg coba liat disini
Octarina
@fika: Tapi kalo gk di stop loss jd gaada batasan kerugian. Percuma kalo profitnya gede tp loss nya jg gede kan
Adam Eye
Betul, si fika itu ngawur aja, masak stop los dibilang batasin profit. emang marginnya situ udah segede apa bernai ngentengin stop los? trader2 pro yang udah ngelola modal gede2 aja masih sadar pentingnya pake stop los. klo mereka cuman nganggap stop los sebagai pembatas profit. y ndak mungkin mereka pake terus kan soalnya mereka dianggep trader sukses karna udah bisa maksimalin profit..

ini alat penting banget buat trader, klo masih pemula mending jangan entengin alat2 bantu yang ada diplatform.. daripada rugi tradingin modal yg lossnya kebablasan mending amanin dulu pake stop los.
Yusuf Hermawan
Yg jelas pengelolaan margin sm peritungan tp n slh itu y pinter2 manajemen resiko dari masing trader aja.
Karina Kusuma
Trader yang cerdas harus tahu cara set Money Management yang baik.
Ukhy Salamah
Betul, selain itu juga harus tahu cara memasang Risk Reward yang tepat. Bagaimanapun juga kalau kita trading tanpa SL dan TP, itu akan membahayakan balance ketika harga bergerak tidak sesuai prediksi, dan tingkat floating berada di atas 40 - 100 pips.
Prasetya
keinginan buat tetep op walaupun kondisi margin mepet itukan karna pengen nambah profit biar kondisi margin g mepet lagi. nah solusinya kalo margin mepet terus kita g boleh op apa dong? cuman tambah deposit lagi ya biar margin bisa makin lebar? jalan keluar yang kepikiran sih cuman itu, habis mau darimana lagi dapat suntikan tambahan selain dari profit trading sama deposit? kalo masuk tradingnya g dibolehin karna berisiko, berarti solusinya ya tambah deposit lg.
Mulyawanto
Kl itu risk biar akn bs ttp slmt. why not? toh slh 1 goal trdr itu ushkn spy akun gg kn mc. kl mrgn dh mepet tp dpksain msk aja y jls kena potensi mc lbh bsr toh? slm msh bs diusahakn gpp lah kt inject dn lg. yg pntng mrgn msh nyukupin bwt nahan floating minus. toh kl analisa kt kuat jg harapan profitx bkl bs menunjang.
Tri Wiriyanto
Supaya lebih mudah dipraktekkan kenapa tidak sekalian dicontohkan perhitungannya jadi satuan lot trading saja? Dengan begitu akan langsung mudah menerapkan perkiraan 5% atau 40% dari margin itu sebesar apa lot sizenya. Namun demikian sebaiknya langsung saja untuk menyarankan pengukuran stop loss dan take profit sesuai risk/reward ratio masing-masing. Jadi tidak bergantung pada sinyal, melainkan dengan sistem trading masing-masing trader. Kalau hanya mengikuti sinyal saja maka bisa jadi tidak sesuai dengan gaya trading. Supaya lebih mudah mending merencanakan sendiri saja, seperti apa gaya tradingnya, berapa persentase margin yang digunakan, sejauh mana jarak stop loss dan take profitnya, karena manajemen resiko sebaiknya diperhitungkan berdasarkan kemampuan masing-masing trader menanggung resiko trading.