Advertisement

iklan

Dampak Perang Di Timur Tengah Terhadap Harga Minyak

Bagaimana sebenarnya dampak perang di Timur Tengah terhadap harga minyak? Benarkah anggapan bahwa harga minyak naik apabila terjadi konflik geopolitik?

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Serangan AS, Inggris, dan Prancis ke Suriah pada akhir pekan lalu (14/April) memunculkan kembali pertanyaan mengenai bagaimana dampak perang di Timur Tengah terhadap harga minyak. Saat Presiden AS Donald Trump pertama kali menyatakan akan meluncurkan misil ke Suriah, harga minyak langsung naik pesat. Namun, setelah misil benar-benar diluncurkan, harga minyak malah turun. Bagaimana sebenarnya dampak perang di Timur Tengah terhadap harga minyak? Benarkah anggapan bahwa harga minyak naik apabila ada perang di Timur Tengah? Jika ditelaah lebih lanjut, prekonsepsi tersebut sesungguhnya salah kaprah.

 

Harga Minyak Saat Perang Di Timur Tengah

Saat berlangsungnya Perang Irak-Iran antara 22 September 1980-20 Agustus 1988, harga minyak mentah (WTI) menunjukkan grafik menurun. Padahal, keduanya termasuk diantara jajaran negara produsen minyak terbesar. Ini merupakan salah satu contoh yang paling sering digunakan untuk mementahkan anggapan bahwa harga minyak naik apabila ada perang di Timur Tengah.

 

 Grafik Harga Minyak WTI Pada Masa Perang Irak-Iran 1980-1988

Harga Minyak WTI Pada Masa Perang Irak-Iran 1980

 

 

Setelah meletusnya Perang Teluk pada Agustus 1990 yang melibatkan kubu Sekutu (Kuwait, AS, Inggris, Prancis, dan Arab Saudi) versus Irak (didukung oleh Yaman), harga minyak sempat melonjak dari USD52.05 ke lebih dari USD60 dalam beberapa bulan saja. Berkebalikan dengan peristiwa sebelumnya, ini merupakan salah satu contoh utama harga minyak naik setelah perang di Timur Tengah.

 

Grafik Harga Minyak WTI Saat Perang Teluk 1990

Harga Minyak WTI Saat Perang Teluk

 

 

Invasi AS ke Irak untuk menggulingkan Saddam Hussein yang dimulai pada 20 Maret 2003 diiringi dengan penurunan harga minyak dalam jangka pendek, tetapi setelah itu terjadi reli nonstop. Harga minyak terus meningkat, bahkan setelah Saddam Hussein ditangkap dan konflik bersenjata mereda.

 

Grafik Harga Minyak WTI Saat Perang Irak 2003

Harga Minyak WTI Saat Perang Irak 2003

 

 

Antara akhir tahun 2011 hingga awal 2012, setelah Iran diketahui mengembangkan senjata nuklir, Amerika Serikat dan Uni Eropa mulai mendiskusikan kemungkinan embargo. Akibatnya, harga minyak meningkat dari kisaran USD90 ke lebih dari USD100 per barel. Setelah sanksi ekonomi atas Iran dijatuhkan pada Januari 2012, harga minyak meningkat ke USD108.40 pada bulan yang sama, lalu naik lagi ke USD117.36 pada Februari. Namun, harga kembali melandai dalam beberapa bulan kemudian, karena nampak bahwa meskipun suplai Iran ke pasar minyak dunia macet, tetapi kekurangannya dapat diisi oleh suplai negara lain.

 

Grafik Harga Minyak WTI Saat Konflik Nuklir Iran 2011-2012

Harga Minyak WTI Saat Konflik Nuklir Iran 2011-2012

 

 

Dampak Perang Di Timur Tengah Terhadap Minyak

Dari contoh-contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa dampak perang di Timur Tengah tidak selalu mengakibatkan kenaikan harga minyak. Secara spontan, reaksi pasar ketika mengetahui adanya indikasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah boleh jadi mendorong harga minyak naik. Namun, apabila situasi ternyata tidak mengakibatkan gangguan atas suplai minyak, maka harga bisa berbalik menurun.

Mengapa demikian? Ada tigaa sebab.

  • Konfik bersenjata belum tentu berdampak pada gangguan suplai minyak global. Umpamanya pemberontakan Daesh (ISIS/ISIL) di Irak mulai 2014 justru dianggap mengakibatkan penurunan harga oleh sebagian pihak, karena kelompok radikal ini menggelontorkan minyak Irak di pasar gelap dengan harga murah.
  • Banyak faktor lain yang mempengaruhi harga minyak dunia, seperti keseimbangan supply-demand pasar minyak global, laju produksi negara-negara produsen minyak utama, serta permintaan bahan bakar minyak (BBM) dari negara-negara industri.
  • Timur Tengah bukanlah kawasan penghasil minyak satu-satunya.

 

Timur Tengah: Pusat Minyak Dunia?

Kawasan Timur Tengah (Middle East) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut wilayah lintas benua antara Asia Barat, Turki, dan Mesir. Kawasan ini dikenal sebagai tempat lahirnya berbagai agama di dunia serta memiliki jejak sejarah berpuluh-puluh milenium, bahkan sejak sebelum penanggalan saat ini lahir. Selain itu, Timur Tengah sering dianggap sebagai pusat minyak utama dunia.

 

 Peta Pipa Migas Timur Tengah (2015)

Peta Pipa Migas Timur Tengah

 

 

Sebagai eksportir minyak, sejumlah negara Timur Tengah bergabung dengan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), termasuk Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Namun, sesungguhnya tak semua negara Timur Tengah masuk dalam OPEC, dan tak semua negara anggota OPEC merupakan negara di kawasan Timur Tengah.

Menurut estimasi terakhir OPEC per 2016, sekitar 81.5% cadangan minyak dunia yang sudah ditemukan berlokasi di negara-negara anggota OPEC, sedangkan 18.5% berada di negara-negara Non-OPEC seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Kanada. Dari total cadangan minyak OPEC, sebanyak 65.5% diantaranya berlokasi di Timur Tengah. Namun, 34.5% berada di negara-negara OPEC Non-Timur Tengah, seperti Venezuela, Angola, Ekuador, dan lain sebagainya.

 

Grafik Cadangan Minyak Dunia OPEC Dan Non-OPEC

Grafik Cadangan Minyak Dunia OPEC Dan Non-OPEC

 

 

Dari sini dapat disimpulkan bahwa meskipun sebagian minyak dunia memang dapat ditambang di Timur Tengah, tetapi sebagian lainnya dihasilkan di luar kawasan tersebut. Patut pula untuk dicatat bahwa dua produsen minyak mentah terbesar di dunia per 2017 adalah Rusia dan Amerika Serikat; keduanya bukanlah negara Timur Tengah maupun anggota OPEC. Oleh karenanya, kondisi Timur Tengah bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi harga minyak dunia.

Untuk mengukur dampak perang di Timur Tengah terhadap harga minyak, perlu pula diproyeksikan bagaimana situasi produksi minyak di negara-negara lainnya, serta apakah perang tersebut merusak keseimbangan supply-demand di pasar minyak global. Apabila keseimbangan terjaga, maka kemungkinan harga minyak takkan mengalami banyak perubahan. Sedangkan apabila ternyata supply dari negara-negara lain justru meningkat hingga terjadi surplus secara global, maka harga minyak malah bisa menurun. Dampak perang di Timur Tengah baru akan mendorong harga minyak naik, jika ternyata menginterupsi jalur distribusi atau mengakibatkan defisit pasokan minyak global.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.