OctaFx

iklan

Bagaimana Harga Emas Bisa Naik Lagi?

Tulisan ini akan menjelaskan tentang kemungkinan harga emas bisa naik lagi setelah harga si logam kuning ini mengalami kemerosotan pada akhir tahun 2015 lalu.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Merosotnya harga emas hingga akhir tahun lalu, telah membuat para investor beranggapan bahwa logam mulia ini telah kehilangan daya tariknya. Kenaikan suku bunga AS tahun lalu dan pengumuman bahwa the Fed akan terus melanjutkan naiknya bunga acuan selama tahun ini juga membebani bullion. Namun, tak disangka di awal tahun baru 2016 ini emas kembali menguat.

Emas

Harga emas di AS menutup tahun 2015 dengan penurunan nilai jual sebesar 10.42 persen; sehingga ini berarti harga emas telah turun tiga tahun berturut-turut. Kondisi tersebut menyebabkan setimen harga di tahun 2016 menjadi lemah dan banyak para investor emas yang menjadi tidak optimis. Tapi, setelah lonjakan harga yang terjadi awal tahun baru ini, dana yang diperdagangkan di bursa emas mencatatkan arus masuk besar-besaran dan menunjukkan pergeseran sikap para investor terhadap logam mulia.

Patut diingat bahwa 90 persen permintaan emas fisik datang dari luar Amerika Serikat dan sebagian besar di pasar negara berkembang seperti China dan India. Harga emas di luar AS malah cenderung stabil atau meningkat, seperti yang terjadi di Rusia, Brazil, Peru, Afrika Selatan, Canada dan Mexico. Diagram ini menunjukkan perbandingan antara besarnya perubahan harga emas dalam Dolar AS dibandingkan dengan harga emas dalam mata uang lain.

Emas Dalam Dolar Terhadap Mata Uang Lain

Ini artinya, harga emas "turun" hanyalah kiasan dari menguatnya Dolar AS, padahal realitanya, harganya tidak sungguh-sungguh merosot. Minat akan emas pun masih tinggi.

Tahun lalu, permintaan emas dari China sangatlah besar; tercatat 2,596.4 ton emas atau sebanding dengan 80 persen dari total produksi global tahun 2015, telah ditarik dari Shanghai Gold Exchange. Sementara Bank Sentral China (PBoC) dilaporkan telah menambah 19 ton emas, yang jika ditotal menjadi 1,762 ton emas pada bulan Desember. Analis logam mulia Lewrie Williams menyatakan bahwa angka jumlah cadangan emas tersebut "terlalu kecil"; artinya kemungkinan Bank Setral China memiliki lebih banyak daripada yang dilaporkan.
 

Kesampingkan Tingkat Suku Bunga, Penggerak Utama Emas Adalah Suku Bunga Riil

Selain itu, meskipun kenaikan suku bunga AS berhubungan dengan emas, namun bagi investor di Amerika Serikat sendiri hal itu bukanlah faktor paling dominan. Tentu saja, naiknya tingkat bunga AS cenderung membuat investasi logam mulia menjadi kurang menarik, karena tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Akan tetapi penggerak harga emas yang lebih besar adalah suku bunga riil. Ketika tingkat suku bunga riil (real rates) jatuh ke angka negatif, secara historis harga emas semakin menguat.

Disini, perhitungan suku bunga riil di AS didapat dengan mengurangi Indeks harga konsumen (CPI) dari bunga obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun (10 years Treasury Yield) dengan. Berdasarkan data 6 Januari 2016, imbal hasil 10y treasury yield tercatat pada 2.18 persen, sementara CPI y-o-y AS bulan November 0.50 persen (CPI bulan Desember masih akan dirilis hari Rabu pekan ini). Dengan demikian diperoleh suku bunga riil 1.69 persen, yang mana ini adalah angin segar bagi emas. Inilah kenapa akan lebih baik bagi emas kalau inflasi meningkat, karena dengan demikian meningkatlah kemungkinan harga emas akan reli.

 

Apalagi, peran emas sebagai salah satu alat diversifikasi aset masih tetap relevan. Sebagaimana disebutkan dalam hasil penelitian World Gold Council (WGC) baru-baru ini, "Dalam jangka panjang, membiarkan 2-10 persen dari portofolio investor dalam bentuk emas bisa meningkatkan performa portofolio."

 

Indeks Purchasing Manager (PMI) Sebagai Indikasi Awal

Akan tetapi, harga emas mendapat tantangan dari laporan manufaktur yang lemah di seluruh dunia. PMI China turun menjadi 48.2 bulan Desember lalu, atau melambat 0.4 poin dari laporan bulan November. Sektor manufaktur terbesar di Asia tersebut menghabiskan sebagian besar tahun 2015 dalam kondisi kontraksi. PMI China berada di atas level 50.0 hanya sekali tahun lalu, yaitu pada bulan Februari. Sebagai informasi, angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, sementara kurang dari 50 menandakan terjadi kontraksi.

Walaupun perlambatan di China secara terang-terangan masih terjadi, kekhawatiran tersebut nampaknya terlalu berlebihan. Dilansir dari mining.com, salah seorang konsultan dari McKinsey & Company's, Gordon Orr menyatakan bahwa, "Perekonomian China masih masif, sebesar potensi peluang yang dimilikinya".

Namun perlambatan tak hanya terjadi di China. Aktivitas manufaktur di seluruh dunia mengalami kemunduran di bulan Desember 2015. Menurut JP Morgan, PMI manufaktur global merosot menjadi 50.9 dari 51.2 bulan sebelumnya. Sektor tersebut masih dalam kondisi ekspansi, namun hanya sedikit sekali.

PMI Manufaktur Global

 

Menatap Tahun Baru 2016

Jadi, bagaimana harga emas bisa naik lagi?

Kekhawatiran tentang harga emas masih akan terus berlangsung selama kita belum melihat adanya sinkronisasi pertumbuhan global dengan peningkatan PMI. Namun diluar itu, program stimulus lanjutan di seluruh dunia dalam tahun ini bisa berpengaruh positif pada emas karena ditujukan untuk menggenjot inflasi. Tak ketinggalan, berbagai ketegangan geopolitik di awal tahun mengindikasikan emas masih dipandang sebagai aset safe-haven.

Setelah mengalami sesi trading positif selama 4-8 Januari 2016, emas kembali diperdagangkan mendekati kisaran 1,100 Dolar AS per troy ons. Rally tersebut membuktikan bahwa emas masih mempertahankan statusnya sebagai salah satu aset safe-haven di antara para investor. Kenaikan harga emas belakangan ini didukung jatuhnya pasar saham China, pengujian bom Hidrogen di Korea Utara dan meningkatnya ketegangan antara Saudi Arabia-Iran. Selain itu, mari kita lihat prediksi harga emas di tahun 2016.

 


Artikel ini disadur dari catatan Frank Holmes, CEO U.S. Global Investors, yang dipublikasikan tanggal 17 Januari 2016.

M Septian mulai berkecimpung di dunia forex sejak 2015. Setelah itu, menyelami berbagai instrumen trading dan berlanjut menjadi jurnalis yang meliput seputar forex dan komoditas di Seputarforex mulai 2016.

23 Juli 2019 06:32

1,422.47 ( 1.17%)

Support : 1,399.07
Pivot : 1,408.58
Resistance : 1,415.56

100% Buy 100% Buy 100% Buy

100% Buy
Selengkapnya