Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Karet Dunia

Secara umum, ada tujuh faktor yang mempengaruhi harga karet dunia. Faktor-faktor tersebut bersumber dari industri karet sendiri maupun dari aspek eksternal.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Sebagai salah satu komoditas lunak yang banyak diperdagangkan di pasar internasional, harga karet sering menjadi sorotan. Apalagi, karet termasuk salah satu komoditas ekspor Indonesia, yang kenaikan dan penurunan harganya menentukan pendapatan banyak sekali petani. Harga karet lokal pun tak bisa lepas dari dinamika harga karet dunia. Akan tetapi, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi harga karet dunia tersebut?

 

Faktor Yang Mempengaruhi Harga Karet Dunia

 

Secara umum, ada tujuh faktor yang mempengaruhi harga karet dunia. Faktor-faktor tersebut bisa bersumber dari industri karet sendiri maupun dari aspek eksternal. Berikut sekilas ulasan ketujuh faktor penting ini:

 

1. Permintaan dan Penawaran di Pasar Karet Internasional (Supply and Demand)

Dalam hal ini, perlu dipahami bahwa produksi karet dunia tidak bertumpu pada satu negara saja. Per 2016, ada tiga negara besar yang mengendalikan suplai karet, yaitu Thailand, Indonesia, dan Vietnam; dengan Thailand dan Indonesia menguasai sekitar 60% produksi karet dunia. Sebelumnya, Malaysia termasuk produsen karet utama dengan pangsa mencapai 32% di tahun 1988. Akan tetapi, belakangan ini negara yang beribukota di Kuala Lumpur tersebut menggeser fokus ke investasi nonagri, sehingga pangsanya hanya 6% di tahun 2016.

Sedangkan dalam hal permintaan atas karet, terutama bersumber dari China, disusul oleh negara-negara Asia Tenggara, kawasan Asia Selatan, Eropa Barat, dan Amerika Serikat.

 

Konsumsi Karet Dunia Tahun 2016

 

Sebagaimana dapat dilihat pada data dari IHS Markit di atas, China mendominasi lebih dari sepertiga permintaan atas karet global. Hal ini membuat kondisi ekonomi dan regulasi China berpengaruh sangat kuat terhadap pasar karet dunia.

 

2. Produksi, Konsumsi, serta Regulasi China Mengenai Komoditas Karet

China merupakan negara konsumen karet terbesar dunia. China juga memproduksi karet sendiri; tetapi kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan domestiknya karena statusnya sebagai produsen ban nomor dua dunia. Oleh karena itu, perubahan-perubahan dalam penggunaan karet di dalam negeri China dapat berpengaruh terhadap harga karet dunia.

Termasuk diantara perubahan-perubahan itu adalah produksi karet, konsumsi karet oleh pabrikan China, serta regulasi seperti peraturan impor dan pajak. Saat ini, China cenderung membuka pintu lebar untuk impor karet sebagai bahan baku. Akan tetapi, bilamana tiba waktunya peraturan impor diperketat dan atau pajak atas karet dan olahannya dinaikkan, maka pasar karet dunia dapat terguncang.

 

3. Harga Karet di Pasar Berjangka Internasional

Karet Alami (Natural Rubber) telah menjadi salah satu komoditas yang diperdagangkan di pasar berjangka (futures). Transaksi karet berjangka dilakukan di Tokyo Commodity Exchange (TOCOM), Japan Kobe Rubber Exchange (Kobe), RAS Commodity Exchange Singapore, dan Kuala Lumpur Commodity Exchange (KLCE).

Diantaranya, transaksi di Tokyo dan Singapura mencakup pangsa pasar terbesar, sehingga harga karet dunia cenderung berkiblat pada harga yang dihasilkan dalam perdagangan di kedua bursa tersebut.

 

4. Produksi dan Penggunaan Karet Sintetis

Karet Alami diperoleh dari getah pohon karet. Namun, seiring dengan perkembangan jaman maka kini ada pula Karet Sintetis yang dibuat dari polimer turunan minyak.

Dalam pembuatan berbagai produk, Karet Alami dan Karet Sintetis merupakan substitusi, sehingga apabila penggunaan Karet Sintetis meningkat, maka akan mengurangi permintaan atas Karet Alami. Di sisi lain, harga Karet Sintetis dipengaruhi pula oleh harga minyak yang menjadi bahan baku asalnya, dan harga Karet Sintetis ini dapat pula mempengaruhi harga Karet Alami.

Umpamanya dalam kondisi harga minyak murah, maka biaya produksi Karet Sintetis bisa dianggap relatif lebih ekonomis ketimbang Karet Alami.

 

5. Perkembangan Industri Pengolahan Karet, Misalnya Ban dan Industri Otomotif

Tak dapat dielakkan kalau konsumen, alias pengguna utama, komoditas karet adalah industri ban dan otomotif. Oleh karena itu, harga karet dapat dipengaruhi oleh perkembangan industri, termasuk permintaan atas kendaraan bermotor, regulasi di bidang otomotif, tren penggunaan karet sintetis sebagai bahan baku ban, dan lain sebagainya.

 

6. Faktor-faktor Alam

Pertumbuhan pohon karet dan perolehan getah karet setiap musim panen akan tergantung pada kondisi alam. Misalnya suhu udara, curah hujan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, hasil panen bisa bervariasi setiap musimnya. Sesuai dengan hukum penawaran, maka harga karet dunia pun dapat dipengaruhi secara tidak langsung oleh perubahan-perubahan tersebut.

 

7. Kurs Valas

Di pasar internasional, secara umum, harga komoditas memiliki hubungan berlawanan dengan kurs Dolar AS. Kenapa? Karena sebagian besar komoditas diperdagangkan di pasar internasional menggunakan perantaraan mata uang Dolar AS. Sehingga, jika kurs Dolar AS menguat, maka komoditas-komoditas tersebut akan menjadi lebih mahal bagi pengguna mata uang berbeda.

Dalam hal karet, sebenarnya kurs Dolar AS tak begitu berpengaruh secara langsung, karena AS bukan produsen maupun konsumen terbesar. Pusat bursa perdagangan berjangka untuk komoditas karet pun bukan berada di negeri Paman Sam. Akan tetapi, apabila penguatan kurs Dolar AS itu begitu berpengaruh hingga menjatuhkan nilai tukar mata uang lainnya, maka tentu akan berpengaruh terhadap harga karet dunia juga. Apalagi, bila AS kelak berkembang menjadi salah satu konsumen karet terbesar dunia.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.